- -->

Notification

×

Iklan

Iklan

Rumah Rusak Berat, Penyintas Gempa Dusun Malapoma Desa Rendu Butowe Masih Bertahan di Tenda Darurat

Sabtu, 12 September 2026 | 9/12/2026 12:14:00 PM WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-12T05:18:56Z
Hampir satu bulan pascagempa magnitudo 7,0 yang mengguncang Nagekeo pada 15 Agustus 2026, sebanyak 48 rumah warga di Dusun Malapoma, Desa Rendu Butowe, Kecamatan Aesesa Selatan, masih rusak berat dan 91 Kepala Keluarga terpaksa bertahan hidup di tenda-tenda darurat.


Nagekeo, Liputan12.com – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 yang berpusat di wilayah Nagekeo pada 15 Agustus 2026 lalu masih menyisakan duka dan kesulitan bagi masyarakat terdampak. Hingga hampir satu bulan pascagempa, sejumlah warga Dusun Malapoma, Desa Rendu Butowe, Kecamatan Aesesa Selatan, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih memilih bertahan di tenda-tenda darurat karena rumah mereka mengalami kerusakan cukup parah.


Berdasarkan informasi yang dihimpun, sekitar 48 rumah warga di Dusun Malapoma dilaporkan mengalami kerusakan berat. Sementara itu, sejumlah rumah warga di kampung lainnya juga mengalami kerusakan dengan kondisi berbeda, mulai dari retak hingga rusak ringan.


Kondisi tersebut membuat sebagian warga belum berani kembali menempati rumah mereka. Selain faktor kerusakan bangunan, kekhawatiran terhadap keamanan dan kondisi tempat tinggal juga menjadi alasan warga tetap berada di lokasi pengungsian sementara.





Dusun Malapoma sendiri tercatat memiliki sekitar 91 kepala keluarga (KK). Dengan kondisi tersebut, kebutuhan warga selama berada di pengungsian masih menjadi perhatian, terutama kebutuhan dasar untuk menunjang kehidupan sehari-hari.


Hasil konfirmasi media ini pada Sabtu (12/9/2026), salah seorang warga terdampak, Leonardus, mengatakan bahwa saat gempa terjadi terdapat sejumlah warga yang mengalami luka ringan.


Menurutnya, setelah bencana berlalu, masyarakat masih membutuhkan dukungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bantuan yang paling diharapkan antara lain berupa beras, bahan makanan, obat-obatan serta kebutuhan lain yang dapat membantu warga selama menjalani masa pemulihan.


“Kondisi masyarakat masih membutuhkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujar Leonardus saat dikonfirmasi.





Ia berharap perhatian terhadap warga terdampak gempa tetap berlanjut, sehingga masyarakat dapat secara perlahan memulihkan kondisi kehidupan mereka dan kembali menjalankan aktivitas seperti sebelum bencana.


Leonardus yang juga merupakan salah satu warga terdampak mengungkapkan bahwa kebutuhan di lokasi pengungsian masih cukup banyak. Warga yang tinggal di tenda darurat membutuhkan terpal serta berbagai perlengkapan lainnya untuk menunjang kebutuhan selama berada di tempat pengungsian.


Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemulihan pascagempa tidak hanya berkaitan dengan perbaikan rumah yang mengalami kerusakan, tetapi juga pemenuhan kebutuhan dasar warga yang masih terdampak.




Warga berharap bantuan dan perhatian dari berbagai pihak dapat terus mengalir kepada masyarakat Dusun Malapoma dan wilayah lain yang terdampak gempa. Bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan beban warga sekaligus mendukung proses pemulihan hingga masyarakat benar-benar dapat kembali menjalani kehidupan secara normal.


Hingga berita ini diturunkan, kebutuhan warga di tenda-tenda pengungsian masih menjadi perhatian, khususnya kebutuhan pangan, obat-obatan, terpal, serta perlengkapan penunjang lainnya.



Kontributor: Yohanes Sinding

Koordinator Wilayah NTT

×
Berita Terbaru Update