- -->

Notification

×

Iklan

Iklan

Dulu Buruh Angkut Bata, Ari Asal Sampang Kini Guncang Panggung D'Academy 8 dan Bikin Juri Haru

Jumat, 25 September 2026 | 9/25/2026 10:38:00 AM WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-25T03:38:09Z
Dulu tangannya terbiasa mengaduk semen dan memanggul bata di bawah terik matahari. Kini tangan yang sama menggenggam mikrofon di panggung megah D'Academy 8 dan membuat juri terisak haru. Itulah perjalanan Ari, pemuda 20 tahun asal Desa Tambelangan, Sampang, yang membuktikan mimpi tidak mengenal latar belakang.


Jakarta, Liputan12.com — Perjalanan hidup yang penuh perjuangan mengantarkan Ari, pemuda asal Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, ke salah satu panggung kompetisi dangdut terbesar di Indonesia, Dangdut Academy 8 (D'Academy 8).


Sosok yang sebelumnya menjalani kehidupan sederhana sebagai kuli bangunan dan buruh angkut bata tersebut kini mampu berdiri di atas panggung megah D'Academy 8. Penampilannya tidak hanya mencuri perhatian melalui kemampuan vokal, tetapi juga menghadirkan kisah perjuangan yang menyentuh hati.


Sebelum namanya dikenal melalui ajang pencarian bakat tersebut, Ari harus menjalani pekerjaan yang mengandalkan kekuatan fisik demi memenuhi kebutuhan hidup. Mengangkat bata, mengaduk semen, hingga membantu pekerjaan bangunan menjadi bagian dari kesehariannya.


Pekerjaan tersebut dijalani dengan penuh ketekunan. Bagi Ari, menjadi buruh bangunan bukanlah sesuatu yang harus disembunyikan. Justru dari pekerjaan itulah dirinya belajar tentang arti kerja keras, kesabaran, serta bagaimana mempertahankan mimpi di tengah keterbatasan.


Kini, suasana berbeda dirasakannya ketika berdiri di hadapan para juri dan penonton D'Academy 8. Dengan suara yang penuh penghayatan, Ari membawakan lagu dengan penuh perasaan hingga mampu menarik perhatian para juri.


Penampilannya semakin terasa emosional ketika Ari menceritakan perjalanan hidupnya. Dari kehidupan sebagai pekerja kasar hingga akhirnya mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan kemampuan bernyanyi di panggung nasional.


Kisah tersebut membuat suasana panggung menjadi haru. Apresiasi pun diberikan kepada Ari atas keberanian, kerja keras, dan konsistensinya dalam mengejar cita-cita. Momen tersebut bahkan membuat sejumlah juri dan orang-orang yang berada di panggung ikut larut dalam suasana emosional.


Ari sendiri mengaku tidak pernah merasa rendah diri dengan masa lalunya sebagai kuli bangunan maupun buruh angkut bata. Baginya, pekerjaan tersebut merupakan bagian penting dari perjalanan hidup yang justru membentuk mental dan karakternya.


"Saya tidak pernah malu pernah jadi kuli bangunan atau tukang angkut bata. Semua itu proses hidup yang menempa saya. Musik dangdut adalah impian saya, dan berada di panggung ini adalah berkah yang sangat besar," ujar Ari saat mengungkapkan rasa syukurnya.


Kisah Ari kemudian mendapat perhatian masyarakat, khususnya warga Sampang dan Madura. Banyak dukungan dan doa disampaikan agar pemuda tersebut mampu terus bertahan dan melangkah lebih jauh dalam kompetisi D'Academy 8.


Perjalanan Ari menjadi gambaran bahwa sebuah mimpi dapat tumbuh dari tempat dan keadaan yang sederhana. Dari panasnya lokasi bangunan, beratnya mengangkat bata, hingga gemerlap panggung televisi, semuanya menjadi bagian dari perjalanan yang kini sedang dilaluinya.


Bagi masyarakat Sampang, kehadiran Ari di panggung D'Academy 8 bukan sekadar soal kompetisi bernyanyi. Ada kebanggaan tersendiri ketika seorang anak daerah mampu membawa nama kampung halamannya ke panggung nasional.


Kini, harapan dan doa masyarakat terus mengiringi langkah Ari. Perjalanan masih panjang, dan setiap penampilannya menjadi kesempatan untuk membuktikan bahwa kerja keras, keberanian, serta kemauan untuk terus belajar dapat membuka jalan menuju cita-cita.


Semoga langkah Ari di D'Academy 8 terus berlanjut dan menjadi inspirasi bagi anak-anak muda lainnya, khususnya mereka yang berasal dari keluarga sederhana, untuk tidak pernah berhenti bermimpi dan berusaha.



Saladin 

×
Berita Terbaru Update