- -->

Notification

×

Iklan

Iklan

Dari Air Mata Menjadi Mahkota, Jejak Sukses Ibu Tunggal Besarkan Anak-anaknya

Selasa, 15 September 2026 | 9/15/2026 05:53:00 PM WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-15T10:53:44Z
Air mata yang jatuh di kesunyian malam tak pernah disaksikannya sebagai akhir. Bagi Kusniatur Rohmah, seorang guru SD sekaligus ibu tunggal di Kabupaten Lamongan, air mata itu justru ditempa menjadi mahkota – ketika satu per satu anaknya berhasil menyelesaikan pendidikan dan mandiri.


Lamongan, Liputan12.com — Di balik ketukan kapur di papan tulis dan riuh suara anak-anak di sebuah sekolah dasar negeri di Kabupaten Lamongan, tersimpan kisah perjuangan panjang seorang guru sekaligus ibu tunggal. Ia adalah Kusniatur Rohmah, sosok perempuan yang selama bertahun-tahun menjalani peran ganda sebagai pendidik di sekolah sekaligus tulang punggung keluarganya.


Bagi Kusniatur, menjadi seorang guru bukan hanya tentang menyampaikan pelajaran kepada peserta didik. Di luar jam sekolah, ia harus menjalani perjuangan lain yang tidak kalah berat, yakni memastikan kebutuhan keluarga dan masa depan anak-anaknya tetap terpenuhi.


Dengan penghasilan yang terbatas, Kusniatur berusaha membagi waktu, tenaga, dan pikirannya. Ia tetap menjalankan kewajibannya sebagai guru pada pagi hingga siang hari, kemudian melanjutkan aktivitas lain di rumah untuk memperoleh tambahan penghasilan.


Kisah tersebut menjadi gambaran bagaimana seorang ibu dapat bertahan dalam situasi sulit ketika masa depan anak-anak menjadi alasan utama untuk terus melangkah.


Dari Tangis Menjadi Kekuatan


Perjalanan Kusniatur tidak selalu berjalan mudah. Ketika harus menjalani kehidupan sebagai orang tua tunggal, tanggung jawab keluarga praktis berada di pundaknya. Berbagai kebutuhan harus dipenuhi, mulai dari kebutuhan sehari-hari hingga biaya pendidikan anak.


Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya menyerah. Justru dari keterbatasan itulah muncul tekad untuk terus bekerja dan memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya.


Mengajar di sekolah menjadi pekerjaan utamanya. Tetapi selepas menjalankan tugas sebagai pendidik, Kusniatur kembali bekerja di rumah dengan membuka usaha jahitan.


Mesin jahit menjadi salah satu bagian dari perjuangannya. Sore hingga malam hari, ketika sebagian orang mulai beristirahat, Kusniatur masih berusaha menyelesaikan pekerjaan jahitan demi mendapatkan penghasilan tambahan.


Baginya, setiap pekerjaan yang halal merupakan bentuk ikhtiar. Tidak ada pekerjaan yang terlalu kecil ketika hasilnya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan mendukung pendidikan anak-anak.


Pendidikan Menjadi Prioritas


Sebagai seorang guru, Kusniatur memahami betul bahwa pendidikan merupakan salah satu jalan penting untuk mengubah masa depan. Karena itu, pendidikan anak-anaknya selalu ditempatkan sebagai salah satu prioritas utama.


Ia berusaha menanamkan nilai kedisiplinan, kerja keras, tanggung jawab, ilmu pengetahuan, serta rasa syukur sejak dini.


Kusniatur tidak hanya berharap anak-anaknya memiliki pendidikan yang baik. Lebih dari itu, ia ingin mereka tumbuh menjadi pribadi yang mampu berdiri di atas kaki sendiri dan memiliki kehidupan yang lebih baik.


Dalam kondisi ekonomi yang tidak selalu mudah, ia memilih menekan kebutuhan pribadinya agar kebutuhan pendidikan anak tetap dapat terpenuhi.


Baginya, pengorbanan seorang ibu tidak selalu harus terlihat besar. Terkadang, pengorbanan itu hadir dalam bentuk sederhana: menahan keinginan pribadi, bekerja lebih lama, mengurangi waktu istirahat, dan tetap tersenyum di hadapan anak-anak meski dirinya sedang menghadapi persoalan.


Air Mata yang Menjadi Mahkota


Ada masa ketika beban kehidupan terasa begitu berat. Tidak jarang, rasa lelah dan persoalan hidup membuat Kusniatur harus meneteskan air mata.


Namun, di tengah kesunyian malam, ia selalu menemukan alasan untuk kembali bangkit.


“Setiap kali merasa lelah atau menangis di malam hari karena beban hidup, saya selalu melihat anak saya yang sedang belajar. Keberhasilannya di sekolah adalah obat paling ampuh dan 'mahkota' atas semua pengorbanan ini,” tutur Kusnia, Senin (15/9/2026).


Kalimat tersebut menggambarkan betapa keberhasilan anak menjadi sumber kekuatan terbesar bagi dirinya.


Bagi Kusniatur, mahkota yang dimaksud bukanlah sesuatu yang berwujud materi. Mahkota itu adalah ketika melihat anak-anaknya mampu menyelesaikan pendidikan, meraih prestasi, kemudian perlahan belajar mandiri dan memiliki masa depan yang lebih baik.


Buah Perjuangan Mulai Terlihat


Waktu akhirnya membuktikan bahwa perjuangan panjang tidak pernah benar-benar sia-sia.


Anak-anak Kusniatur mulai menyelesaikan pendidikan dan menunjukkan pencapaian yang membanggakan. Mereka juga mulai menapaki kehidupan secara mandiri.


Bagi sang ibu, keberhasilan tersebut menjadi kebahagiaan yang sulit digambarkan dengan kata-kata. Segala rasa lelah, tangis, keterbatasan ekonomi, hingga malam-malam panjang yang dilewati dengan bekerja seakan terbayar ketika melihat anak-anaknya mampu melangkah menuju masa depan.


Kisah Kusniatur menjadi potret bahwa keberhasilan sebuah keluarga tidak selalu lahir dari keadaan yang serba berkecukupan. Dalam banyak keadaan, keberhasilan justru tumbuh dari ketekunan, pengorbanan, kasih sayang, dan keberanian untuk tidak menyerah.


Sebagai seorang guru, Kusniatur telah mendidik anak-anak di sekolah. Sebagai seorang ibu, ia juga memberikan pelajaran kehidupan kepada anak-anaknya melalui keteladanan.


Ia menunjukkan bahwa bekerja keras dalam keterbatasan bukanlah sesuatu yang harus disesali. Sebaliknya, keterbatasan dapat menjadi sumber kekuatan untuk terus berjuang.


Dari air mata yang pernah jatuh, tumbuh sebuah mahkota bernama keberhasilan anak-anak.


Dan dari perjalanan panjang seorang ibu tunggal, lahir sebuah pesan sederhana: ketika kasih sayang, doa, kerja keras, dan keteguhan berjalan bersama, keterbatasan bukan akhir dari sebuah perjalanan, melainkan awal menuju pencapaian yang lebih mulia.



(ther)

×
Berita Terbaru Update