Sampang, Liputan12.com — Jalanan pedesaan di kawasan Jalan Bujuk Biru, Desa Komis, Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang, Kamis (24/9/2026), menjadi saksi sebuah perjalanan sederhana yang menyimpan harapan besar.
Sejumlah warga datang dengan berboncengan sepeda motor menuju Yayasan Sahabat Jiwa Sehat. Mereka membawa pasien yang membutuhkan pendampingan dan penanganan, baik secara medis maupun nonmedis, termasuk warga dari Desa Rong Dalem, Kecamatan Omben.
Tidak ada suasana mewah dalam perjalanan tersebut. Hanya kendaraan sederhana, jalan desa dan tekad keluarga untuk mencari tempat yang dinilai dapat memberikan perhatian serta pendampingan bagi anggota keluarganya.
Di tempat inilah Yayasan Sahabat Jiwa Sehat membuka pintunya.
Bukan Sekadar Tempat Singgah
Kedatangan para pasien disambut Pendiri Yayasan Sahabat Jiwa Sehat, Gus Daef, bersama para pengurus. Mereka diterima dalam suasana kekeluargaan dan penuh perhatian.
Bagi pasien yang sedang menjalani proses pemulihan, sambutan sederhana tersebut memiliki makna tersendiri. Mereka mendapatkan ruang untuk beristirahat, berinteraksi dan memperoleh pendampingan tanpa harus merasa dikucilkan.
Persoalan gangguan kesehatan jiwa masih kerap berhadapan dengan stigma di tengah masyarakat. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak kepada pasien, tetapi juga dapat menjadi beban bagi keluarga yang mendampingi.
Karena itu, pendekatan yang mengedepankan kepedulian dan kemanusiaan menjadi bagian penting dalam proses pendampingan.
Yayasan Sahabat Jiwa Sehat berupaya menghadirkan ruang yang lebih aman bagi mereka yang membutuhkan. Rumah singgah tersebut menjadi salah satu tempat untuk memberikan perhatian kepada pasien sekaligus menjadi ruang bagi keluarga untuk mendapatkan dukungan dalam menghadapi proses yang tidak mudah.
Ketika Kepedulian Menjadi Jalan Pemulihan
Merawat pasien dengan gangguan jiwa bukan perkara sehari dua hari. Dibutuhkan kesabaran, konsistensi, dukungan keluarga serta penanganan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing pasien.
Di tengah keterbatasan yang ada, para pengurus yayasan berusaha memberikan pendampingan dengan pendekatan yang manusiawi.
Perjalanan para pasien menuju rumah singgah tersebut menjadi pengingat bahwa persoalan kesehatan jiwa bukan semata-mata persoalan individu. Ada keluarga yang ikut berjuang, ada masyarakat yang perlu memahami, dan ada lingkungan yang diharapkan mampu memberikan ruang bagi proses pemulihan.
Rumah singgah di Desa Komis itu pun menjadi lebih dari sekadar bangunan.
Di sana ada cerita tentang keluarga yang tidak menyerah, ada pengurus yang memilih untuk peduli, dan ada pasien yang masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan pendampingan.
Sebab, ketika seseorang sedang berada dalam kondisi sulit, yang paling dibutuhkan bukan penghakiman, melainkan perhatian dan penanganan yang tepat.
Dari langkah-langkah sederhana para pasien yang datang pada Kamis tersebut, terselip pesan kemanusiaan yang kuat: setiap orang tetap memiliki hak untuk mendapatkan perhatian, perlindungan dan kesempatan menjalani proses pemulihan dengan bermartabat.
Penulis: Agus Mandie




