- -->

Notification

×

Iklan

Iklan

Bukan Sekadar Berebut Juara, LT I Pramuka SDN Sruni 2 Gembleng Mental dan Kemandirian Siswa

Minggu, 13 September 2026 | 9/13/2026 10:17:00 PM WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-13T15:17:10Z
Lomba Tingkat I (LT I) Pramuka Penggalang di SDN Sruni 2 Kwarran Gedangan, Sidoarjo, pada 12–13 September 2026, tidak sekadar menjadi ajang berebut juara, melainkan wahana pembentukan mental, kemandirian, dan karakter siswa melalui pembelajaran di luar kelas.


Sidoarjo, Liputan12.com — Teriakan yel-yel terdengar bersahutan. Langkah kaki peserta bergerak cepat mengikuti instruksi. Di sela-sela keseriusan menyelesaikan tantangan, sesekali terdengar tawa dan sorak kegembiraan dari para peserta.


Suasana halaman pangkalan SDN Sruni 2 Kwarran Gedangan, Jalan Kramat No. 393, Gedangan, Sidoarjo, berubah menjadi ruang belajar terbuka yang penuh aktivitas selama akhir pekan, Sabtu-Minggu, 12–13 September 2026.


Bukan suasana belajar yang kaku dengan bangku dan papan tulis, melainkan pembelajaran melalui pengalaman langsung. Para peserta didik mengikuti Lomba Tingkat I (LT I) Pramuka Penggalang Kwarran Gedangan, yang dirancang untuk menguji keterampilan sekaligus membentuk karakter siswa melalui kegiatan yang edukatif, kompetitif, dan menyenangkan.




Mengusung tema “Bersama Persami Kita Menuju Pribadi yang Berbudi, Mandiri dan Berani”, kegiatan tersebut tidak hanya diarahkan untuk menentukan siapa yang menjadi juara.


Lebih dari itu, LT I menjadi sarana bagi peserta didik untuk belajar disiplin, membangun keberanian, meningkatkan kemandirian, memperkuat kekompakan, serta membiasakan diri bekerja sama dalam menyelesaikan berbagai persoalan.


Beragam perlombaan dan tantangan disiapkan untuk memberikan pengalaman kepada siswa agar mampu menerapkan materi kepramukaan yang selama ini mereka peroleh dalam kegiatan latihan di sekolah.




Bagi Kepala Sekolah SDN Sruni 2 sekaligus Ketua Majelis Pembimbing Gugus Depan (Kamabigus), Ariyani Purwaningsih, S.Pd., LT I bukan sekadar agenda tahunan yang dilaksanakan untuk memenuhi program kegiatan Pramuka.


Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi salah satu cara untuk melihat sejauh mana proses pembelajaran kepramukaan yang diberikan kepada siswa benar-benar dapat dipahami dan diterapkan ketika mereka menghadapi situasi nyata.


“Tujuan utamanya tentu ingin mengetahui kompetensi adik-adik di kepramukaan setelah berlatih di sekolah. Jadi, apa yang diperoleh di sekolah itu kita lombakan,” ujar Ariyani.


Dengan demikian, siswa tidak hanya dituntut menghafalkan teori. Mereka harus mampu mempraktikkan keterampilan, mengambil keputusan, berkomunikasi dengan anggota regu, membagi tugas, menjaga kekompakan, sekaligus menyelesaikan tantangan dalam batas waktu yang telah ditentukan.


Beragam Keterampilan Diuji


Rangkaian kegiatan LT I berlangsung semarak dengan berbagai materi perlombaan yang mencakup keterampilan kepramukaan, akademik, kreativitas, ketangkasan hingga kecakapan praktis.


Koordinator Satuan sekaligus panitia penyelenggara LT I, Suliasih, S.Pd., menjelaskan bahwa sedikitnya terdapat lima kelompok keterampilan yang dikompetisikan selama kegiatan.


Pada bidang keterampilan kepramukaan, peserta diuji melalui semaphore, Morse, sandi, Peraturan Baris-Berbaris (PBB), tali-temali, pionering, KIM hingga sketsa panorama.


Materi tersebut tidak hanya membutuhkan kemampuan mengingat, tetapi juga ketelitian, kecepatan, koordinasi dan kerja sama antaranggota regu.


Kemampuan akademik dan komunikasi siswa juga mendapat perhatian melalui sejumlah perlombaan seperti Rangking 1, membaca puisi dan pidato.


Sementara kreativitas peserta dituangkan melalui hasta karya, melukis, dance semaphore, yel-yel dan jingle.


Tidak berhenti pada kemampuan berpikir dan berkarya, ketangkasan fisik juga mendapat porsi tersendiri. Peserta mengikuti berbagai permainan dan tantangan seperti PBB, dart, lempar bola serta lempar sendok kelereng.


Adapun kemampuan praktis dalam kehidupan sehari-hari diuji melalui kegiatan memasak dan menata meja makan.


Ragam materi tersebut sengaja disusun agar siswa mendapatkan pengalaman yang lebih lengkap. Mereka tidak hanya belajar mengenai kepramukaan dari sisi teori, tetapi juga berlatih menghadapi situasi yang membutuhkan ketenangan, ketelitian, kreativitas dan kerja sama.


“LT I ini menjadi kesempatan bagi anak-anak untuk mempraktikkan secara langsung apa yang selama ini mereka pelajari dan latih di sekolah. Jadi bukan hanya tahu teorinya, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kegiatan nyata,” kata Suliasih.


Menurut dia, proses selama kegiatan justru menjadi bagian yang sangat penting. Sebab, keberhasilan LT I tidak semata-mata diukur dari jumlah piala atau medali yang berhasil diperoleh peserta.


Anak yang belum berhasil menjadi juara tetap mendapatkan pengalaman berharga. Mereka belajar menerima hasil, melakukan evaluasi dan kembali berusaha.


Sementara bagi peserta yang berhasil meraih prestasi, kemenangan menjadi pelajaran bahwa sebuah keberhasilan membutuhkan kerja keras, kedisiplinan, kekompakan dan sportivitas.


Kebersamaan Menjadi Bagian dari Prestasi


Di tengah padatnya rangkaian kegiatan, Suliasih juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung pelaksanaan LT I.


Mulai dari jajaran guru, penjaga sekolah, pembina Pramuka, komite sekolah hingga seluruh pihak yang terlibat sejak tahap persiapan sampai kegiatan berlangsung.


“Saya sangat berterima kasih atas kerja sama dan dukungan dari semua pihak, sehingga acara LT I dapat terlaksana dengan baik. Bagi kami, kebersamaan dalam seluruh proses ini adalah prestasi yang terbaik,” tuturnya.


Pernyataan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa kegiatan Pramuka tidak hanya membangun kemampuan individu siswa.


Ada nilai kebersamaan yang juga menjadi bagian penting. Siswa belajar bahwa sebuah kegiatan tidak mungkin berjalan baik tanpa adanya kerja sama antara peserta didik, guru, pembina, orang tua dan seluruh unsur sekolah.


Semangat gotong royong itu terlihat sejak persiapan hingga pelaksanaan. Setiap pihak memiliki peran masing-masing untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan dengan tertib dan lancar.


Membentuk Karakter di Luar Kelas


Sementara itu, Ariyani menilai pendidikan kepramukaan memiliki ruang yang besar dalam pembentukan karakter peserta didik.


Terlebih, anak-anak saat ini tumbuh di tengah perkembangan zaman yang begitu cepat. Karena itu, pendidikan tidak cukup hanya memberikan pengetahuan akademik, tetapi juga perlu membangun sikap, mental dan kemampuan sosial.


Kegiatan di luar kelas seperti Pramuka dinilai dapat menjadi media untuk membiasakan siswa menghadapi tantangan secara langsung.


Dalam LT I, peserta didik diarahkan untuk disiplin mengikuti kegiatan, bertanggung jawab terhadap tugas, menghargai teman, menjaga kekompakan serta berkompetisi secara sehat.


Nilai keagamaan juga tetap menjadi bagian dari pembiasaan selama kegiatan.


“Walaupun kami berkegiatan di luar kelas, tetap anak-anak kita pastikan untuk menjalankan ibadah sesuai dengan agamanya, memahami nilai kerja keras, tanggung jawab, kemandirian, kekompakan, dan juga berkompetisi dengan sehat,” jelas Ariyani.


Ia mengaku terkesan melihat antusiasme peserta sejak tahap persiapan.


Menurutnya, semangat siswa sudah terlihat sebelum kegiatan dimulai. Mereka mempersiapkan berbagai perlengkapan, berlatih bersama regu dan mempersiapkan diri menghadapi materi yang akan dilombakan.


“Para peserta sangat antusias sekali. Saya melihat adik-adik mempersiapkan diri dengan sangat-sangat antusias untuk mengikuti kegiatan ini,” ungkapnya.


Juara Bukan Segalanya


Di balik semaraknya perlombaan, terdapat satu pesan yang terus ditekankan kepada peserta: juara bukan segala-galanya.


Trofi memang menjadi bentuk penghargaan atas prestasi. Namun, keberanian untuk tampil, kemampuan bekerja sama, kedisiplinan, kemandirian dan kemampuan menghargai orang lain merupakan bekal yang manfaatnya jauh lebih panjang.


LT I juga menjadi bagian dari proses penjaringan peserta terbaik untuk dipersiapkan menuju Lomba Tingkat II (LT II) di jenjang kwartir yang direncanakan berlangsung pada akhir September.


Karena itu, setiap tantangan yang diikuti peserta menjadi kesempatan untuk mengenali potensi sekaligus kekurangan masing-masing.


Siswa belajar bahwa kegagalan bukan akhir dari proses. Sebaliknya, kegagalan dapat menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki kemampuan sebelum menghadapi tantangan berikutnya.


Bagi Ariyani, tantangan terbesar pendidikan kepramukaan justru bukan ketika kegiatan berlangsung, melainkan bagaimana nilai-nilai yang diperoleh selama kegiatan dapat dibawa pulang dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.


Disiplin tidak hanya diperlukan ketika mengenakan seragam Pramuka. Kemandirian tidak hanya dibutuhkan ketika berada di perkemahan. Begitu pula keberanian tidak seharusnya berhenti setelah perlombaan selesai.


“Di Pramuka itu harapan kami tidak hanya seremonial, tidak hanya lambang dan simbol, baju dan segala atribut. Tapi lebih jauh lagi, Pramuka itu harus mendarah daging dalam implementasi kehidupan sehari-hari,” tegasnya.


Pesan tersebut menjadi salah satu inti dari pelaksanaan LT I SDN Sruni 2.


“Pramuka bagi saya bukan hanya kegiatan, tapi adalah pilihan hidup, jalan hidup untuk mengabdi kepada bangsa dan negara,” pungkas Ariyani.


Dua hari Persami akhirnya bukan hanya meninggalkan cerita tentang siapa yang berhasil membawa pulang trofi.


Di balik permainan, yel-yel, perlombaan dan berbagai tantangan yang diberikan, terdapat proses pendidikan karakter yang jauh lebih panjang.


Para siswa belajar untuk berani mencoba, mampu berdiri sendiri, menghargai orang lain, bekerja dalam kebersamaan, menerima kemenangan maupun kekalahan, serta bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan.


Sebab, pada akhirnya, prestasi terbaik tidak selalu tentang siapa yang berdiri paling tinggi di podium.


Prestasi yang sesungguhnya adalah ketika setiap peserta pulang membawa pengalaman baru, mental yang lebih kuat, rasa percaya diri yang tumbuh, serta nilai-nilai kepramukaan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.



Eka Aristiya Juni

×
Berita Terbaru Update