- -->

Notification

×

Iklan

Iklan

Bukan Polisi Biasa! Kisah Irjen Asep Guntur dan Komunitas Bagong Mogok yang Bedah Rumah Warga Miskin di Pelabuhan ratu

Kamis, 08 Oktober 2026 | 10/08/2026 09:38:00 PM WIB | 0 Views Last Updated 2026-10-08T14:38:57Z


Pelabuhan Ratu, Liputan12.com – Pemandangan mengharukan terjadi di Desa Cibodas, Kecamatan Pelabuhan ratu, Kabupaten Sukabumi, Kamis (8/10/2026). Sebuah rumah yang dulu tidak layak huni, kini telah berubah menjadi hunian yang layak, bersih, dan nyaman. Semua berkat uluran tangan Komunitas Sosial Bagong Mogok (BM).


Aksi sosial ini bukan sekadar seremonial. Komunitas Bagong Mogok meresmikan dan menyerahkan langsung kunci rumah layak huni tersebut kepada warga kurang mampu yang selama ini hidup dalam keterbatasan.


Acara peresmian berlangsung penuh kehangatan. Hadir langsung sang pendiri Komunitas Bagong Mogok, Irjen Pol. H. Asep Guntur Rahayu, Ketua Umum AKBP (Purn) Hilman Muslim, Kapolres Sukabumi AKBP Benny Cahyadi, Wakil Ketua Gopar Hendra Gunawan, Bupati Sukabumi H. Asep Japar, Wakil Bupati H. Andreas, jajaran Forkopimcam Pelabuhan ratu, hingga warga penerima manfaat yang tak kuasa menahan haru.


Komunitas Bagong Mogok bukanlah komunitas baru. Lahir di Cianjur pada tahun 2015 atas inisiasi Irjen Pol. Asep Guntur Rahayu, komunitas ini konsisten memegang prinsip Sunda yang kuat: "Sedekah Polah Ngabela Nu Susah" – berjuang sekuat tenaga demi membela mereka yang sedang kesusahan.


"Barusan kita resmikan dan serah terima rumah layak huni dan sekolah yang direnovasi bersama Pak Kapolres Sukabumi dan Komunitas Bagong Mogok. Awalnya memang di Cianjur, kebetulan Pak Kapolres sekarang dinas di sini, jadi aksi di Kabupaten Sukabumi jadi lebih intens," ungkap Irjen Asep Guntur di lokasi.


Menariknya, kiprah Bagong Mogok tidak hanya di Sukabumi dan Cianjur. Jaringannya sudah menggurita hingga Jakarta, Jawa Tengah, Bali, Lampung, Riau, bahkan sampai ke Jeddah, Arab Saudi yang fokus pada advokasi dan bantuan bagi Tenaga Migran Indonesia.


Lantas, apa arti Bagong Mogok? Irjen Asep menjelaskan, Bagong melambangkan ketangguhan dan semangat juang pantang menyerah. Mogok bukan berarti berhenti, tapi mogok dari ketidakpedulian.


"Kegiatan kita murni sosial. Mulai dari bedah rumah tidak layak huni (rutilahu), bangun jembatan, perbaiki sarana ibadah, bangun rumah tahfiz, sampai bantuan langsung seperti sembako, santunan anak yatim, pasang lampu jalan, dan bakti sosial di pondok pesantren," jelasnya.


Semua dana aksi sosial ini, kata dia, berasal dari keikhlasan. Dikumpulkan dari iuran anggota, pengurus, para donatur, hingga hasil dari event-event komunitas yang disatukan untuk membantu sesama.


"Ini adalah kewajiban kemanusiaan kita. Saling membantu mereka yang kekurangan akses pendidikan, ekonomi, atau yang tertimpa musibah," tegasnya.


Rasa syukur mendalam disampaikan oleh Kapolsek Simpenan, AKP Bayu Sunarti Agustina, yang mewakili warga penerima manfaat.


"Sebagai Kapolsek Simpenan dan mewakili warga, saya ucapkan terima kasih dan syukur alhamdulillah. Terima kasih kepada Bapak Kapolres dan Komunitas Bagong Mogok atas kepeduliannya terhadap warga kami. Semoga apa yang diberikan dibalas berlipat ganda," tuturnya dengan haru.


Ia pun berharap, aksi tulus Bagong Mogok ini bisa menjadi inspirasi bagi komunitas-komunitas lain untuk tidak ragu berbagi.


"Semoga Komunitas Bagong Mogok diberi kesehatan, panjang umur, semakin sukses, dan bisa menginspirasi komunitas lain untuk berbagi rezeki kepada warga yang membutuhkan," pungkasnya.


(Penulis: Ajid) 

×
Berita Terbaru Update