Cisolok, Liputan12.com – Pengabdian Brigadir Akka Mahpudin kepada dunia pendidikan di Kabupaten Sukabumi terus berlanjut. Bhabinkamtibmas Polsek Cisolok tersebut kembali menghadirkan gagasan pendidikan berbasis masyarakat melalui Pondok Pesantren Nusantara dengan program unggulan Pesantren Mobile.
Setelah sebelumnya menggagas dan membangun SMK Bhayangkara gratis di Kampung Pamugaran, kini Akka memperluas ikhtiarnya ke bidang pendidikan keagamaan. Program tersebut dirancang untuk mendekatkan akses pendidikan pesantren kepada anak-anak yang selama ini memiliki keterbatasan untuk belajar di pondok pesantren secara konvensional.
Peresmian yayasan sekaligus peletakan batu pertama pembangunan Masjid Darul Iman yang nantinya menjadi salah satu pusat kegiatan Pondok Pesantren Nusantara dilakukan oleh Kapolres Sukabumi AKBP Benny Cahyadi, Rabu (7/10/2026), di Kecamatan Cisolok.
Kisah pengabdian Akka di bidang pendidikan bukanlah sesuatu yang baru. Namanya sempat masuk dalam bursa Hoegeng Awards 2022, sebuah momentum yang turut menyoroti kiprahnya dalam membantu masyarakat.
Sejak dilantik sebagai anggota Polri pada 2014 dan ketika masih berpangkat Briptu, Akka mengaku rela menyisihkan penghasilannya untuk mewujudkan cita-cita mendirikan sekolah gratis bagi anak-anak yatim dan dhuafa. Bahkan, ia pernah menjaminkan SK kedinasannya ke bank untuk mendukung upaya tersebut.
Langkah itu tidak berhenti pada pembangunan sekolah. Bersama para guru, Akka juga turun langsung ke berbagai pelosok kampung untuk mencari dan mengajak anak-anak yang putus sekolah agar kembali mendapatkan kesempatan belajar melalui SMK Bhayangkara.
Semangat jemput bola tersebut kini dibawa ke program Pesantren Mobile.
Akka menjelaskan, gagasan Pondok Pesantren Nusantara berangkat dari kondisi masih adanya keluarga yang memiliki keterbatasan ekonomi sehingga tidak mudah mengirimkan anaknya untuk tinggal dan belajar di pesantren.
«“Kita tahu, tidak semua orang tua mampu menyekolahkan anaknya ke pesantren. Dari situlah ide Pesantren Nusantara dan program Pesantren Mobile ini lahir,” ungkap Akka kepada Liputan12.com.»
Konsep Pesantren Mobile dibuat berbeda dengan sistem pesantren konvensional. Para pengajar nantinya akan mendatangi sekolah-sekolah umum sesuai jadwal yang telah disusun untuk memberikan pembelajaran agama kepada para peserta didik.
Selain pembelajaran tatap muka, program tersebut juga akan didukung sistem pembelajaran daring. Akka mengatakan pihaknya telah menyiapkan sebuah website khusus yang dapat dimanfaatkan para santri untuk mengakses materi pembelajaran.
«“Kita buat website resmi, jadi santri dan santriwati tetap bisa belajar online. Kita juga gandeng guru PAI yang sudah ada di sekolah masing-masing untuk jadi koordinator pesantren kita, agar tidak mengganggu jam belajar,” jelasnya.»
Program Pesantren Mobile tersebut diproyeksikan menjangkau lebih dari 70 sekolah di Kecamatan Cisolok, yang terdiri dari sekitar 40 SD, 20 SMP, serta 7 SMA/SMK.
Meski kegiatan pembelajaran dilakukan secara keliling dan memanfaatkan teknologi digital, pengelola menyatakan para peserta tetap akan mendapatkan ijazah serta legalitas resmi sebagai santri Pondok Pesantren Nusantara, sesuai ketentuan yang berlaku.
Bagi Akka, konsep tersebut bukan sekadar menghadirkan kegiatan pendidikan agama, tetapi juga berupaya membuka akses seluas-luasnya bagi anak-anak yang memiliki keterbatasan untuk mengikuti pendidikan pesantren secara reguler.
Gagasan tersebut mendapat apresiasi dari Kapolres Sukabumi AKBP Benny Cahyadi. Menurutnya, kegiatan yang dilakukan Akka menunjukkan bentuk pengabdian anggota Polri yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat.
«“Ini bukti nyata semangat Polri bersama masyarakat seperti yang ditekankan Bapak Kapolri. Apa yang dilakukan Pak Akka adalah bentuk kehadiran polisi yang sesungguhnya. Berawal dari sekolah gratis, kini lanjut dengan fasilitas pesantren untuk umat,” kata AKBP Benny Cahyadi.»
Dari sekolah gratis hingga pesantren keliling, kiprah Brigadir Akka kini kembali menempatkan pendidikan sebagai ruang pengabdian. Konsep Pesantren Mobile diharapkan mampu membawa pembelajaran agama lebih dekat kepada anak-anak, terutama mereka yang selama ini terkendala jarak maupun kemampuan ekonomi.
Penulis: Ajid Alvaro



