- -->

Notification

×

Iklan

Iklan

Menakar Samsul Rizal sebagai Kadisdikbud Aceh Tamiang: “Sekolah Boleh Terendam, Mimpi Anak-Anak Tak Boleh Tenggelam”

Selasa, 15 September 2026 | 9/15/2026 06:49:00 PM WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-15T11:49:15Z
Di saat 439 bangunan sekolah di Aceh Tamiang masih berjuang pulih dari lumpur banjir besar November 2025, Irjen Pol (Purn) Armia Pahmi menaruh harapan baru di pundak Syamsul Rizal. Dilantik sebagai Kadisdikbud pada 1 Juli 2026, ia datang dengan janji tegas: Sekolah boleh terendam, mimpi anak-anak tak boleh tenggelam.


Aceh Tamiang, Liputan12.com — Pendidikan tidak selalu lahir dari gedung yang megah. Kadang, ia tumbuh dari ruang kelas sederhana, papan tulis yang telah lama digunakan, dan guru-guru yang tetap datang meski fasilitas terbatas.


Ia juga tumbuh dari wajah anak-anak yang menyimpan mimpi, bahkan ketika sekolah tempat mereka belajar pernah terendam banjir.


Di Aceh Tamiang, kisah itu memasuki babak baru setelah banjir besar menerjang pada akhir November 2025. Air tidak hanya membawa lumpur ke rumah-rumah warga, tetapi juga meninggalkan pekerjaan panjang bagi dunia pendidikan.


Ruang kelas rusak, buku dan peralatan belajar terdampak, sementara sejumlah sekolah harus menunggu untuk kembali menjadi tempat yang aman dan layak bagi anak-anak menimba ilmu.


Data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Tamiang mencatat sebanyak 439 bangunan sekolah terdampak, terdiri dari 73 sekolah rusak berat, 306 rusak sedang dan 60 rusak ringan.


Tahun 2026 kemudian menjadi fase penting pemulihan. Sebanyak 254 satuan pendidikan mendapatkan alokasi Program Revitalisasi Satuan Pendidikan.


Di tengah pekerjaan besar itulah Syamsul Rizal, S.Ag., M.AP. menerima amanah baru.


Pada 1 Juli 2026, Bupati Aceh Tamiang Irjen Pol. (Purn.) Drs. Armia Pahmi, MH melantik Syamsul Rizal sebagai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Tamiang.


Sebuah jabatan yang datang bukan ketika dunia pendidikan sedang baik-baik saja, melainkan ketika banyak sekolah masih berusaha menghapus sisa-sisa lumpur dari halaman sejarahnya.


Bagi Syamsul, pekerjaan itu bukan sekadar membangun kembali sekolah.


Ada sesuatu yang lebih besar: mengembalikan rasa aman, semangat belajar dan harapan anak-anak.


Sekolah Bukan Sekadar Tembok


Di atas kertas, rehabilitasi sekolah dapat dihitung melalui persentase pekerjaan, jumlah ruang kelas, nilai anggaran dan durasi pembangunan.


Namun bagi seorang anak, sekolah memiliki makna yang jauh lebih besar.


Di sanalah ia belajar membaca dunia. Di sanalah ia mengenal cita-cita. Dan di sanalah untuk pertama kalinya ia membayangkan dirinya kelak menjadi guru, dokter, insinyur, polisi, seniman atau profesi apa pun yang ingin diraihnya.


Karena itu, pemulihan sekolah pascabencana tidak cukup hanya mengembalikan atap, lantai dan dinding.


Salah satu gambaran tersebut terlihat di SMP Negeri 2 Karang Baru.


Sebanyak 23 ruang kelas direhabilitasi dengan melibatkan komite sekolah, wali murid dan masyarakat melalui pola swakelola padat karya.


Pada awal Agustus 2026, progres fisiknya telah mencapai sekitar 89 persen, dengan anggaran rehabilitasi disebut mencapai sekitar Rp3,2 miliar.


Sekolah tersebut juga menjadi salah satu dari 19 SMP yang masuk Program Perjanjian Kerja Sama Revitalisasi di Aceh Tamiang.


Bagi Syamsul, keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam proses tersebut.


“Kita juga menggalang semangat gotong royong menjadi kekuatan rekonstruksi. Salah satu contoh di SMP Negeri 2 Karang Baru.”

 

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun di baliknya terdapat cara pandang bahwa pendidikan bukan pekerjaan pemerintah semata.


Ada orang tua, guru, komite sekolah, pemuda dan masyarakat yang dapat menjadi bagian dari proses membangun kembali masa depan.


Gotong royong tidak berhenti sebagai slogan. Ia menjadi energi untuk bangkit.


Dari Lumpur Menuju Ketangguhan


Pada peringatan Hardikda Aceh ke-67 di Pendopo Bupati Aceh Tamiang, 2 September 2026, Syamsul Rizal membawa pesan yang lebih luas.


Pemulihan pendidikan, menurutnya, tidak boleh berhenti pada pembangunan kembali bangunan yang rusak.


Ada kualitas pembelajaran yang harus dipulihkan. Ada guru yang harus diperkuat. Ada fasilitas yang harus diperbaiki. Ada layanan psikososial, sanitasi, aksesibilitas serta ketangguhan sekolah dalam menghadapi kemungkinan bencana di masa mendatang.


Sebab bencana mungkin merobohkan bangunan.


Tetapi jangan sampai bencana ikut merobohkan semangat belajar.


Di titik inilah pekerjaan Syamsul menjadi lebih panjang dari sekadar urusan proyek fisik.


Ia berhadapan dengan kualitas guru, kepemimpinan kepala sekolah, pemerataan pendidikan, karakter peserta didik hingga bagaimana sekolah-sekolah di pelosok mendapatkan kesempatan yang sama.


Membawa Pendidikan Lebih Dekat ke Desa


Pendidikan yang baik tidak boleh hanya bercahaya di pusat kota.


Anak-anak yang tumbuh jauh dari pusat pemerintahan memiliki hak yang sama untuk mendapatkan guru berkualitas, fasilitas memadai dan kesempatan mengembangkan bakat.


Gagasan tersebut terlihat dalam upaya membangun kolaborasi dengan masyarakat dan gerakan kepemudaan.


Pada 23 Agustus 2026, Syamsul Rizal mewakili Bupati Aceh Tamiang dalam Wisuda Aceh Mengajar Batch 11 sekaligus peringatan delapan tahun Aceh Mengajar.


Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan komitmen untuk terus mendorong kolaborasi dengan gerakan kepemudaan guna memperluas akses pendidikan hingga kawasan perdesaan.


Jika gagasan tersebut dapat berjalan konsisten, maka sekolah di pelosok tidak lagi dipandang sebagai sekolah pinggiran.


Sebab masa depan Aceh Tamiang tidak hanya ditulis dari pusat kota.


Ia juga sedang ditulis dari ruang-ruang kelas di desa.


Ketika Prestasi Menjadi Budaya


Aceh Tamiang juga memiliki modal penting untuk membangun pendidikan: anak-anak yang berprestasi.


Pada 2026, Khansa Nurul Falah, siswi SMA Negeri 1 Rantau, berhasil lolos ke Olimpiade Sains Nasional tingkat Provinsi Aceh bidang Kimia setelah melewati seleksi tingkat kabupaten.


SMK Negeri 1 Karang Baru juga mencatat prestasi dengan meraih Juara I Lomba Debat Indonesia tingkat Kabupaten Aceh Tamiang 2026.


Piala-piala itu memang penting.


Namun prestasi tidak semestinya berhenti sebagai benda yang disimpan di lemari kaca. Prestasi harus tumbuh menjadi budaya.


Anak-anak perlu diberi ruang untuk berkembang sesuai bakat dan minat, baik akademik, olahraga, seni, teknologi maupun bidang lainnya.


Sebab di balik setiap piala, terdapat guru yang membimbing, orang tua yang mendukung dan anak yang berulang kali mencoba sebelum akhirnya berhasil.


75 Sekolah dan Pekerjaan Rumah Kepemimpinan


Di balik pembangunan fisik dan prestasi peserta didik, masih terdapat pekerjaan rumah yang tidak kecil.


Sebanyak 75 sekolah di Aceh Tamiang masih dipimpin pelaksana tugas (Plt.).


Sebagian besar kekosongan terjadi karena kepala sekolah memasuki masa pensiun.


Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menyiapkan sekitar 50 calon kepala sekolah untuk dilantik secara definitif secara bertahap sesuai ketentuan dan kompetensi.


Bagi Syamsul, kepala sekolah bukan sekadar pejabat administratif.


Ia adalah pemimpin pembelajaran.


Sosok yang menentukan bagaimana guru bekerja, bagaimana budaya sekolah dibangun dan bagaimana anak-anak mendapatkan ruang untuk berkembang.


Karena itu, penataan kepala sekolah menjadi salah satu pekerjaan penting dalam perjalanan kepemimpinannya.


Dari Camat, Lingkungan Hidup, Syariat Islam, Kini Pendidikan


Perjalanan Syamsul Rizal menuju kursi Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan bukan perjalanan yang pendek.


Jejak kariernya membawa ia melewati sejumlah ruang pemerintahan.


Pada 2008, ia tercatat pernah dipercaya sebagai Camat Bendahara.


Kemudian pada 2017, Syamsul dipercaya memimpin Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Aceh Tamiang.


Dalam rekam proyek perubahan Diklat Kepemimpinan Tingkat II, ia mengangkat gagasan penanganan kebersihan lingkungan melalui Koperasi Sampah Terpadu.


Pada Januari 2019, babak berikutnya datang ketika ia dilantik sebagai Kepala Dinas Syariat Islam Kabupaten Aceh Tamiang.


Di sana, ia bersentuhan dengan berbagai agenda keislaman dan pembinaan masyarakat.


Pada MTQ Aceh XXXIV tahun 2019, Syamsul ikut mempersiapkan kafilah Aceh Tamiang melalui training center.


Kemudian pada MTQ Aceh XXXVII tahun 2025, ketika masih menjabat Kepala Dinas Syariat Islam, ia dipercaya sebagai Amir Kafilah Aceh Tamiang. Kafilah Tamiang membawa pulang sembilan piala.


Lalu pada Juli 2026, arah pengabdiannya kembali berubah.


Dari lingkungan hidup, ia pernah berbicara tentang kebersihan.


Dari Dinas Syariat Islam, ia bersentuhan dengan pembinaan kehidupan keagamaan.


Kini, di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, ruang kerjanya menjadi jauh lebih luas.


Ia berhadapan dengan sesuatu yang tidak dapat dihitung hanya dengan angka anggaran dan jumlah bangunan:


masa depan anak-anak Aceh Tamiang.


Mengembalikan Anak-Anak untuk Bermimpi


Di ruang kerjanya, Selasa, 15 September 2026, Syamsul berbicara tentang pendidikan dengan nada yang tidak berhenti pada pembangunan fisik.


Ia menempatkan sekolah sebagai sebuah ekosistem.


Ada anak. Ada guru. Ada kepala sekolah. Ada orang tua. Ada masyarakat.


Semuanya harus bergerak dalam satu arah.


Pascabencana menjadi tantangan, tetapi sekaligus kesempatan untuk membangun sistem pendidikan yang lebih kuat.


Sekolah tidak hanya kembali berdiri, tetapi juga lebih siap menghadapi masa depan.


Guru tidak hanya mengajar, tetapi terus belajar.


Kepala sekolah tidak hanya mengurus administrasi, tetapi menjadi pemimpin pembelajaran.


Dan anak-anak tidak hanya kembali ke bangku sekolah, tetapi kembali memiliki keberanian untuk bermimpi.


Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan pendidikan bukan hanya berapa banyak sekolah yang selesai direhabilitasi.


Bukan pula berapa banyak piala yang berhasil dibawa pulang.


Lebih jauh dari itu, pendidikan harus mampu membuat seorang anak percaya bahwa tempat ia dilahirkan tidak menentukan seberapa tinggi ia boleh bermimpi.


Dan mungkin, di sanalah perjalanan baru Syamsul Rizal dimulai.


Dari sekolah-sekolah yang pernah digenangi banjir, dari ruang kelas yang kembali dibangun, dari guru-guru yang tetap bertahan, dan dari anak-anak yang kembali membuka buku.


Sebab membangun pendidikan sesungguhnya bukan hanya membangun sekolah.


Ia adalah pekerjaan panjang untuk memastikan tidak ada satu pun anak Aceh Tamiang kehilangan alasan untuk bermimpi.



Reporter: Sutrisno, Kaperwil Aceh — Liputan12.com

×
Berita Terbaru Update