- -->

Notification

×

Iklan

Iklan

Dugaan Keracunan Menimpa 112 Santri Yayasan Manba’ul Hikam Putat Tanggulangin, Sejumlah Korban Masih Dirawat

Selasa, 01 September 2026 | 9/01/2026 10:44:00 PM WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-01T15:44:31Z
Sebanyak 112 santri Yayasan Pondok Pesantren Manba'ul Hikam (Mahika), Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, mengalami dugaan keracunan massal setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Selasa (1/9/2026) siang. Puluhan korban masih menjalani perawatan intensif di RSUD Sidoarjo hingga Selasa malam.


Sidoarjo — Liputan12.com — Sebanyak 112 santri Yayasan Pondok Pesantren Manba’ul Hikam (Mahika), Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, mengalami keluhan kesehatan secara bersamaan pada Selasa (1/9/2026).


Hingga Selasa malam, jumlah santri yang dilaporkan mengalami gejala telah mencapai 112 orang. Namun, jumlah tersebut masih bersifat sementara lantaran proses pendataan dan pemantauan terhadap para santri masih terus dilakukan oleh petugas terkait.


Camat Tanggulangin, Arie Prabowo, membenarkan adanya kejadian tersebut. Ia menyebut, berdasarkan pendataan sementara, terdapat 112 santri yang mengalami keluhan kesehatan.


“Untuk sementara korban 112 orang,” kata Arie.


Para santri yang mengalami keluhan terdiri dari santri laki-laki maupun perempuan. Gejala yang dirasakan antara lain pusing dan mual yang muncul secara mendadak setelah para santri mengonsumsi makanan.


Penanganan terhadap para santri dilakukan berdasarkan tingkat kondisi masing-masing. Mereka yang membutuhkan penanganan medis lebih lanjut dievakuasi ke sejumlah fasilitas kesehatan, termasuk RSUD Sidoarjo.


Sementara itu, santri yang mengalami gejala lebih ringan mendapatkan perawatan dan pemantauan di lingkungan pondok pesantren dengan pengawasan petugas kesehatan.


Diduga Berkaitan dengan Makanan MBG


Kejadian tersebut sementara diduga berkaitan dengan makanan yang dikonsumsi para santri dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Meski demikian, dugaan tersebut belum dapat dinyatakan sebagai penyebab pasti.


Pihak terkait masih menunggu hasil pemeriksaan medis dan uji laboratorium untuk memastikan sumber gangguan kesehatan yang dialami para santri.


Salah seorang santriwati, Yanti, mengaku sempat melihat salah satu menu makan siang yang menurut pengamatannya sudah dalam kondisi tidak layak konsumsi. Menu tersebut berupa sayur buncis.


“Menu makan siangnya tadi ada sayur buncis yang seperti basi,” ungkap Yanti.


Yanti juga mengatakan bahwa dirinya tidak mengalami keluhan mual lantaran tidak mengonsumsi sayur tersebut.


“Saya tidak mual karena tidak makan sayurnya,” imbuhnya.


Keterangan tersebut menjadi salah satu informasi yang perlu ditelusuri oleh pihak berwenang. Untuk memastikan apakah makanan tertentu menjadi sumber gangguan kesehatan, diperlukan pemeriksaan secara menyeluruh, termasuk pemeriksaan sampel makanan dan pencocokan dengan hasil pemeriksaan medis terhadap para santri.


Bupati Sidoarjo Datangi Lokasi


Peristiwa tersebut langsung mendapat perhatian Pemerintah Kabupaten Sidoarjo. Bupati Sidoarjo, Subandi, mendatangi Pondok Pesantren Mahika pada Selasa malam untuk melihat secara langsung kondisi para santri sekaligus memantau proses penanganan terhadap para korban.


Selain pemerintah daerah, tim Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo bersama petugas puskesmas juga telah diterjunkan ke lokasi.


Petugas kesehatan melakukan pemeriksaan terhadap santri yang mengalami keluhan serta melakukan langkah-langkah penanganan sesuai kondisi masing-masing.


Tidak hanya melakukan pemeriksaan medis, petugas juga mengambil sejumlah sampel makanan yang diduga berkaitan dengan kejadian tersebut untuk selanjutnya diperiksa di laboratorium.


Pemeriksaan tersebut dinilai penting untuk mengetahui penyebab sebenarnya dari kejadian yang menyebabkan puluhan hingga lebih dari seratus santri mengalami keluhan kesehatan secara bersamaan.


Dengan pemeriksaan laboratorium, nantinya dapat diketahui apakah kejadian tersebut berkaitan dengan makanan yang dikonsumsi, proses pengolahan, penyimpanan, distribusi, maupun faktor lain yang memungkinkan terjadinya gangguan kesehatan.


Pendataan dan Pemantauan Masih Berlangsung


Hingga berita ini ditulis, proses pendataan terhadap santri yang mengalami keluhan masih berlangsung. Jumlah korban juga masih memungkinkan mengalami perubahan seiring dengan proses pemantauan di lingkungan pondok pesantren dan fasilitas kesehatan.


Kondisi para santri yang menjalani perawatan juga terus dipantau oleh tenaga medis.


Pihak berwenang diharapkan segera menyampaikan hasil pemeriksaan setelah seluruh proses medis dan uji laboratorium selesai dilakukan, sehingga penyebab kejadian tersebut dapat diketahui secara pasti dan langkah pencegahan dapat segera dilakukan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.



Eka Aristiya Juni Artomo

×
Berita Terbaru Update