- -->

Notification

×

Iklan

Iklan

Bukan Sekadar Sembako, Suster Putri Kasih Pulihkan Trauma Anak Korban Gempa Pong Lengor

Rabu, 09 September 2026 | 9/09/2026 10:56:00 AM WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-09T04:01:10Z

 

Tidak hanya membawa sembako, Suster Putri Kasih bersama tim Caritas Keuskupan Ruteng hadir memulihkan trauma anak-anak korban gempa di Dusun Lujang dan Galang, Desa Pong Lengor, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai, NTT, Selasa (8/9/2026).

Manggarai, NTT, Liputan12.com — Luka akibat bencana tidak selalu terlihat. Di balik rumah-rumah warga yang terdampak gempa, tersimpan rasa takut dan trauma yang dapat membekas, terutama pada anak-anak.


Kondisi itulah yang menjadi perhatian Suster Putri Kasih bersama Sr. Adriana, Sr. Kristina DC (Daughters of Charity), Dokter Henny, serta relawan Caritas Keuskupan Ruteng saat mendatangi warga terdampak bencana di Desa Pong Lengor, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Selasa (8/9/2026).


Kehadiran mereka bukan sekadar membawa sembako untuk memenuhi kebutuhan dasar warga. Para suster, dokter dan relawan juga membawa misi yang tidak kalah penting, yakni memulihkan kesehatan sekaligus menyentuh luka psikologis anak-anak korban gempa melalui pelayanan kesehatan dan trauma healing.


Kegiatan tersebut berlangsung di Dusun Lujang dan Dusun Galang, dengan menyasar anak-anak maupun orang tua yang terdampak bencana.


Anak-anak diajak berbicara, berbagi cerita, belajar bersama dan mengikuti berbagai aktivitas pendampingan. Di sela kegiatan tersebut, pelayanan kesehatan gratis juga diberikan kepada warga.


Pendekatan penuh kasih menjadi bagian penting dalam proses pendampingan. Anak-anak tidak hanya membutuhkan makanan dan kebutuhan sehari-hari, tetapi juga membutuhkan rasa aman, perhatian dan seseorang yang bersedia mendengarkan ketakutan mereka setelah mengalami bencana.


Salah satu anak yang mendapat perhatian khusus adalah Fania Nahak. Berdasarkan pantauan di lapangan, Fania mengalami trauma cukup berat setelah gempa.


Melihat kondisi tersebut, para suster dan relawan memberikan perhatian secara khusus. Fania dirangkul, diajak berkomunikasi dan diberikan semangat agar perlahan mampu melewati pengalaman traumatis yang dialaminya.


Pendampingan tersebut menjadi pengingat bahwa pemulihan pascabencana tidak berhenti ketika bantuan logistik tiba. Ada luka batin yang juga harus dirawat, khususnya pada anak-anak yang mungkin belum mampu mengungkapkan ketakutan mereka dengan kata-kata.


Di Dusun Lujang, Desa Pong Lengor, terdapat sekitar 120 kepala keluarga (KK) yang terdampak bencana. Wilayah ini menjadi salah satu lokasi yang mendapatkan layanan trauma healing dan pelayanan kesehatan dari para relawan.


Bagi warga, kedatangan para suster, dokter dan Caritas Keuskupan Ruteng menjadi bentuk kepedulian yang memberikan harapan di tengah situasi sulit.


Warga korban gempa pun menyampaikan terima kasih atas perhatian dan uluran tangan yang diberikan. Mereka berharap misi kemanusiaan tersebut tidak berhenti pada satu kali kunjungan, tetapi terus berlanjut hingga masyarakat benar-benar mampu bangkit dan menjalani kehidupan secara normal kembali.


Sembako membantu warga bertahan. Pelayanan kesehatan membantu memulihkan tubuh. Namun perhatian dan kasih sayang membantu anak-anak kembali merasa aman.


Di Pong Lengor, misi kemanusiaan itu kini menyentuh keduanya: memenuhi kebutuhan warga sekaligus berusaha menyembuhkan luka yang tidak kasatmata.



Kontributor: Yohanes Sinding

Manggarai, NTT

×
Berita Terbaru Update