Flores, Liputan12.com — Ada suara yang lebih menyakitkan daripada bunyi gemuruh bumi: suara anak-anak yang menangis karena takut, suara keluarga yang kehilangan tempat tinggal, dan suara warga yang bertanya-tanya kapan kehidupan mereka kembali normal.
15 Agustus 2026 menjadi hari yang sulit dilupakan masyarakat Flores.
Gempa berkekuatan besar mengguncang bumi Flores. Bagi warga yang merasakannya, itu bukan sekadar angka dalam laporan kebencanaan. Itu adalah detik-detik ketika lantai berguncang, dinding bergerak, barang-barang berjatuhan dan kepanikan menyebar dari rumah ke rumah.
Flores, yang dikenal pula dengan sebutan Nusa Nipa dan Nusa Bunga, kembali dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa manusia tidak pernah benar-benar berkuasa atas alam.
Gempa utama berlalu, tetapi rasa takut tidak serta-merta pergi.
Guncangan susulan yang terus dirasakan membuat sebagian warga harus menjalani hari dengan kecemasan. Malam yang biasanya menjadi waktu beristirahat berubah menjadi waktu penuh kewaspadaan. Rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman justru bisa menjadi sumber ketakutan.
Bagi warga yang rumahnya rusak berat bahkan roboh, persoalannya jauh lebih besar.
Mereka bukan hanya kehilangan bangunan.
Mereka kehilangan ruang tempat keluarga berkumpul, tempat anak-anak belajar, tempat menyimpan kenangan dan tempat berlindung dari hujan serta panas.
Yang Retak Bukan Hanya Dinding
Kerusakan fisik mudah dilihat.
Dinding retak dapat difoto. Rumah roboh dapat dihitung. Atap yang rusak dapat didata. Namun ada kerusakan yang tidak selalu terlihat kamera: trauma manusia.
Terutama anak-anak.
Mereka mungkin tidak mampu menjelaskan apa yang dirasakan. Tetapi ketakutan bisa muncul ketika bumi kembali berguncang, ketika terdengar suara keras, atau ketika mereka harus tidur jauh dari rumah.
Karena itu, pemulihan pascagempa tidak semestinya berhenti pada sembako, tenda, air bersih dan bantuan material.
Trauma healing harus menjadi bagian penting dari pemulihan.
Anak-anak membutuhkan ruang aman. Mereka membutuhkan kesempatan untuk bermain kembali, belajar kembali, tertawa kembali dan perlahan percaya bahwa dunia di sekitar mereka kembali aman.
Sebab membangun kembali rumah tanpa memulihkan penghuninya hanya akan menyelesaikan sebagian persoalan.
Ketika Bencana Menjadi Cermin Kemanusiaan
Gempa Flores seharusnya menjadi momentum untuk melihat kembali bagaimana negara dan masyarakat memperlakukan kelompok yang paling rentan ketika bencana datang.
Berbagai bencana dan persoalan kemanusiaan di Indonesia—mulai dari kebakaran hutan, persoalan HAM, hingga banjir dan bencana alam di sejumlah wilayah—terus mengingatkan bahwa masyarakat membutuhkan kehadiran nyata ketika berada dalam kondisi sulit.
Di sinilah kepentingan publik seharusnya memperoleh perhatian.
Program dan kebijakan publik pada akhirnya tidak hanya dinilai dari besar kecilnya anggaran atau banyaknya kegiatan yang dilaksanakan, tetapi juga dari sejauh mana masyarakat merasakan manfaatnya.
Pertanyaan sederhananya:
Ketika rumah warga roboh, siapa yang datang?
Ketika seorang anak mengalami trauma, siapa yang mendampingi?
Ketika sebuah keluarga kehilangan sumber penghidupan, siapa yang membantu mereka berdiri kembali?
Dan yang paling penting:
Apakah bantuan benar-benar sampai kepada mereka yang paling membutuhkan?
Pertanyaan tersebut bukan untuk mencari siapa yang harus disalahkan. Pertanyaan itu adalah bagian dari tanggung jawab bersama agar penanganan bencana tidak berhenti pada seremoni.
Konsep bonum commune atau kebaikan bersama seharusnya tidak berhenti sebagai gagasan filosofis. Ia harus hadir dalam tindakan nyata: melindungi yang lemah, membantu yang kehilangan, dan memastikan tidak ada korban yang merasa ditinggalkan.
Flores Tidak Bisa Menghindari Gempa, Tetapi Bisa Memperkuat Kesiapsiagaan
Letak Flores di kawasan tektonik aktif membuat ancaman gempa menjadi bagian dari risiko kebencanaan yang harus dihadapi masyarakat.
Manusia memang tidak dapat menghentikan bumi bergerak.
Tetapi manusia dapat mempersiapkan diri.
Edukasi kebencanaan, bangunan yang lebih aman, jalur evakuasi, kesiapan pemerintah daerah, sistem komunikasi darurat, layanan kesehatan, dukungan psikososial dan keterlibatan masyarakat merupakan bagian dari upaya memperkecil dampak ketika bencana kembali terjadi.
Namun semua itu membutuhkan satu hal yang paling mendasar:
solidaritas.
Ketika sebuah keluarga kehilangan rumah, tetangga tidak boleh hanya menjadi penonton.
Ketika sebuah desa mengalami kesulitan, desa lain dapat menjadi tangan yang membantu.
Ketika anak-anak mengalami trauma, masyarakat dapat menjadi ruang pertama yang memberikan rasa aman.
Ketika bantuan datang dari berbagai penjuru, distribusinya harus dilakukan secara adil, transparan dan berdasarkan kebutuhan.
Sebab bencana tidak mengenal status sosial.
Gempa tidak bertanya siapa yang kaya dan siapa yang miskin.
Gempa tidak bertanya siapa yang memiliki kekuasaan dan siapa yang tidak.
Ketika bumi bergerak, semua manusia sama-sama membutuhkan keselamatan.
Jangan Biarkan Korban Menanggung Luka Sendirian
Di tengah reruntuhan, selalu ada sesuatu yang tidak boleh ikut runtuh: rasa kemanusiaan.
Bantuan memang penting. Tetapi kepedulian jauh lebih panjang umurnya.
Hari ini mungkin warga membutuhkan makanan. Besok mereka membutuhkan tempat tinggal. Setelah itu mereka membutuhkan pekerjaan, sekolah, layanan kesehatan dan dukungan untuk membangun kembali kehidupan.
Karena itu, solidaritas kemanusiaan tidak boleh hanya muncul ketika kamera hadir.
Ia harus bertahan ketika pemberitaan mulai berkurang.
Ia harus tetap hidup ketika perhatian publik berpindah kepada persoalan lain.
Sebab bagi korban, bencana tidak selesai ketika berita tentang gempa berhenti diberitakan.
Bagi mereka, perjuangan justru baru dimulai.
Rumah Bisa Dibangun Kembali, Tetapi Harapan Harus Dijaga
Flores membutuhkan tangan-tangan yang mau bekerja bersama.
Pemerintah, masyarakat, relawan, organisasi kemanusiaan, lembaga keagamaan, dunia usaha, akademisi dan berbagai kelompok sosial memiliki ruang untuk mengambil bagian.
Tidak harus selalu dalam bentuk bantuan besar.
Satu dus air mineral berarti.
Satu paket makanan berarti.
Satu jam mendampingi anak-anak juga berarti.
Satu kunjungan kepada keluarga korban berarti.
Satu tindakan memastikan bantuan sampai kepada orang yang tepat juga berarti.
Karena kemanusiaan tidak selalu hadir dalam tindakan besar.
Sering kali ia tumbuh dari tindakan kecil yang dilakukan dengan ketulusan.
Gempa boleh meretakkan dinding rumah warga Flores.
Tetapi jangan sampai ketidakpedulian meretakkan persaudaraan.
Jangan sampai korban bencana hanya menjadi angka dalam laporan.
Jangan sampai anak-anak hanya dikenang ketika kamera datang.
Dan jangan sampai setelah perhatian publik berlalu, mereka kembali berjuang sendirian.
Flores sedang membutuhkan lebih dari sekadar bantuan. Flores membutuhkan solidaritas.
Sebab rumah yang retak dapat dibangun kembali.
Atap yang runtuh dapat diganti.
Jalan yang rusak dapat diperbaiki.
Tetapi jika rasa kemanusiaan ikut runtuh, tidak ada pembangunan fisik yang cukup untuk mengembalikannya.
Saat bumi mengguncang Flores, saatnya manusia saling menguatkan.
Saat rumah retak, kemanusiaan harus merekat.
Yohanes
