- -->

Notification

×

Iklan

Iklan

Syukuran Imamat Bersama Penyintas Gempa di Kampung Rahung, Teguhkan Harapan di Tengah Pemulihan

Sabtu, 19 September 2026 | 9/19/2026 09:44:00 AM WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-19T02:46:36Z
Di tengah pemulihan pascagempa 15 Agustus 2026, Pater Yulianus Agung, SX merayakan syukuran imamat bersama penyintas gempa di Kampung Rahung, Desa Golo Ropong, Manggarai, pada 15 September 2026, sebagai momentum meneguhkan harapan dan solidaritas umat.


Manggarai, Liputan12.com — Suasana penuh syukur, kebersamaan, dan pengharapan menyelimuti Kampung Rahung, Dusun Rahung, Desa Golo Ropong, Kecamatan Satarmese Barat, Kabupaten Manggarai, pada 15 September 2026.


Di tengah proses pemulihan masyarakat setelah gempa bumi yang mengguncang wilayah tersebut pada 15 Agustus 2026 lalu, Pater Yulianus Agung, SX merayakan syukuran imamat bersama umat dan para penyintas gempa di Kampung Rahung.


Perayaan tersebut tidak hanya menjadi ungkapan syukur atas panggilan dan perjalanan imamat Pater Yulianus Agung, SX, tetapi juga menjadi momentum pastoral untuk memberikan penguatan kepada masyarakat yang masih menjalani masa pemulihan pascabencana.





Kehadiran Pater Yulianus Agung, SX bersama umat menjadi pesan bahwa para penyintas gempa tidak berjalan sendirian. Kebersamaan dalam perayaan Ekaristi diharapkan dapat menjadi ruang untuk kembali meneguhkan iman, membangun semangat persaudaraan, serta memberikan kekuatan bagi masyarakat dalam menghadapi pengalaman traumatis akibat bencana.


Dalam konfirmasi kepada media ini, Pater Yulianus Agung, SX mengungkapkan kesannya terhadap perayaan Misa syukuran di Kampung Rahung. Menurutnya, perayaan tersebut berlangsung luar biasa, terutama karena tingginya antusiasme umat dan keterlibatan masyarakat dalam mempersiapkan seluruh rangkaian kegiatan.


“Antusiasme umat terlihat dalam kuantitas mereka serta keterlibatan mereka dalam misa. Mulai dari penyambutan secara adat, persiapan koor, hingga hospitalitas umat setempat menunjukkan bahwa misa dirayakan dengan meriah dan sepenuh hati,” ungkapnya.





Hal yang menarik, kata Pater Yulianus, seluruh persiapan perayaan tersebut dilakukan atas dasar inisiatif umat sendiri. Masyarakat secara sukarela mengambil bagian sesuai dengan kemampuan dan peran masing-masing.


Keterlibatan tersebut terlihat sejak proses penyambutan secara adat, persiapan liturgi, paduan suara, hingga penerimaan umat terhadap tamu dan peserta perayaan.


Bagi Pater Yulianus Agung, SX, semangat tersebut menjadi gambaran nyata mengenai bagaimana kehidupan menggereja tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat.


Dari pengalaman tersebut, Gereja Kampung Rahung dapat dilihat sebagai buah nyata dari proses panjang karya penginjilan Gereja di tanah Manggarai. Iman tidak hanya diwujudkan melalui kehadiran dalam perayaan liturgi, tetapi juga melalui kebersamaan, gotong royong, pelayanan, dan kepedulian terhadap sesama, khususnya mereka yang sedang menghadapi situasi sulit.


Paduan Suara Santa Sisilia Turut Menghidupkan Perayaan


Kemegahan suasana Misa syukuran semakin terasa melalui lantunan lagu-lagu rohani yang dibawakan Paduan Suara Santa Sisilia Stasi Rahung, Paroki Bunda Segala Bangsa Narang.


Kelompok paduan suara tersebut beranggotakan sekitar 15 orang. Dalam pelayanan musik liturgi, mereka mendapat bantuan dari organis Heribertus Jendareng, yang juga merupakan seorang guru kesenian, serta dukungan dari inisiator Viany Dullah.


Kehadiran kelompok paduan suara ini menjadi bagian penting dalam menghidupkan suasana perayaan Ekaristi. Lagu-lagu yang dibawakan tidak hanya memperindah rangkaian liturgi, tetapi juga menghadirkan suasana doa yang menyentuh hati umat.


Dengan suara yang berpadu harmonis, kelompok Santa Sisilia Stasi Rahung turut mengiringi perayaan syukuran imamat Pater Yulianus Agung, SX bersama masyarakat penyintas gempa.


Perayaan berlangsung sederhana, namun penuh kemeriahan dan kekhidmatan. Lantunan lagu-lagu yang dibawakan menjadi sarana untuk menggugah hati, memperteguh iman, sekaligus mengingatkan umat akan panggilan hidup masing-masing.


Menariknya, warna budaya lokal juga begitu terasa dalam perayaan tersebut. Paduan suara turut diwarnai oleh keterlibatan ibu-ibu yang sehari-hari dikenal sebagai penenun sarung songket Manggarai dan kain tenun khas Todo.


Kehadiran mereka tidak hanya memperlihatkan kekayaan budaya Manggarai, tetapi juga menjadi bagian dari ekspresi iman masyarakat yang menyatu dengan kehidupan dan tradisi setempat.


Iman, Budaya, dan Solidaritas Pascagempa


Syukuran imamat di Kampung Rahung akhirnya tidak sekadar menjadi sebuah perayaan keagamaan. Momentum tersebut mempertemukan iman, budaya, persaudaraan, dan solidaritas masyarakat dalam satu perayaan bersama.


Bagi para penyintas gempa, kebersamaan seperti ini memiliki makna tersendiri. Di tengah proses pemulihan setelah bencana, kehadiran komunitas dan Gereja menjadi bagian dari ruang untuk saling menguatkan.


Perayaan Ekaristi menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk kembali berkumpul, berdoa, dan membangun harapan bersama. Semangat tersebut sekaligus menunjukkan bahwa proses pemulihan pascabencana tidak hanya menyangkut pembangunan secara fisik, tetapi juga membutuhkan pendampingan sosial, spiritual, dan kemanusiaan.


Dari Kampung Rahung, pesan sederhana namun kuat kembali terdengar: dalam menghadapi masa sulit, masyarakat tidak harus berjalan sendirian.


Melalui iman, kebersamaan, budaya, dan kepedulian terhadap sesama, harapan dapat terus dirawat. Perayaan syukuran imamat Pater Yulianus Agung, SX bersama penyintas gempa pun menjadi momentum untuk meneguhkan kembali semangat persaudaraan dan keyakinan bahwa selalu ada kekuatan ketika masyarakat saling hadir dan berjalan bersama.



Reporter : Yohanes 

×
Berita Terbaru Update