Lamongan, Liputan12.com – Peringatan haul ulama besar Nusantara, KH. Sholeh Darat, di kompleks pemakaman Bergota, Semarang, Jawa Tengah, menjadi momentum untuk mengenang perjuangan dakwah, keteladanan, serta warisan keilmuan Islam yang terus hidup di tengah masyarakat.
Ribuan peziarah dari berbagai daerah menghadiri kegiatan tersebut. Suasana khidmat menyelimuti rangkaian acara yang diisi dengan doa bersama, pembacaan tahlil, serta pengajian untuk mengenang kiprah dan pemikiran ulama yang memiliki pengaruh besar dalam perkembangan keilmuan Islam di Indonesia.
Di antara para peziarah yang hadir, tampak Ketua Apdesi Merah Putih Kabupaten Lamongan, H. Zuli Kasmawanto, S.IP., M.IP. Kehadirannya tidak hanya menjadi bentuk penghormatan kepada KH. Sholeh Darat, tetapi juga sebagai momentum untuk memanjatkan doa bagi kemajuan dan keberkahan desa-desa di Kabupaten Lamongan.
Dalam kesempatan tersebut, Zuli berharap nilai-nilai perjuangan, keikhlasan, dan pengabdian yang diwariskan para ulama dapat menjadi inspirasi bagi para pemimpin desa dalam menjalankan amanah pemerintahan serta memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
“KH. Sholeh Darat adalah teladan besar bagi kita semua, terutama dalam menanamkan nilai-nilai keilmuan dan keagamaan yang membumi. Semangat pencerahan dan pengabdian beliau harus terus kita hidupkan, termasuk dalam mengelola pemerintahan desa agar semakin berkah, transparan, dan berkeadilan,” ujar H. Zuli Kasmawanto di sela-sela kegiatan, Jumat (9/10/2026).
Keteladanan Ulama sebagai Inspirasi Pembangunan Desa
Menurut Zuli, warisan pemikiran dan perjuangan KH. Sholeh Darat memiliki relevansi dengan tantangan pembangunan masyarakat saat ini. Nilai keagamaan, pendidikan, integritas, dan kepedulian terhadap sesama merupakan landasan penting yang dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat maupun penyelenggaraan pemerintahan desa.
Ia menilai, kepala desa tidak hanya memiliki tanggung jawab administratif, tetapi juga mengemban amanah sosial untuk memastikan pembangunan berjalan dengan memperhatikan kebutuhan masyarakat.
Karena itu, semangat keteladanan para ulama diharapkan mampu memperkuat komitmen para kepala desa di Lamongan dalam membangun tata kelola pemerintahan yang bertanggung jawab, mengedepankan musyawarah, serta menjunjung tinggi kepentingan masyarakat.
Bagi jajaran Apdesi Merah Putih Kabupaten Lamongan, momentum haul tersebut juga menjadi pengingat bahwa pembangunan desa tidak semata-mata diukur melalui kemajuan infrastruktur, tetapi juga melalui penguatan moral, kerukunan sosial, pendidikan, dan kesejahteraan warga.
Doa yang dipanjatkan dalam ziarah tersebut diharapkan membawa keberkahan bagi seluruh desa di Lamongan, sekaligus memberikan semangat kepada para pemangku kepentingan desa untuk terus bekerja dengan tulus dan menjaga kepercayaan masyarakat.
Mengenang Warisan Keilmuan KH. Sholeh Darat
KH. Sholeh Darat dikenal sebagai ulama yang memiliki kontribusi penting dalam perkembangan pendidikan dan pemikiran Islam di Nusantara. Melalui pengajaran dan karya-karyanya, beliau turut meletakkan fondasi keilmuan yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Pengaruh keilmuannya juga dikaitkan dengan sejumlah tokoh besar, termasuk KH. Hasyim Asy’ari, KH. Ahmad Dahlan, dan R.A. Kartini, yang memiliki perjalanan perjuangan masing-masing dalam bidang agama, pendidikan, dan kehidupan sosial.
Peringatan haul menjadi salah satu sarana bagi masyarakat untuk kembali mengenang jasa para ulama sekaligus mengambil pelajaran dari perjuangan mereka dalam membangun peradaban yang berlandaskan ilmu pengetahuan, nilai keagamaan, dan kepedulian terhadap sesama.
Rangkaian kegiatan di kompleks makam Bergota tersebut berlangsung dalam suasana penuh kekhusyukan. Kehadiran para peziarah dari berbagai daerah mencerminkan kuatnya penghormatan masyarakat terhadap warisan keilmuan dan keteladanan ulama Nusantara.
Melalui momentum ini, H. Zuli Kasmawanto berharap semangat pengabdian para ulama dapat terus menginspirasi pembangunan desa-desa di Kabupaten Lamongan.
Ia berharap para kepala desa senantiasa diberikan kekuatan dan keikhlasan dalam menjalankan amanah, sehingga setiap kebijakan dan program pembangunan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dengan demikian, nilai-nilai religius tidak hanya menjadi bagian dari kegiatan seremonial, tetapi juga dapat diwujudkan dalam tindakan nyata melalui pelayanan publik, pembangunan yang berkeadilan, serta upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.
(Ther)



