Lamongan, Liputan12.com – Pemerintah Desa Jatipayak, Kecamatan Modo, Kabupaten Lamongan, terus mendorong penguatan ekonomi masyarakat melalui pengembangan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Jatimulya. Salah satu langkah yang kini mulai menunjukkan hasil positif adalah pengelolaan unit usaha peternakan ayam petelur.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah desa dalam mengoptimalkan potensi lokal sekaligus mendukung ketahanan pangan. Pengembangan usaha ayam petelur dinilai memiliki prospek cukup menjanjikan karena telur merupakan salah satu kebutuhan pangan masyarakat yang permintaannya relatif stabil.
Kepala Desa Jatipayak, Tony, mengatakan bahwa pada tahun ini BUMDes Jatimulya memfokuskan pengembangan usaha pada sektor peternakan ayam petelur. Pemilihan usaha tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan potensi yang ada serta peluang pasar yang dinilai cukup terbuka.
“Tujuan utama dari program BUMDes ayam petelur adalah membantu meningkatkan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan,” ujar Tony, Selasa (8/9/2026).
Menurutnya, keberadaan unit usaha tersebut tidak semata-mata berorientasi pada keuntungan bagi BUMDes maupun desa. Lebih jauh, usaha peternakan diharapkan mampu menciptakan aktivitas ekonomi baru, membuka peluang lapangan pekerjaan serta ikut memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat.
“Harapannya, masyarakat tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi juga menjadi subjek yang ikut terlibat dan mendapatkan manfaat dari kegiatan ekonomi desa,” jelasnya.
Pengembangan unit usaha ayam petelur tersebut juga diarahkan untuk mendukung program ketahanan pangan. Dengan adanya produksi telur di tingkat desa, kebutuhan masyarakat terhadap komoditas tersebut diharapkan dapat dipenuhi dari potensi ekonomi lokal.
Pemerintah Desa Jatipayak menilai penguatan BUMDes merupakan salah satu langkah strategis dalam menciptakan sumber pendapatan desa sekaligus membangun kemandirian ekonomi masyarakat.
Selain usaha peternakan, Desa Jatipayak sebelumnya juga telah menjalankan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan ketahanan pangan, termasuk pemanfaatan lahan dan pekarangan rumah masyarakat.
Kehadiran BUMDes Jatimulya kemudian menjadi wadah yang lebih terorganisir untuk mengembangkan kegiatan ekonomi tersebut dalam skala usaha yang lebih profesional. Pengelolaan yang terstruktur, transparan dan akuntabel menjadi faktor penting agar usaha yang dikembangkan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat serta desa.
Tony berharap BUMDes Jatimulya ke depan tidak berhenti pada usaha ayam petelur. Menurutnya, masih banyak potensi ekonomi desa yang dapat dikembangkan menjadi unit usaha baru.
“Ke depan, kami berharap BUMDes tidak hanya fokus pada ayam petelur, tetapi juga mampu merintis unit usaha lainnya. Kuncinya adalah kolaborasi antara pemerintah desa, pengurus BUMDes dan seluruh elemen masyarakat. Dengan motivasi bersama, kami berharap pengelolaan BUMDes semakin profesional dan akuntabel,” ungkapnya.
Sementara itu, Direktur BUMDes Jatimulya, Heru, mengatakan pengembangan usaha peternakan ayam petelur merupakan bagian dari strategi untuk menjadikan BUMDes sebagai salah satu motor penggerak perekonomian desa.
Menurut Heru, usaha ayam petelur dipilih karena memiliki pasar yang relatif stabil dan dapat menghasilkan pendapatan secara rutin apabila dikelola secara baik. Selain itu, kegiatan tersebut juga dapat dikembangkan secara bertahap sesuai dengan kemampuan pengelolaan dan kebutuhan pasar.
“BUMDes harus mampu menjadi pusat pertumbuhan ekonomi yang berbasis pada potensi lokal. Karena itu, setiap unit usaha harus dikelola secara profesional agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat dan memberikan kontribusi terhadap perekonomian desa,” katanya.
Saat ini, peternakan ayam petelur yang dikelola BUMDes Jatimulya telah memiliki sekitar 500 ekor ayam yang baru masuk kandang lebih dari satu bulan. Dari jumlah tersebut, produksi telur saat ini mencapai sekitar 300 butir per hari.
Capaian tersebut menjadi indikator awal bahwa unit usaha yang baru dikembangkan tersebut mulai menunjukkan produktivitas. Produksi diharapkan terus meningkat seiring dengan bertambahnya usia ayam dan optimalisasi pola pemeliharaan.
Pengurus BUMDes juga terus melakukan evaluasi terhadap pengelolaan peternakan, mulai dari pemeliharaan ayam, pemberian pakan, pengelolaan kandang hingga pemasaran hasil produksi.
Dengan pengelolaan yang konsisten dan dukungan Pemerintah Desa Jatipayak, unit usaha ayam petelur BUMDes Jatimulya diharapkan dapat berkembang menjadi salah satu sumber pendapatan desa sekaligus membuka manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.
Program tersebut sekaligus menjadi gambaran bahwa pengelolaan potensi lokal melalui BUMDes dapat menjadi salah satu instrumen dalam membangun kemandirian ekonomi desa. Ke depan, keberlanjutan usaha, profesionalisme pengurus, transparansi pengelolaan dan keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting untuk memastikan BUMDes Jatimulya terus tumbuh dan memberikan kontribusi nyata bagi Desa Jatipayak.
(THER)
