- -->

Notification

×

Iklan

Iklan

Air Sumur Warga Tambelangan Mendadak Berubah Warna dan Bau, Diduga Ada Pencemaran

Selasa, 11 Agustus 2026 | 8/11/2026 02:37:00 PM WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-11T07:37:48Z
Warga resah setelah air sumur yang menjadi sumber utama kebutuhan sehari-hari mendadak berubah warna menjadi [keruh/kekuningan] dan mengeluarkan bau [menyengat/bau telur busuk]

SampangLiputan12.com – Warga di kecamatan Tambelangan mengeluhkan perubahan kondisi air sumur yang terjadi secara mendadak. Air yang selama ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari disebut mengalami perubahan warna, bau, hingga rasa yang tidak biasa, (Senin 10 Agustus 2026).

Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran warga, terutama karena air sumur menjadi salah satu sumber utama untuk kebutuhan rumah tangga.

Berdasarkan keterangan warga, perubahan kondisi air mulai terlihat sejak [tanggal/waktu kejadian]. Air yang sebelumnya jernih disebut berubah menjadi [keruh/kekuningan/kecokelatan/kehitaman], disertai [bau menyengat/bau seperti telur busuk/bau bahan kimia/bau lainnya].

“[Awalnya saya kira cuma keruh biasa karena hujan, tapi sudah tiga hari ini airnya tetap kuning seperti teh. Kalau diendapkan ada lumpur halus di bawahnya,” ujar warga setempat.

Selain perubahan warna dan bau, warga juga mengaku menemukan [lapisan minyak/busa/endapan/perubahan rasa] pada air sumur. Kondisi tersebut membuat sebagian warga memilih menghentikan sementara penggunaan air untuk minum dan memasak karena khawatir terhadap dampaknya bagi kesehatan.

Warga berharap persoalan tersebut segera mendapat perhatian dari pemerintah daerah dan instansi terkait. Mereka meminta dilakukan pemeriksaan terhadap sumber air serta pengujian laboratorium untuk memastikan apakah perubahan tersebut berkaitan dengan pencemaran atau faktor alamiah lainnya.


Warga Diminta Tidak Menggunakan Air Sebelum Dipastikan Aman

Perubahan mendadak pada kondisi air sumur sebaiknya tidak dianggap sebagai persoalan sepele. Air yang berubah warna, berbau menyengat, terasa asin atau pahit, maupun terdapat lapisan minyak dan busa perlu diperiksa lebih lanjut sebelum kembali digunakan untuk kebutuhan konsumsi.

Sebagai langkah awal, warga dapat menghentikan penggunaan air tersebut untuk minum dan memasak sampai hasil pemeriksaan memastikan kualitasnya aman.

Warga juga disarankan mendokumentasikan kondisi air melalui foto atau video serta menyimpan sampel air dalam wadah bersih dan tertutup untuk keperluan pemeriksaan laboratorium.

Selain itu, masyarakat dapat menyampaikan laporan kepada pemerintah desa atau kelurahan, RT/RW, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), maupun Dinas Kesehatan agar dapat dilakukan inspeksi dan pengujian terhadap kualitas air.


Dugaan Sumber Pencemaran Perlu Ditelusuri

Untuk mengetahui penyebab perubahan air, kondisi lingkungan di sekitar sumur juga perlu diperiksa. Beberapa kemungkinan yang perlu ditelusuri antara lain rembesan septic tank, saluran pembuangan limbah rumah tangga, aktivitas usaha atau industri, penggunaan bahan kimia, hingga kemungkinan kebocoran tangki bahan bakar.

Namun, perubahan warna, bau, atau rasa air belum dapat secara otomatis disebut sebagai pencemaran tanpa adanya pemeriksaan dan hasil uji laboratorium.

Karena itu, warga berharap pemerintah dan instansi terkait segera turun ke lapangan untuk mengambil sampel air serta melakukan pemeriksaan terhadap sumber-sumber yang berpotensi memengaruhi kualitas air tanah.

Instansi terkait juga diharapkan memberikan penjelasan kepada masyarakat mengenai hasil pemeriksaan dan langkah penanganan yang harus dilakukan apabila ditemukan adanya pencemaran.

Hingga berita ini diturunkan, [keterangan mengenai respons pemerintah/DLH/Dinkes atau pihak yang diduga menjadi sumber pencemaran] masih dalam proses konfirmasi.

Liputan12.com akan terus memantau perkembangan persoalan tersebut dan menghadirkan informasi berdasarkan hasil pemeriksaan serta keterangan resmi dari pihak-pihak terkait.



Aba Duro

×
Berita Terbaru Update