Manggarai Timur, Liputan12.com — Gempa bumi yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026 telah berlalu, namun bagi sebagian warga Desa Golo Pari, Kecamatan Congkar, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, masa sulit belum berakhir.
Di tengah aktivitas warga yang perlahan berusaha kembali berjalan, jejak kerusakan masih terlihat. Sebuah Kapela mengalami kerusakan parah, sementara 56 rumah warga dilaporkan terdampak dan mengalami kerusakan berat akibat guncangan gempa.
Bagi masyarakat setempat, kerusakan tersebut bukan sekadar persoalan bangunan. Rumah merupakan tempat berlindung dan berkumpul bersama keluarga, sementara Kapela menjadi tempat masyarakat menjalankan aktivitas keagamaan.
Kini, kegiatan rohani warga terpaksa dilaksanakan di tenda darurat. Sebagian warga yang rumahnya terdampak juga masih bertahan di tempat pengungsian sementara tersebut.
Kondisi itu disampaikan Saverinus Hepi, tokoh masyarakat Desa Golo Pari, dalam keterangan yang diterima Liputan12.com.
Saverinus berharap kondisi masyarakat di desanya mendapat perhatian lebih dari pemerintah maupun berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap korban bencana.
Menurutnya, warga membutuhkan kehadiran langsung pemerintah untuk melihat kondisi di lapangan, terutama berkaitan dengan kerusakan rumah dan fasilitas umum yang terdampak gempa.
“Kami berharap Pemerintah Daerah Manggarai Timur dapat turun langsung ke desa untuk melihat kondisi warga,” ungkap Saverinus.
Ia menambahkan, masyarakat terdampak juga masih membutuhkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari selama berada dalam kondisi pascabencana.
Bagi warga Golo Pari, bantuan bukan hanya soal membangun kembali bangunan yang rusak. Kehadiran dan perhatian dari pemerintah serta masyarakat luas juga menjadi bagian penting dalam menguatkan mereka menghadapi masa pemulihan.
Saverinus mengajak seluruh pihak yang memiliki kepedulian untuk bersama-sama membantu masyarakat terdampak sesuai kebutuhan di lapangan.
“Warga masih sangat mengharapkan bantuan dari berbagai pihak untuk meringankan beban masyarakat yang terdampak,” harapnya.
Di tengah keterbatasan, warga Golo Pari masih berusaha bertahan. Tenda-tenda darurat menjadi tempat sementara untuk menjalani hari, sementara harapan mereka sederhana: dapat kembali memiliki tempat tinggal yang aman, beribadah dengan tenang, dan menjalani kehidupan seperti sebelum bencana.
Kini, perhatian dan langkah nyata dari pihak terkait sangat dinantikan warga. Pendataan kerusakan, penanganan kebutuhan dasar, serta pemulihan rumah dan fasilitas umum menjadi bagian penting yang diharapkan dapat segera ditindaklanjuti sesuai kondisi dan hasil verifikasi di lapangan.
Reporter: Yohanes Sinding
Editor: Tim Liputan12.com




