- -->

Notification

×

Iklan

Iklan

Nama Anak Dipinjam Bos untuk Pembelian Mobil, Pemulung Lansia di Surabaya Sempat Tak Terima Bansos Selama Tiga Tahun

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10/14/2026 01:38:00 AM WIB | 0 Views Last Updated 2026-10-13T18:38:44Z
Kisah Sulis Setyowati (62), seorang pemulung lansia di Surabaya, menjadi sorotan setelah dilaporkan tidak menerima bantuan sosial selama sekitar tiga tahun. Persoalan ini mencuat di tengah dugaan penggunaan nama anaknya oleh sang bos untuk pembelian mobil, yang memunculkan pertanyaan mengenai akurasi data kesejahteraan dan pentingnya verifikasi administrasi agar masyarakat yang benar-benar membutuhkan tidak dirugikan.


Surabaya, Liputan12.com – Kisah Sulis Setyowati (62), seorang perempuan lanjut usia yang sehari-hari bekerja sebagai pemulung di Kota Surabaya, menjadi perhatian setelah dirinya dilaporkan tidak menerima bantuan sosial selama kurang lebih tiga tahun. Persoalan tersebut mencuat setelah muncul informasi bahwa nama anaknya diduga digunakan oleh sang bos untuk keperluan pembelian mobil, yang kemudian menjadi sorotan dalam persoalan pendataan kesejahteraan keluarga.


Peristiwa ini membuka kembali perhatian terhadap pentingnya akurasi data sosial ekonomi masyarakat, khususnya dalam menentukan kelompok kesejahteraan atau desil yang menjadi salah satu dasar pemetaan penerima program bantuan pemerintah.


Bagi masyarakat yang hidup dalam keterbatasan ekonomi, bantuan sosial memiliki arti penting untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Karena itu, ketika warga yang masih harus bekerja keras demi menyambung hidup justru mengalami kendala dalam mengakses bantuan, persoalan tersebut perlu ditelusuri secara menyeluruh agar penyebabnya dapat diketahui dengan jelas.


Sulis yang diketahui tinggal di kawasan Kedungdoro, Kecamatan Tegalsari, Surabaya, menjalani kesehariannya dengan mengumpulkan barang-barang bekas yang masih memiliki nilai jual. Di tengah usianya yang tidak lagi muda, pekerjaan tersebut menjadi bagian dari perjuangannya untuk memenuhi kebutuhan hidup.


Kondisi yang dialaminya sekaligus memunculkan pertanyaan mengenai bagaimana data kependudukan, informasi kepemilikan aset, dan kondisi ekonomi riil masyarakat saling berkaitan dalam proses penilaian kesejahteraan.


Persoalan Data Kesejahteraan Menjadi Perhatian


Permasalahan Sulis menjadi perhatian setelah muncul informasi mengenai status desil kesejahteraannya. Dalam pemberitaan yang beredar, dirinya disebut masuk desil 7 sehingga memunculkan pertanyaan mengenai kesesuaian data tersebut dengan keadaan ekonomi yang sebenarnya.


Namun, berdasarkan penjelasan Dinas Sosial Kota Surabaya yang diberitakan sebelumnya, Sulis tercatat berada pada desil 6, bukan desil 7 sebagaimana informasi awal yang beredar.


Perbedaan informasi ini penting untuk diluruskan agar masyarakat memperoleh gambaran yang tepat mengenai persoalan yang sedang ditangani pemerintah.


Desil merupakan pengelompokan masyarakat berdasarkan tingkat kesejahteraan sosial ekonomi. Secara umum, desil 1 menunjukkan kelompok dengan tingkat kesejahteraan paling rendah, sedangkan desil 10 menunjukkan kelompok dengan tingkat kesejahteraan paling tinggi.


Pengelompokan tersebut digunakan dalam proses pemetaan dan penentuan sasaran berbagai program pemerintah. Meski demikian, posisi desil bukan satu-satunya faktor penentu penerimaan bantuan karena setiap program memiliki persyaratan, kuota, serta mekanisme penetapan tersendiri.


Karena itu, ketidaksesuaian antara data administrasi dan kondisi faktual masyarakat perlu diperiksa secara cermat. Pemeriksaan tersebut diperlukan untuk memastikan bahwa informasi yang digunakan dalam pemetaan kesejahteraan benar-benar menggambarkan keadaan rumah tangga yang bersangkutan.


Dugaan Penggunaan Nama Anak untuk Pembelian Mobil


Salah satu persoalan yang turut menjadi sorotan dalam kasus Sulis adalah dugaan penggunaan nama anaknya oleh pihak lain untuk keperluan pembelian mobil.


Apabila identitas seseorang digunakan dalam pencatatan transaksi atau kepemilikan aset, data tersebut berpotensi memunculkan persoalan administratif ketika dilakukan pemeriksaan. Terlebih, informasi mengenai aset dan kondisi rumah tangga dapat menjadi bagian dari bahan penilaian sosial ekonomi.


Namun, hubungan langsung antara dugaan penggunaan nama anak tersebut dan penetapan desil kesejahteraan Sulis tetap perlu dipastikan melalui pemeriksaan dokumen serta keterangan instansi yang berwenang.


Dengan demikian, persoalan ini tidak seharusnya disimpulkan hanya berdasarkan dugaan atau informasi yang beredar. Diperlukan penelusuran untuk mengetahui bagaimana identitas tersebut digunakan, apakah terdapat pencatatan kepemilikan aset atas nama yang bersangkutan, serta apakah data itu benar-benar memengaruhi pemeringkatan kesejahteraannya.


Kejelasan mengenai hal tersebut menjadi penting agar tidak muncul kesimpulan yang keliru dan agar hak warga tetap terlindungi.


Dinas Sosial Turun Memeriksa Kondisi Warga


Menanggapi persoalan tersebut, Dinas Sosial Kota Surabaya bersama unsur kewilayahan melakukan pemeriksaan terhadap kondisi Sulis dan pencocokan data administrasi.


Langkah pemeriksaan lapangan menjadi bagian penting dalam memastikan apakah informasi yang tercatat dalam sistem telah sesuai dengan keadaan sosial ekonomi warga yang sebenarnya.


Berdasarkan informasi yang diberitakan, Kepala Dinas Sosial Kota Surabaya, Antiek Sugiharti, menyampaikan bahwa status Sulis sebelumnya tercatat pada desil 6. Dalam pemutakhiran data triwulan III tahun 2026, status kesejahteraannya kemudian ditempatkan pada desil 1.


Perubahan tersebut menunjukkan adanya pembaruan dalam pencatatan status kesejahteraan Sulis. Kendati demikian, pembaruan desil perlu dibedakan dari keputusan pemberian bantuan karena masing-masing program mempunyai kriteria dan tahapan tersendiri.


Masyarakat juga perlu memahami bahwa pemerintah daerah memiliki peran dalam melakukan verifikasi dan mengusulkan pembaruan data, sedangkan penetapan pemeringkatan dalam sistem nasional mengikuti mekanisme dan kewenangan instansi pengelola data terkait.


Oleh sebab itu, tindak lanjut terhadap kasus Sulis tidak hanya menyangkut perubahan status dalam sistem, tetapi juga kepastian bahwa data yang telah diperbaiki dapat digunakan secara tepat dalam proses penilaian program bantuan.


Pentingnya Ketelitian dalam Penggunaan Identitas


Kasus ini menjadi pengingat bagi masyarakat agar lebih berhati-hati ketika memberikan atau meminjamkan dokumen kependudukan kepada pihak lain.


KTP, nomor induk kependudukan (NIK), kartu keluarga, serta dokumen pendukung lainnya merupakan identitas resmi yang dapat digunakan dalam berbagai proses administrasi. Penggunaannya untuk kepentingan pihak lain tanpa pemahaman yang jelas berpotensi menimbulkan persoalan di kemudian hari.


Masyarakat perlu memastikan tujuan penggunaan identitas, memahami dokumen yang ditandatangani, serta meminta penjelasan apabila diminta menjadi pihak yang tercantum dalam transaksi atau pencatatan aset.


Jika ditemukan penggunaan identitas yang tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya, pemilik identitas sebaiknya segera meminta klarifikasi dan menempuh mekanisme pembetulan melalui instansi terkait.


Langkah tersebut diperlukan untuk mencegah munculnya masalah administratif yang dapat berdampak terhadap berbagai layanan publik.


Di sisi lain, persoalan ini juga menjadi pengingat bahwa pemeriksaan data pemerintah perlu dilakukan secara hati-hati. Informasi mengenai kepemilikan aset, hubungan keluarga, dan keadaan ekonomi harus diverifikasi agar tidak menimbulkan penilaian yang keliru terhadap warga.


Pemutakhiran Data Bansos Harus Berkelanjutan


Akurasi data menjadi salah satu tantangan dalam pelaksanaan program perlindungan sosial. Perubahan kondisi ekonomi keluarga, perpindahan tempat tinggal, perubahan kepemilikan aset, maupun kesalahan pencatatan dapat menyebabkan informasi yang tersimpan tidak lagi mencerminkan keadaan terbaru.


Oleh karena itu, pemutakhiran data perlu dilakukan secara berkala dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, kelurahan, petugas pendataan, dan masyarakat.


Dalam kasus warga yang merasa status kesejahteraannya tidak sesuai, jalur pengaduan dan sanggahan perlu dimanfaatkan untuk meminta pemeriksaan ulang. Warga dapat mencari informasi melalui kelurahan atau kanal resmi pemerintah yang melayani pemutakhiran data sosial ekonomi.


Proses tersebut idealnya disertai penjelasan yang mudah dipahami mengenai status data, hasil pemeriksaan, serta langkah yang harus ditempuh apabila ditemukan ketidaksesuaian.


Dengan mekanisme yang jelas, warga tidak hanya mengetahui perubahan status dalam sistem, tetapi juga memahami bagaimana hasil pemutakhiran tersebut berpengaruh terhadap proses pengajuan bantuan.


Jangan Sampai Warga Membutuhkan Terhambat Persoalan Administrasi


Kisah Sulis menjadi gambaran bahwa persoalan administrasi dapat membawa dampak nyata bagi masyarakat, terutama mereka yang hidup dalam keterbatasan ekonomi.


Bagi warga yang menggantungkan penghasilan pada pekerjaan informal, seperti memulung, ketepatan pendataan menjadi hal penting agar kondisi sosial ekonominya dapat dinilai secara proporsional.


Pemerintah perlu memastikan bahwa proses pendataan tidak hanya mengandalkan informasi yang tercatat, tetapi juga memperhatikan hasil verifikasi dan perubahan keadaan masyarakat di lapangan.


Pada saat yang sama, masyarakat perlu diberikan akses yang memadai untuk menyampaikan keberatan, melengkapi dokumen, serta meminta koreksi apabila terdapat informasi yang tidak sesuai.


Penanganan yang transparan dan terkoordinasi akan membantu mencegah kesalahpahaman sekaligus memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap sistem perlindungan sosial.


Menunggu Kepastian Tindak Lanjut


Perubahan status kesejahteraan Sulis menjadi perkembangan penting dalam penanganan persoalan yang dialaminya. Namun, tindak lanjut tetap diperlukan untuk memastikan bahwa pembaruan data berjalan sesuai prosedur dan tidak berhenti pada perubahan administrasi semata.


Kepastian mengenai status pengajuan bantuan, kesesuaian data kependudukan, serta hasil pemeriksaan terhadap dugaan penggunaan nama anaknya menjadi hal yang perlu diperjelas oleh pihak terkait.


Pemberitaan ini juga menjadi momentum bagi instansi terkait untuk terus meningkatkan kualitas pendataan, memperkuat verifikasi lapangan, dan memberikan pelayanan pengaduan yang mudah diakses masyarakat.


Pada akhirnya, tujuan utama pendataan kesejahteraan bukan sekadar menempatkan warga dalam kelompok tertentu, melainkan menyediakan informasi yang akurat agar program pemerintah dapat menyasar masyarakat sesuai ketentuan dan kebutuhan.


Liputan12.com – Kasus Sulis Setyowati di Surabaya menegaskan pentingnya ketepatan data, kehati-hatian dalam penggunaan identitas kependudukan, serta pemeriksaan kondisi nyata masyarakat. Dengan pemutakhiran yang transparan dan pengawasan yang berkelanjutan, diharapkan persoalan serupa dapat ditangani secara tepat sehingga warga yang membutuhkan tidak dirugikan oleh ketidaksesuaian administrasi.




Editor : Redaksi 

×
Berita Terbaru Update