- -->

Notification

×

Iklan

Iklan

M. Noer dan Mimpi Besar Menghubungkan Jawa-Madura: Dari Pamong Desa hingga Gubernur Jatim

Selasa, 06 Oktober 2026 | 10/06/2026 01:09:00 AM WIB | 0 Views Last Updated 2026-10-05T18:17:21Z


Suasana khidmat menyelimuti upacara peringatan Hari Kebangkitan Nasional di Jawa Timur, Senin (05/10/2026). Seorang pejabat daerah dengan komitmen pembangunan hadir bersama jajaran Forkopimda, TNI-Polri dan tokoh masyarakat, menegaskan pentingnya persatuan sebagai fondasi kemajuan bangsa.


Sampang, Liputan12.com — Jauh sebelum Jembatan Suramadu berdiri kokoh membentang di atas Selat Madura, pernah ada seorang tokoh yang berulang kali menyuarakan satu gagasan besar: Jawa dan Madura harus terhubung.


Tokoh itu adalah Raden Panji Haji Muhammad Nur, yang lebih dikenal dengan nama M. Noer.


Bagi masyarakat Jawa Timur dan Madura, nama M. Noer tidak sekadar tercatat sebagai mantan Gubernur Jawa Timur. Ia merupakan bagian dari perjalanan panjang pembangunan daerah sekaligus sosok yang meninggalkan gagasan besar mengenai masa depan Madura.




Yang menarik, perjalanan M. Noer menuju panggung pemerintahan tidak dimulai dari posisi tinggi.


Ia memulai pengabdiannya dari bawah.


Pada 1 Juli 1939, M. Noer mengawali perjalanan kariernya sebagai calon pangreh praja di Kabupaten Sumenep. Dari sana, kariernya perlahan menanjak. Ia pernah menjadi mantri di Bangkalan, kemudian Asisten Wedana di Arosbaya, sebelum dipercaya menjadi Residen Madura di Pamekasan pada 1965–1967.


Pengalaman panjang bersentuhan langsung dengan masyarakat dan pemerintahan di berbagai wilayah Madura menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.


Hingga akhirnya, kepercayaan yang lebih besar datang.


Pada 23 Januari 1971, M. Noer resmi dilantik sebagai Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Timur di Gedung Gelora Pancasila, Surabaya.


Selama memimpin Jawa Timur hingga 1976, pembangunan menjadi salah satu perhatian penting. Madura sebagai tanah kelahirannya juga tidak luput dari gagasan besar yang dibawanya.


Dari Gubernur hingga Diplomat


Usai menyelesaikan masa jabatannya sebagai gubernur, pengabdian M. Noer tidak berhenti.


Pada 1976 hingga 1980, ia dipercaya menjadi Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Prancis.


Di negeri tersebut, M. Noer membawa nama Indonesia melalui pendekatan diplomasi dan kebudayaan. Upaya memperkenalkan Indonesia kepada masyarakat internasional menjadi bagian dari kiprahnya sebagai diplomat.


Namun, dari sekian panjang perjalanan kariernya, ada satu gagasan yang kemudian menjadi bagian paling kuat dalam ingatan masyarakat Madura.


Jembatan Suramadu.


“Saya Akan Berenang Menyeberangi Selat Madura”


Saat itu, gagasan membangun jembatan yang menghubungkan Surabaya dan Madura bukanlah perkara sederhana.


Madura dan Jawa dipisahkan oleh Selat Madura. Aktivitas masyarakat, distribusi barang, mobilitas ekonomi, pendidikan hingga berbagai kebutuhan sosial selama bertahun-tahun sangat bergantung pada jalur penyeberangan.


M. Noer melihat persoalan tersebut bukan semata sebagai persoalan transportasi.


Baginya, keterhubungan Jawa dan Madura juga berkaitan dengan masa depan pembangunan masyarakat Madura.


Tekad tersebut bahkan dikenang melalui sebuah pernyataan yang kemudian menjadi legenda:


«“Jika Suramadu tidak dibangun, saya akan berenang menyeberangi Selat Madura.”»


Ucapan itu menjadi simbol kuat dari besarnya keinginan M. Noer agar jembatan penghubung Jawa-Madura benar-benar terwujud.


Puluhan tahun kemudian, gagasan tersebut akhirnya menjadi kenyataan.


Jembatan Suramadu berdiri membentang di atas Selat Madura dan menjadi salah satu infrastruktur penting yang menghubungkan Surabaya dengan Pulau Madura.


Wasiat Terakhir yang Penuh Makna


Ada kisah lain yang membuat hubungan M. Noer dengan Suramadu semakin lekat.


Menjelang akhir hayatnya, M. Noer meninggalkan wasiat agar dirinya disalatkan di tiga masjid, yakni Masjid Al-Falah Surabaya, Masjid Agung Bangkalan, dan Masjid Agung Sampang.


Tidak berhenti di sana.


Ia juga berpesan agar jenazahnya diantarkan melewati Jembatan Suramadu.


Seolah ingin menutup perjalanan hidupnya dengan melewati jalur yang dahulu menjadi bagian dari impian besarnya.


M. Noer wafat pada Jumat, 16 April 2010, dalam usia 92 tahun.


Setelah wasiatnya ditunaikan, jenazahnya kemudian dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga di Kampung Sumur Pompah, Kelurahan Rongtengah, Kecamatan Sampang, Madura.


Warisan yang Melampaui Jabatan


M. Noer telah lama meninggalkan dunia pemerintahan. Namun, namanya masih menjadi bagian dari cerita pembangunan Jawa Timur dan Madura.


Perjalanan hidupnya menunjukkan bagaimana seorang pamong yang memulai karier dari bawah dapat mencapai posisi tertinggi di tingkat provinsi dan kemudian dipercaya membawa nama Indonesia di panggung diplomasi internasional.


Lebih dari sekadar jabatan, warisan M. Noer terletak pada gagasan yang ia tinggalkan.


Menghubungkan Jawa dan Madura.


Hari ini, ketika kendaraan melintas di atas Jembatan Suramadu, mungkin tidak semua orang mengingat sosok yang dahulu begitu kuat menyuarakan gagasan tersebut.


Namun bagi sejarah Madura, nama M. Noer tetap memiliki tempat tersendiri.


Sebab sebelum beton dan baja membentang di atas Selat Madura, terlebih dahulu ada sebuah mimpi besar tentang keterhubungan dua pulau.


Dan M. Noer adalah salah satu tokoh yang ikut menanamkan mimpi itu.





Penulis : Saladin



×
Berita Terbaru Update