Semarang, Liputan12.com — Kehadiran Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda dalam pembukaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXXI di Lapangan Pancasila, kawasan Simpang Lima, Kota Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (12/9/2026), mencuri perhatian masyarakat yang hadir.
Di tengah suasana pembukaan ajang keagamaan berskala nasional tersebut, sosok Sherly Tjoanda menjadi salah satu figur yang cukup mudah dikenali oleh masyarakat. Bukan hanya karena dirinya merupakan kepala daerah, tetapi juga lantaran aktivitasnya di media sosial membuat namanya cukup familiar bagi masyarakat di berbagai daerah.
Sejumlah warga yang berada di sekitar lokasi terlihat antusias ketika mengetahui keberadaan Gubernur Maluku Utara tersebut. Tidak sedikit yang kemudian mendekat untuk menyapa sekaligus meminta kesempatan berfoto bersama.
Sherly tampil mengenakan batik bermotif dengan dominasi warna kuning keemasan. Penampilannya tersebut semakin menarik perhatian ketika ia memasuki area utama pelaksanaan pembukaan MTQ Nasional XXXI.
Setibanya di lokasi, Sherly disambut sejumlah pejabat dari Maluku Utara, di antaranya Sekretaris Daerah Maluku Utara Samsuddin A. Kadir, Kepala Biro Umum Setda Maluku Utara Laksono Dewanto, serta Wakil Ketua Komisi IV DPRD Maluku Utara Muhammad Abusama.
Namun, setelah berada di tengah masyarakat, perhatian tidak hanya tertuju pada rombongan pejabat yang menyambutnya.
Beberapa warga yang mengenali Sherly langsung menghampiri. Permintaan untuk melakukan swafoto pun mulai berdatangan.
Sherly terlihat melayani permintaan warga tersebut dengan ramah sebelum rangkaian acara pembukaan dimulai. Momen tersebut berlangsung secara spontan, tanpa mengurangi suasana khidmat dan semarak pelaksanaan MTQ Nasional.
Antusiasme masyarakat ternyata tidak berhenti sebelum acara dimulai.
Setelah seluruh rangkaian pembukaan selesai, sejumlah warga dan kafilah kembali meminta foto bersama ketika Sherly berjalan meninggalkan panggung utama menuju gerbang keluar.
Sepanjang perjalanan menuju kendaraan, beberapa orang tampak menunggu kesempatan untuk mengabadikan momen bersama gubernur perempuan Maluku Utara tersebut.
Satu per satu permintaan swafoto dilayani. Situasi itu membuat perjalanan Sherly menuju kendaraan berlangsung cukup lama karena harus berhenti beberapa kali untuk memenuhi permintaan masyarakat.
Fenomena tersebut menjadi gambaran bagaimana popularitas seorang kepala daerah dapat berkembang melampaui wilayah administratif yang dipimpinnya, terlebih ketika komunikasi publik dilakukan secara aktif melalui media sosial.
Bagi sebagian masyarakat yang hadir dalam MTQ Nasional XXXI, Sherly bukan lagi sekadar nama seorang gubernur dari wilayah Indonesia bagian timur. Aktivitasnya di berbagai platform digital membuat sosoknya relatif mudah dikenali.
Salah seorang warga Semarang, Andin, mengaku sudah mengenal Sherly sebelum bertemu secara langsung di lokasi MTQ Nasional.
Menurut Andin, dirinya beberapa kali melihat aktivitas Sherly melalui media sosial, terutama TikTok dan Instagram.
“Beliau FYP terus di TikTok maupun Instagram,” kata Andin.
Menurutnya, popularitas Sherly di media sosial tidak hanya berkaitan dengan aktivitas pribadi maupun penampilan di ruang publik. Berbagai kegiatan pemerintahan dan program pembangunan yang disampaikan melalui platform digital juga membuat masyarakat dari luar Maluku Utara dapat mengetahui apa yang dilakukan pemerintah daerah tersebut.
Andin menilai, sejumlah program yang dipublikasikan tersebut menarik perhatian karena berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat.
“Programnya bagus, langsung menyentuh masyarakat. Seperti rumah untuk warga dan infrastruktur jalan jembatan. Itu kami lihat di berita-berita maupun media sosial,” ujarnya.
Aktivitas komunikasi publik melalui media sosial memang menjadi salah satu cara Sherly menyampaikan berbagai kegiatan pemerintahan kepada masyarakat.
Melalui platform digital, informasi mengenai kegiatan pemerintah daerah dapat disebarluaskan dengan lebih cepat dan menjangkau masyarakat yang lebih luas. Tidak hanya warga Maluku Utara, masyarakat dari daerah lain pun dapat mengikuti berbagai perkembangan tersebut.
Media sosial juga menjadi ruang interaksi antara pemerintah dan masyarakat. Aspirasi, tanggapan, maupun masukan dari warga dapat muncul melalui kolom komentar, pesan, maupun berbagai bentuk interaksi digital lainnya.
Pola komunikasi seperti itu membuat aktivitas seorang kepala daerah tidak hanya dapat disaksikan melalui kegiatan resmi pemerintahan, tetapi juga melalui ruang digital yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari.
Dalam konteks tersebut, kehadiran Sherly pada pembukaan MTQ Nasional XXXI di Semarang menjadi kesempatan tersendiri untuk bertemu langsung dengan masyarakat dari berbagai daerah.
Pertemuan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa popularitas yang dibangun melalui komunikasi digital dapat berlanjut dalam interaksi secara langsung.
Sementara itu, pembukaan MTQ Nasional XXXI di Lapangan Pancasila, Simpang Lima, Semarang, secara resmi dilakukan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno.
Prosesi pembukaan ditandai dengan pemukulan tifa. Dalam kesempatan tersebut, Pratikno didampingi Menteri Agama Nasaruddin Umar, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Gubernur Jawa Tengah, serta Wali Kota Semarang.
MTQ Nasional XXXI menjadi salah satu agenda nasional yang mempertemukan kafilah dari berbagai provinsi di Indonesia. Selain menjadi ajang perlombaan dalam bidang seni baca dan pemahaman Al-Qur'an, kegiatan tersebut juga menjadi momentum mempererat silaturahmi dan kebersamaan masyarakat dari berbagai daerah.
Di tengah kemeriahan pembukaan itulah, kehadiran Sherly Tjoanda menjadi perhatian tersendiri.
Antusiasme warga dan kafilah yang meminta swafoto menunjukkan bahwa sosok Gubernur Maluku Utara tersebut telah cukup dikenal di luar daerah yang dipimpinnya.
Bagi warga yang berhasil mendapatkan foto bersama, momen tersebut bukan sekadar dokumentasi, tetapi juga menjadi pengalaman tersendiri saat menghadiri salah satu agenda keagamaan nasional di Kota Semarang.
Kehadiran Sherly di MTQ Nasional akhirnya tidak hanya menjadi bagian dari kehadiran kepala daerah dalam agenda nasional, tetapi juga menghadirkan interaksi sederhana dengan masyarakat melalui sapaan, senyum, dan swafoto yang berlangsung secara spontan.
(Redaksi)
