- -->

Notification

×

Iklan

Iklan

Jurusan Kuliah dengan Pengangguran Terbanyak di RI, Manajemen Tempati Posisi Teratas

Kamis, 20 Agustus 2026 | 8/20/2026 01:10:00 PM WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-20T06:10:05Z

Jakarta, Liputan12.com — Memilih jurusan kuliah menjadi salah satu keputusan penting yang perlu dipertimbangkan calon mahasiswa. Selain menyesuaikan dengan minat dan kemampuan, prospek pekerjaan setelah lulus juga menjadi faktor yang tidak kalah penting.

Jurusan yang dipilih selama menempuh pendidikan tinggi pada dasarnya menjadi salah satu fondasi untuk membangun pengetahuan, keterampilan, serta kompetensi sebelum memasuki dunia kerja. Namun, memiliki gelar sarjana tidak secara otomatis menjamin seseorang langsung mendapatkan pekerjaan.

Persaingan di pasar kerja yang semakin ketat membuat lulusan perguruan tinggi dituntut memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dunia industri. Kondisi tersebut juga menunjukkan bahwa kesesuaian antara pendidikan dan kebutuhan pasar kerja menjadi tantangan tersendiri bagi para pencari kerja.

Karena itu, gambaran mengenai kondisi pasar tenaga kerja dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan bagi calon mahasiswa sebelum menentukan pilihan jurusan.

Tingkat Pengangguran Lulusan S1 Meningkat

Penelitian Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menunjukkan adanya peningkatan tingkat pengangguran terbuka (TPT) di kalangan penduduk dengan pendidikan minimal sarjana atau S1 dalam beberapa tahun terakhir.

Temuan tersebut tercantum dalam Labor Market Brief Volume 7 Nomor 7 yang dirilis pada Juli 2026. Laporan berjudul “Ketika Akses Pendidikan Tinggi Bertambah, Apakah Pasar Kerja Siap?” tersebut ditulis oleh Muhammad Hanri, Ph.D., dan Nia Kurnia Sholihah, M.E.

Berdasarkan data yang diolah dari Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas), TPT penduduk dengan pendidikan minimal S1 tercatat sebesar 4,80 persen pada 2022.

Angka tersebut kemudian meningkat menjadi 5,18 persen pada 2023, kembali naik menjadi 5,25 persen pada 2024, dan mencapai 5,39 persen pada 2025.

Data tersebut menunjukkan bahwa peningkatan akses masyarakat terhadap pendidikan tinggi belum sepenuhnya diikuti dengan kesiapan pasar kerja dalam menyerap lulusan perguruan tinggi.

Manajemen Paling Banyak di Antara Penganggur Berpendidikan S1

Jika dilihat berdasarkan bidang studi pendidikan terakhir, lulusan Manajemen menjadi kelompok yang paling banyak ditemukan di antara penganggur berpendidikan minimal S1.

Proporsi lulusan Manajemen mencapai sekitar 10,3 persen dari keseluruhan penganggur berpendidikan minimal S1.

Berikut daftar bidang studi dengan proporsi terbesar di antara penganggur berpendidikan minimal S1 berdasarkan laporan LPEM FEB UI:

  1. Manajemen: 10,3 persen
  2. Hukum: 9,0 persen
  3. Ekonomi: 8,7 persen
  4. Pendidikan: 7,1 persen
  5. Akuntansi: 5,1 persen

Jika digabungkan, lima bidang studi tersebut menyumbang sekitar 40 persen dari seluruh penganggur berpendidikan minimal S1.

Selain lima bidang tersebut, lulusan Ilmu Komputer atau Informatika juga tercatat memiliki proporsi cukup besar, yakni sekitar 4,6 persen dari penganggur berpendidikan minimal S1.

Banyak Penganggur Bukan Berarti Prospek Jurusannya Buruk

Meski memiliki proporsi cukup besar di antara penganggur berpendidikan tinggi, kondisi tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa jurusan-jurusan tersebut memiliki prospek kerja yang buruk.

Ada sejumlah faktor yang dapat memengaruhi tingginya jumlah lulusan dari bidang studi tertentu di antara kelompok penganggur.

Salah satunya adalah jumlah lulusan. Jurusan seperti Manajemen, Akuntansi, dan Administrasi Bisnis tersedia di banyak perguruan tinggi sehingga jumlah lulusannya juga relatif besar.

Di sisi lain, bidang-bidang tersebut memiliki pilihan pekerjaan yang cukup luas. Kondisi ini membuat lulusan Manajemen, misalnya, tidak hanya bersaing dengan sesama lulusan Manajemen, tetapi juga dengan lulusan dari bidang studi lain untuk mendapatkan posisi pekerjaan awal yang bersifat umum.

Hal serupa juga terjadi pada lulusan Hukum dan Ekonomi. Meskipun kedua bidang tersebut memiliki jalur profesi yang relatif jelas, tidak semua lulusan kemudian bekerja sesuai dengan latar belakang pendidikannya.

Sebagian lulusan Hukum dan Ekonomi juga masuk ke pasar kerja umum, seperti sektor perusahaan, perbankan, pemerintahan, administrasi, konsultasi, maupun berbagai layanan profesional.

Sementara itu, lulusan Pendidikan dapat menghadapi tantangan berbeda. Ketersediaan formasi tenaga pendidik, kebutuhan sekolah di setiap wilayah, serta persyaratan profesi dapat memengaruhi peluang lulusan untuk segera mendapatkan pekerjaan.

Adapun lulusan Ilmu Komputer atau Informatika menghadapi tantangan yang berkaitan dengan kebutuhan industri teknologi yang semakin spesifik. Penguasaan keterampilan praktis, pengalaman kerja, kualitas pendidikan, portofolio, serta kemampuan mengikuti perkembangan teknologi menjadi faktor yang dapat memengaruhi daya saing lulusan.

Pentingnya Menyesuaikan Kompetensi dengan Kebutuhan Industri

Data tersebut memberikan gambaran bahwa memilih jurusan kuliah tidak cukup hanya berdasarkan popularitas atau banyaknya pilihan pekerjaan yang tersedia.

Calon mahasiswa juga perlu mempertimbangkan kemampuan pribadi, perkembangan kebutuhan industri, kualitas perguruan tinggi, peluang pengembangan keterampilan, hingga kemungkinan perubahan kebutuhan tenaga kerja pada masa mendatang.

Di tengah persaingan kerja yang semakin ketat, ijazah perguruan tinggi juga perlu diimbangi dengan keterampilan praktis, pengalaman, kemampuan beradaptasi, serta kompetensi lain yang dibutuhkan perusahaan maupun dunia profesional.

Dengan demikian, tingginya proporsi penganggur dari suatu bidang studi tidak dapat dimaknai secara sederhana bahwa jurusan tersebut tidak memiliki masa depan. Data tersebut lebih tepat digunakan sebagai gambaran mengenai tantangan yang dihadapi kelompok lulusan tertentu dalam memasuki pasar kerja.

Bagi calon mahasiswa, informasi tersebut dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan untuk menentukan jurusan secara lebih matang, sekaligus mempersiapkan kompetensi yang relevan sejak masih berada di bangku kuliah.


Redaksi Liputan12

×
Berita Terbaru Update