- -->

Notification

×

Iklan

Iklan

Menyulam Cinta kepada Rasulullah SAW di Peringatan Maulid Nabi 1448 H

Senin, 24 Agustus 2026 | 8/24/2026 06:13:00 PM WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-24T11:13:01Z
Cinta kepada Rasulullah SAW tidak cukup diucapkan lewat lisan, tetapi harus dibuktikan lewat kejujuran, kasih sayang dan kepedulian kepada sesama. Itulah pesan utama yang disampaikan KH. Moh. Sufyan Asy'ari, Pengasuh PP Al-Arifin Cangak Tamberu Barat Sokobanah Sampang, dalam peringatan Maulid Nabi 1448 H.


Sampang, Liputan12.com — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah hendaknya tidak sekadar menjadi momentum untuk mengenang kelahiran Rasulullah SAW, tetapi juga menjadi ruang untuk kembali menata hati, memperkuat keimanan, serta meneladani akhlak mulia yang telah beliau wariskan kepada umat manusia.


Hal tersebut disampaikan KH. Moh. Sufyan Asy'ari, S.Pd.I, Pengasuh Pondok Pesantren (PP) Al-Arifin Cangak, Desa Tamberu Barat, Kecamatan Sokobanah, Kabupaten Sampang, dalam pesan rohaninya pada momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H.


Menurut beliau, mencintai Rasulullah SAW tidak cukup hanya dengan memperbanyak ungkapan kecintaan melalui lisan. Cinta kepada Nabi harus diwujudkan melalui sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.


"Maulid Nabi bukan hanya tentang mengingat kapan Rasulullah dilahirkan, tetapi bagaimana kita menghadirkan akhlak Rasulullah dalam kehidupan kita. Bagaimana kita menjadi manusia yang jujur, amanah, penyayang, rendah hati dan senantiasa memberikan manfaat kepada sesama," pesan KH. Moh. Sufyan Asy'ari.


Ia mengingatkan bahwa Rasulullah Muhammad SAW merupakan teladan terbaik bagi seluruh umat. Di tengah kehidupan yang semakin kompleks, keteladanan Rasulullah menjadi pedoman penting agar manusia tidak kehilangan arah dalam menjalani kehidupan.


Menurutnya, kemajuan zaman harus diiringi dengan peningkatan iman dan akhlak. Sebab, ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi tanpa dibarengi akhlakul karimah dapat membuat manusia semakin jauh dari nilai-nilai kemanusiaan.


"Kita boleh mengikuti perkembangan zaman, tetapi jangan sampai kehilangan akhlak. Jangan sampai teknologi semakin maju, tetapi hati semakin jauh dari Allah SWT. Rasulullah mengajarkan kepada kita bahwa kemuliaan seseorang bukan hanya karena ilmu dan kedudukannya, tetapi karena akhlaknya," tuturnya.


KH. Moh. Sufyan Asy'ari juga mengajak seluruh umat Islam untuk menjadikan momentum Maulid Nabi sebagai sarana memperbanyak shalawat, mempererat ukhuwah Islamiyah dan meningkatkan kepedulian terhadap sesama.


Menurutnya, shalawat bukan sekadar rangkaian kalimat yang dilantunkan, tetapi juga menjadi pengingat agar umat senantiasa mencintai dan mengikuti ajaran Rasulullah SAW.


Ia menambahkan, kehidupan Rasulullah penuh dengan keteladanan. Ketika menghadapi ujian, Rasulullah menunjukkan kesabaran. Ketika memperoleh keberhasilan, beliau tetap rendah hati. Ketika disakiti, beliau tidak membalas dengan kebencian, melainkan tetap mengedepankan kasih sayang dan kebijaksanaan.


"Mari kita belajar dari Rasulullah. Ketika dihina, beliau tidak membalas dengan hinaan. Ketika disakiti, beliau tetap mendoakan kebaikan. Itulah akhlak yang harus kita hidupkan kembali di tengah masyarakat," ungkapnya.


Lebih jauh, Pengasuh PP Al-Arifin Cangak tersebut mengajak para orang tua untuk menjadikan keluarga sebagai tempat pertama dalam menanamkan kecintaan kepada Rasulullah SAW kepada anak-anak.


Menurutnya, generasi muda perlu dikenalkan bukan hanya kepada sejarah kehidupan Rasulullah, tetapi juga kepada nilai-nilai perjuangan, kesabaran, kejujuran, kasih sayang dan kepedulian sosial yang beliau contohkan.


"Kalau kita ingin anak-anak kita menjadi generasi yang baik, maka kenalkan mereka kepada Rasulullah. Ajarkan shalawat, ajarkan adab, ajarkan kejujuran dan ajarkan untuk menghormati orang tua serta menyayangi sesama," pesannya.


Dalam suasana Maulid Nabi 1448 H, KH. Moh. Sufyan Asy'ari berharap seluruh umat Islam dapat mengambil hikmah dari perjalanan kehidupan Rasulullah SAW dan menjadikannya sebagai pedoman untuk memperbaiki diri.


Sebab, hakikat memperingati Maulid Nabi bukan hanya menghadirkan kemeriahan sebuah acara, melainkan menghadirkan kembali semangat kenabian di dalam kehidupan: cinta kepada Allah SWT, cinta kepada Rasulullah SAW, cinta kepada keluarga, serta kasih sayang kepada sesama manusia.


"Semoga dengan memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H, hati kita semakin dekat kepada Allah, semakin cinta kepada Rasulullah, semakin baik akhlaknya, dan semakin besar manfaatnya bagi keluarga, masyarakat, agama dan bangsa," pungkas KH. Moh. Sufyan Asy'ari.


Momentum Maulid Nabi pada akhirnya menjadi pengingat bahwa Rasulullah SAW telah meninggalkan teladan yang sempurna. Tugas umat bukan hanya mengagumi beliau, tetapi berusaha menghadirkan sunnah dan akhlaknya dalam setiap langkah kehidupan.


Selamat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H. Semoga cahaya keteladanan Rasulullah senantiasa menerangi hati dan kehidupan kita semua.


Editor : Sonhaji

×
Berita Terbaru Update