Satarmese, Manggarai, Liputan12.com – Gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo tidak hanya meninggalkan kerusakan pada bangunan, tetapi juga menghadirkan tantangan baru bagi dunia pendidikan di wilayah terdampak.
Salah satunya dirasakan SD Inpres Inenggaja, Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai. Setelah bangunan sekolah mengalami keretakan akibat guncangan gempa, kegiatan belajar mengajar harus dilakukan dengan kondisi serba terbatas.
Di tengah keterbatasan tersebut, guru, orang tua murid, dan masyarakat memilih tidak tinggal diam. Mereka bergotong royong mendirikan tenda darurat di halaman sekolah untuk memastikan kegiatan belajar mengajar tetap dapat berlangsung.
Pemandangan gotong royong itu terlihat pada Senin (28/09/2026). Sejumlah warga memasang bambu sebagai rangka tenda, sementara terpal biru digunakan sebagai atap pelindung. Tenda dibangun di area terbuka sekolah sebagai ruang belajar sementara sembari menunggu kondisi bangunan sekolah mendapatkan asesmen lebih lanjut.
Langkah tersebut menjadi bentuk kepedulian masyarakat terhadap keberlangsungan pendidikan anak-anak di tengah situasi pascabencana.
Sekolah Tidak Ingin Anak Terlalu Lama Libur
Pihak sekolah menyadari bahwa pembelajaran tidak dapat sepenuhnya bergantung pada kondisi bangunan yang terdampak. Karena itu, tenda darurat menjadi pilihan sementara agar para siswa tetap mendapatkan hak mereka untuk belajar.
"Kami tidak mau anak-anak terlalu lama libur. Sambil menunggu asesmen dari Dinas, kami buat dulu tenda darurat dari bambu dan terpal seadanya," ujar salah seorang guru di lokasi.
Kondisi tersebut sekaligus menunjukkan kebutuhan mendesak terhadap sarana pendidikan darurat. Tenda yang dibangun secara swadaya tentu belum dapat menggantikan fungsi ruang kelas secara sempurna.
Siswa dan guru masih membutuhkan berbagai fasilitas pendukung, mulai dari tenda yang lebih layak, meja dan kursi, buku pelajaran, hingga perlengkapan belajar lainnya.
Menanti Perhatian Pemerintah
Melalui konfirmasi Liputan12.com, Antonina Viviatrina, S.Pd., Gr., menyampaikan bahwa kondisi SDI Inenggaja masih membutuhkan perhatian dan dukungan dari berbagai pihak.
Ia berharap pemerintah daerah, khususnya Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Manggarai, dapat memberikan perhatian terhadap kondisi sekolah yang terdampak gempa tersebut.
Menurutnya, pembangunan tenda darurat yang dilakukan masyarakat merupakan solusi sementara. Untuk keberlanjutan proses pendidikan, sekolah tetap membutuhkan penanganan dan dukungan yang lebih memadai.
"Harapan kami ada perhatian dan bantuan dari berbagai pihak, terutama Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Manggarai, untuk memperhatikan sekolah ini," ungkap Antonina.
Harapan tersebut menjadi penting mengingat sekolah merupakan salah satu fasilitas dasar yang harus segera dipastikan keberlangsungannya setelah bencana. Anak-anak tetap membutuhkan ruang belajar yang aman, sementara guru juga memerlukan tempat yang layak untuk menjalankan proses pendidikan.
Di tengah kondisi pascagempa, semangat guru dan masyarakat untuk mempertahankan kegiatan belajar mengajar patut menjadi perhatian. Gotong royong memang mampu menjadi solusi awal, tetapi kebutuhan pemulihan sekolah tentu membutuhkan dukungan lebih luas.
Kini, masyarakat berharap asesmen terhadap kondisi bangunan dapat segera dilakukan dan kebutuhan sekolah dapat segera dipetakan. Dengan demikian, penanganan tidak berhenti pada pembangunan tenda darurat, tetapi berlanjut pada penyediaan fasilitas belajar yang aman dan layak bagi para siswa.
Reporter: Yohanes Sindiing
Editor: Tim Liputan12.com





