- -->

Notification

×

Iklan

Iklan

Delapan Rumah di Kampung Kepan Hancur Total Akibat Gempa, Warga Masih Menanti Bantuan

Jumat, 11 September 2026 | 9/11/2026 06:04:00 PM WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-11T11:07:36Z
Reruntuhan puing beton dan dinding yang roboh masih berserakan di Kampung Kepan, Elar Selatan, Manggarai Timur. Sebulan pasca gempa M 7,7 Flores, delapan rumah warga dilaporkan hancur total, sementara puluhan keluarga terpaksa bertahan tanpa listrik dan air bersih, menanti uluran tangan pemerintah.


Manggarai Timur, Liputan12.com — Gempa bumi yang mengguncang wilayah Flores pada 15 Agustus 2026 lalu meninggalkan dampak cukup berat bagi masyarakat di Kampung Kepan, Kelurahan Lempang Paji, Kecamatan Elar Selatan, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).


Sedikitnya delapan rumah warga di Kampung Kepan dilaporkan mengalami kerusakan hingga hancur total akibat guncangan gempa. Selain itu, sejumlah rumah warga di wilayah lain juga mengalami keretakan. Bahkan, terdapat rumah berbahan papan yang kondisinya miring sehingga hingga kini belum ditempati kembali oleh pemiliknya.


Kondisi tersebut menambah panjang persoalan yang harus dihadapi warga korban gempa. Tidak hanya berhadapan dengan kerusakan tempat tinggal, masyarakat Kampung Kepan juga masih menghadapi keterbatasan akses terhadap sejumlah fasilitas dasar.





Kampung yang berada di wilayah terpencil tersebut diketahui masih mengalami keterbatasan akses fasilitas umum. Pasca gempa, kebutuhan masyarakat terhadap bantuan bahan pangan, penerangan listrik, air minum, serta kebutuhan dasar lainnya masih menjadi persoalan yang perlu mendapatkan perhatian.


Hingga saat ini, sekitar 77 kepala keluarga (KK) yang bermukim di kampung tersebut masih menghadapi keterbatasan akses listrik dan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.


Salah seorang warga Kampung Kepan, Elfridus Daiman, mengungkapkan bahwa masyarakat masih berharap adanya perhatian dan bantuan dari berbagai pihak untuk meringankan beban warga yang terdampak gempa.




Menurutnya, kebutuhan seperti sembako, beras, terpal, serta sejumlah sarana pendukung lainnya masih sangat dibutuhkan masyarakat, terutama bagi warga yang rumahnya mengalami kerusakan dan belum dapat dihuni secara normal.


"Kami masih mengharapkan bantuan sembako dan kebutuhan lainnya, termasuk terpal dan beras, karena masih banyak warga yang terdampak," tutur Elfridus.


Kesulitan Akses Listrik


Selain persoalan kerusakan rumah, keterbatasan jaringan listrik juga menjadi salah satu kendala yang dirasakan masyarakat Kampung Kepan.


Saat dikonfirmasi media ini pada Jumat (11/9/2026), Elfridus Daiman yang juga merupakan salah satu korban terdampak gempa mengatakan, hingga kini akses jaringan listrik di kampung tersebut masih mengalami kesulitan.


Untuk menunjang aktivitas sehari-hari, warga terpaksa mencari alternatif penerangan secara mandiri. Salah satunya dengan membeli lampu tenaga surya yang dinilai lebih hemat energi.


"Untuk penerangan, kami membeli sendiri lampu tenaga surya karena jaringan listrik masih sulit," ungkapnya.


Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi masyarakat Kampung Kepan bukan hanya dampak kerusakan akibat gempa, tetapi juga keterbatasan fasilitas dasar yang telah dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.


Warga berharap perhatian dan bantuan dari pemerintah maupun pihak terkait dapat segera diberikan, terutama untuk kebutuhan tempat tinggal sementara, bahan pangan, penerangan, serta akses air minum.


Bagi masyarakat Kampung Kepan, bantuan tersebut sangat berarti untuk membantu mereka kembali menjalani kehidupan setelah bencana yang merusak sejumlah rumah dan mengganggu aktivitas warga.



Kontributor: Yohanes Sinding
Koordinator Wilayah NTT

×
Berita Terbaru Update