- -->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tanamkan Rasa Syukur Sejak Dini, SDN Babatkumpul Gelar Kirab Budaya Bersih Desa

Kamis, 10 September 2026 | 9/10/2026 04:48:00 PM WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-10T09:50:13Z

Semarak gunungan hasil bumi dan pakaian adat Nusantara mewarnai Dusun Kwanon, Desa Babatkumpul. Ratusan siswa SDN Babatkumpul bersama warga menggelar Kirab Budaya dalam tradisi Sedekah Bumi sebagai wujud syukur atas hasil panen sekaligus upaya menanamkan kecintaan budaya lokal sejak dini, Kamis (10/9/2026).

Lamongan, Liputan12.com – Menanamkan rasa syukur dan kecintaan terhadap budaya lokal sejak usia dini terus dilakukan oleh SDN Babatkumpul, Kecamatan Pucuk, Kabupaten Lamongan. Salah satunya diwujudkan melalui kegiatan kirab budaya dalam rangka tradisi Sedekah Bumi yang digelar di Dusun Kwanon, Desa Babatkumpul, Kamis (10/9/2026).

Kegiatan tersebut berlangsung meriah dengan melibatkan para siswa, guru, serta masyarakat Desa Babatkumpul. Kirab budaya mengambil rute mengelilingi wilayah Dusun Kwanon dengan membawa gunungan yang dihias menggunakan berbagai hasil bumi warga setempat.

Antusiasme masyarakat terlihat sepanjang pelaksanaan kirab. Warga turut berpartisipasi dan menyaksikan arak-arakan yang semakin semarak dengan iringan berbagai kesenian. Kehadiran kesenian tradisional tersebut tidak hanya menambah kemeriahan acara, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mengenalkan budaya kepada generasi muda.

Kepala SDN Babatkumpul, Kecamatan Pucuk, Kabupaten Lamongan, Kusniatur Rahma, S.Pd., mengatakan bahwa kirab budaya tingkat sekolah dasar dalam rangka Sedekah Bumi merupakan salah satu sarana pendidikan bagi anak-anak untuk mengenal dan melestarikan tradisi budaya yang ada di masyarakat.

Menurutnya, kegiatan tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi juga memiliki nilai pendidikan dan pembentukan karakter bagi para siswa.

“Kirab budaya tingkat sekolah dasar dalam rangka Sedekah Bumi adalah kegiatan arak-arakan tradisional yang melibatkan siswa-siswi SD untuk melestarikan budaya sekaligus merayakan wujud syukur atas hasil bumi,” ujar Kusniatur kepada media.

Ia menjelaskan, salah satu pesan penting yang ingin ditanamkan melalui kegiatan tersebut adalah mengajarkan anak-anak untuk bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rezeki dan hasil panen yang diberikan.

“Makna kegiatan ini adalah sebagai wujud syukur serta mengajarkan anak-anak sejak dini untuk bersyukur kepada Tuhan atas rezeki dan hasil panen,” jelasnya.

Dalam pelaksanaan kirab, para siswa juga diberikan ruang untuk menunjukkan kreativitas. Mereka mengenakan pakaian adat Nusantara maupun busana kreatif yang dibuat dari bahan daur ulang. Selain itu, para siswa turut membawa hasil bumi dan miniatur gunungan dalam arak-arakan mengelilingi wilayah desa.

Kegiatan juga dimeriahkan dengan berbagai penampilan kesenian lokal, seperti drumben, tarian tradisional, serta pementasan seni sederhana yang melibatkan para siswa.

Sementara itu, Camat Pucuk H. Nurul Misbah, S.H., M.M., yang hadir di tengah-tengah masyarakat Desa Babatkumpul, menyampaikan rasa syukur karena masih diberikan kesempatan untuk bersilaturahmi sekaligus menghadiri tradisi Sedekah Bumi yang hingga kini masih dilestarikan masyarakat.

“Alhamdulillah, saya bersama-sama dengan jajaran pemerintah mengucapkan rasa syukur pada kesempatan ini masih bisa bersilaturahmi sekaligus menghadiri tasyakuran Sedekah Bumi. Ini sebagai bentuk rasa syukur atas limpahan nikmat yang Allah SWT berikan sehingga sebagai bentuk rasa syukur itu warga desa menggelar Sedekah Bumi,” ucapnya.

Pria yang akrab disapa Pak Nurul tersebut juga mengingatkan masyarakat agar senantiasa mensyukuri berbagai nikmat yang telah diberikan Tuhan. Menurutnya, rasa syukur menjadi bagian penting dalam kehidupan bermasyarakat karena dapat menghadirkan keberkahan sekaligus memperkuat hubungan antarsesama.

“Kita diberikan kekayaan alam luar biasa seperti ini. Dengan rasa syukur akan didatangkan nikmat yang bertambah banyak dan berkah,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Camat Pucuk menilai tradisi Sedekah Bumi tidak hanya menjadi ungkapan rasa syukur atas hasil bumi, tetapi juga mencerminkan semangat kebersamaan dan kepedulian sosial masyarakat.

Hal tersebut terlihat dari banyaknya hasil bumi dan makanan yang dibawa serta diarak dalam kegiatan kirab. Tradisi tersebut menjadi momentum bagi masyarakat untuk saling berbagi dan mempererat tali silaturahmi.

“Kami berharap tradisi Sedekah Bumi bukan hanya sekadar ritual keagamaan, tetapi juga menjadi sarana untuk mempererat silaturahmi dan gotong royong antarwarga. Ini adalah momen di mana seluruh warga desa berkumpul untuk bersama-sama mengungkapkan rasa syukur dan memohon berkah,” tuturnya.

Melalui kegiatan tersebut, nilai-nilai budaya, rasa syukur, kebersamaan, dan gotong royong diharapkan terus tumbuh di kalangan generasi muda. Keterlibatan siswa dalam kirab budaya juga menjadi langkah positif untuk menjaga agar tradisi masyarakat tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi berikutnya.



(ther)

×
Berita Terbaru Update