- -->

Notification

×

Iklan

Iklan

Karhutla Ancam Perkebunan Warga Labuhan Pering dan Sungai Benu, Masyarakat Berjibaku Cegah Api Meluas

Minggu, 11 Oktober 2026 | 10/11/2026 12:35:00 PM WIB | 0 Views Last Updated 2026-10-11T05:35:25Z
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda wilayah Desa Labuhan Pering dan Desa Sungai Benu, Kecamatan Sadu, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, mengancam perkebunan masyarakat. Hingga Minggu (11/10/2026), warga bersama pihak terkait masih berjibaku melakukan pemadaman di tengah keterbatasan sumber air akibat kemarau berkepanjangan. Masyarakat pun terpaksa berswadaya menyewa alat berat untuk membuat sekat api serta melakukan penjagaan selama 24 jam demi mencegah kobaran api merembet dan merusak perkebunan kelapa serta pinang yang menjadi sumber penghidupan mereka.


Tanjung Jabung Timur, Liputan12.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda wilayah Desa Labuhan Pering dan Desa Sungai Benu, Kecamatan Sadu, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi, mengancam lahan perkebunan milik masyarakat. Hingga Minggu, 11 Oktober 2026, upaya pemadaman masih menghadapi berbagai kendala, terutama sulitnya memperoleh sumber air akibat kemarau berkepanjangan.


Masyarakat bersama pemerintah dan pihak terkait terus berupaya mengendalikan kobaran api agar tidak semakin meluas ke area perkebunan warga. Namun, kondisi lahan yang kering serta terbatasnya ketersediaan air membuat proses pemadaman berlangsung sulit.


Upaya pembuatan sumur menggunakan alat berat jenis ekskavator pun belum mampu menyediakan sumber air secara maksimal. Kondisi tersebut semakin menyulitkan masyarakat yang berjuang memadamkan api sekaligus melindungi lahan perkebunan mereka dari ancaman kebakaran.





Warga Swadaya Membuat Sekat Api


Menghadapi ancaman karhutla yang berpotensi merembet ke lahan perkebunan, masyarakat setempat mengambil langkah antisipasi secara swadaya. Warga menyewa alat berat jenis ekskavator untuk membuat sekat api sebagai pembatas antara kawasan hutan yang terbakar dan lahan perkebunan milik masyarakat.


Pembuatan sekat api tersebut diharapkan dapat memperlambat atau mencegah perambatan api menuju perkebunan warga. Meski demikian, langkah itu belum sepenuhnya menjamin lahan masyarakat terbebas dari ancaman kebakaran, terlebih ketika kondisi cuaca masih kering dan sumber air sulit diperoleh.


Untuk mengantisipasi kemungkinan api menembus sekat yang telah dibuat, warga melakukan pemantauan secara bergiliran selama 24 jam. Mereka berjaga di sekitar area rawan kebakaran dengan memanfaatkan alat pemadam sederhana, termasuk alat semprot manual, serta peralatan lain yang tersedia.


Upaya tersebut menunjukkan besarnya kekhawatiran masyarakat terhadap dampak karhutla yang sewaktu-waktu dapat meluas dan mengancam sumber penghidupan mereka.





Petani Kelapa dan Pinang Terancam Merugi


Karhutla tidak hanya menimbulkan ancaman terhadap kelestarian lingkungan, tetapi juga berpotensi memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari sektor perkebunan.


Di wilayah tersebut, perkebunan kelapa dan pinang menjadi salah satu sumber mata pencaharian warga. Apabila api merembet dan membakar tanaman perkebunan, masyarakat berisiko mengalami kerugian, baik akibat kerusakan tanaman maupun terganggunya hasil produksi yang selama ini menopang kebutuhan keluarga.


Selain itu, upaya pencegahan yang dilakukan secara mandiri turut membutuhkan tenaga, waktu, dan biaya. Penyewaan alat berat untuk membuat sekat api menjadi salah satu bentuk pengeluaran yang harus ditanggung masyarakat demi menyelamatkan lahan perkebunan mereka.


Situasi ini menambah beban warga yang kini harus berjibaku menghadapi kebakaran di tengah keterbatasan sarana dan sulitnya mendapatkan air.


Masyarakat Harapkan Perhatian Pemerintah


Masyarakat Desa Labuhan Pering dan Desa Sungai Benu berharap pemerintah serta instansi terkait memberikan perhatian serius terhadap kondisi karhutla yang mengancam kawasan perkebunan mereka.


Warga mengharapkan adanya dukungan nyata berupa bantuan sarana pemadaman, ketersediaan sumber air, peralatan yang memadai, serta langkah penanganan yang dapat membantu mengendalikan api agar tidak semakin meluas.


Bantuan tersebut dinilai penting untuk meringankan beban masyarakat yang selama ini berupaya melakukan pencegahan secara mandiri dengan kemampuan dan sumber daya yang terbatas.


Masyarakat berharap penanganan karhutla dapat dilakukan secara terpadu dan berkelanjutan, sehingga ancaman kebakaran tidak semakin meluas dan perkebunan yang menjadi sumber penghidupan warga dapat terlindungi.




Syam – Liputan12.com

×
Berita Terbaru Update