- -->

Notification

×

Iklan

Iklan

Belajar Melihat dan Mendengar

Senin, 28 September 2026 | 9/28/2026 12:13:00 PM WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-28T05:13:50Z


Oleh: SILVESTER WANGGUR


Bagi kita yang masih dianugerahi penglihatan yang normal, melihat sesuatu merupakan pengalaman yang hampir setiap hari kita jalani tanpa banyak kita sadari. Kita dapat menikmati keindahan alam, wajah orang-orang yang kita kasihi, bangunan, lingkungan sekitar, serta berbagai peristiwa yang terjadi di hadapan mata.


Namun, apa yang kita lihat tidak selalu memberikan kesan yang sama kepada setiap orang. Sebuah objek yang menurut seseorang indah, belum tentu dipandang indah oleh orang lain. Demikian pula sesuatu yang dianggap biasa oleh seseorang, bisa memiliki makna yang sangat mendalam bagi orang lain.


Di sinilah kita belajar bahwa melihat bukan hanya persoalan mata. Ada pula mata hati yang membantu manusia memahami apa yang berada di balik sesuatu yang tampak.





Gempa yang melanda Pulau Flores sejak 15 September 2026, yang mengakibatkan kerusakan infrastruktur dan menimbulkan korban jiwa, menjadi peristiwa yang menggugah perhatian masyarakat luas. Ada orang yang datang langsung untuk melihat kondisi para penyintas. Ada pula yang mengetahui dan mengikuti perkembangan bencana melalui media massa maupun media sosial.


Respons masyarakat pun beragam. Sebagian datang membawa sembako, obat-obatan, tenda, tenaga medis, maupun bantuan lainnya. Bantuan juga datang dari berbagai unsur masyarakat, lembaga swasta, lembaga pendidikan, lembaga keagamaan, pemerintah, organisasi kemasyarakatan, partai politik, serta perseorangan.


Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, misalnya, termasuk salah satu pihak yang memberikan perhatian terhadap masyarakat yang terdampak musibah. Partai-partai politik lainnya juga turut memberikan bantuan. Penyebutan hal tersebut bukan dimaksudkan sebagai penilaian politik, melainkan sebagai gambaran bahwa dalam situasi bencana, kepedulian kemanusiaan dapat hadir dari berbagai pihak.


Bantuan sekecil apa pun memiliki arti bagi mereka yang sedang membutuhkan. Apalagi ketika bantuan tersebut diberikan dengan ketulusan dan tanpa membedakan latar belakang penerimanya.


Bencana juga mengajarkan kepada kita bahwa manusia tidak cukup hanya melihat berita, tetapi perlu belajar melihat penderitaan sesama dengan mata hati. Tidak cukup hanya mendengar informasi, tetapi perlu belajar mendengarkan kebutuhan mereka yang sedang mengalami kesulitan.


Melihat dan Mendengar sebagai Keterampilan Hidup


Melihat dan mendengar sesungguhnya merupakan dua keterampilan penting dalam kehidupan manusia.


Sebagai seorang pemimpin, seseorang dituntut mampu melihat dan mendengarkan kebutuhan, harapan, serta kerinduan masyarakat yang dipimpinnya. Pemimpin tidak hanya perlu melihat apa yang tampak di permukaan, tetapi juga memahami persoalan yang dirasakan masyarakat.


Sebaliknya, sebagai masyarakat yang dipimpin, kita juga memiliki tanggung jawab untuk melihat secara bijaksana apa yang telah, sedang, dan akan dilakukan oleh pemimpin. Kita juga perlu mendengarkan pesan yang disampaikan dengan pikiran terbuka dan tidak tergesa-gesa menarik kesimpulan.


Menjadi pembelajar sejati bukan hanya berarti memahami gagasan-gagasan besar. Kita juga dapat belajar dari pengalaman hidup yang sederhana, persahabatan yang tulus, percakapan ringan, canda dan tawa, serta kasih sayang yang tumbuh di antara sesama manusia.


Kadang-kadang pelajaran terbesar justru hadir dari hal-hal sederhana yang kita jumpai setiap hari.


Apakah Kita Sudah Belajar Melihat dan Mendengar?


Pertanyaan penting kemudian muncul: apakah pendidikan kita sudah cukup mengajarkan keterampilan melihat dan mendengar secara sungguh-sungguh?


Dalam proses belajar mengajar di kelas, guru dan murid tidak hanya membutuhkan kemampuan membaca dan menulis. Mereka juga membutuhkan kemampuan mengamati, mendengarkan, memahami, bertanya, dan merespons secara tepat.


Guru perlu mendengarkan muridnya. Murid juga perlu mendengarkan gurunya. Di antara keduanya harus ada ruang untuk memahami, bukan sekadar menyampaikan dan menerima informasi.


Melihat dan mendengar sebenarnya merupakan keterampilan yang perlu dimiliki setiap manusia, terlebih mereka yang bekerja sebagai pelayan masyarakat.


Kita perlu belajar melihat dengan mata dan mata hati. Kita perlu mendengar bukan hanya dengan telinga, tetapi juga dengan keikhlasan dan iman.


Sebab, pesan yang sama dapat dipahami secara berbeda oleh orang yang berbeda. Dua orang yang melihat objek yang sama bisa memberikan penafsiran yang tidak sama. Demikian pula, dua atau tiga orang yang mendengar informasi yang sama dapat memahami dan menerapkannya dengan cara berbeda.


Karena itu, sebelum memberikan penilaian terhadap sesuatu, kita perlu memastikan bahwa apa yang kita lihat benar-benar kita pahami. Sebelum mengambil kesimpulan dari sebuah informasi, kita perlu memastikan bahwa apa yang kita dengar benar-benar kita mengerti.


Melihat dengan hati nurani dan mendengarkan dengan iman dapat menjadi jalan untuk mengurangi kesalahpahaman.


Banyak Perselisihan Berawal dari Cara Melihat dan Mendengar


Banyak persoalan dan perselisihan dalam masyarakat muncul karena kita kurang teliti melihat dan kurang bijaksana mendengar.


Sebaliknya, tidak sedikit pula persoalan yang dapat diselesaikan dengan baik karena pihak-pihak yang terlibat mau melihat persoalan secara lebih jernih dan mendengarkan satu sama lain dengan ikhlas.


Polemik mengenai keaslian ijazah Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo, dapat menjadi salah satu contoh bagaimana sebuah objek dan informasi dapat dipahami dari perspektif yang berbeda oleh pihak-pihak yang berbeda.


Dalam persoalan yang bersifat faktual dan menjadi sengketa, penyelesaian tentu membutuhkan proses pembuktian yang dapat dipertanggungjawabkan. Dokumen atau objek yang dipersoalkan perlu diperiksa melalui mekanisme dan pihak yang memiliki kewenangan serta kompetensi. Dengan demikian, kesimpulan tidak semata-mata dibangun berdasarkan apa yang dilihat sepintas, potongan informasi, atau persepsi masing-masing pihak.


Di tengah derasnya arus informasi saat ini, masyarakat juga perlu semakin berhati-hati. Apa yang terlihat di layar telepon genggam belum tentu menggambarkan keseluruhan persoalan. Apa yang terdengar dalam sebuah rekaman atau percakapan juga belum tentu memberikan konteks secara utuh.


Karena itu, kemampuan memeriksa, mendengarkan, memahami konteks, dan melakukan verifikasi menjadi semakin penting.


Belajar Mendengar Sebelum Menilai


Kita hidup dalam masyarakat yang beragam. Perbedaan pendapat adalah sesuatu yang wajar. Yang menjadi persoalan adalah ketika perbedaan tersebut tidak disertai kemauan untuk saling mendengarkan.


Mendengar bukan berarti harus selalu setuju.


Mendengarkan berarti memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menjelaskan pandangan, pengalaman, dan alasan yang dimilikinya. Setelah mendengar, kita tetap mempunyai kebebasan untuk menentukan sikap berdasarkan pertimbangan yang matang.


Begitu pula dengan melihat. Melihat dengan mata hati tidak berarti membenarkan segala sesuatu yang kita lihat. Artinya, kita berusaha memahami sebelum menghakimi.


Di tengah kehidupan masyarakat yang semakin kompleks, kemampuan tersebut menjadi semakin penting.


Kita membutuhkan pemimpin yang mau melihat dan mendengar rakyatnya. Kita membutuhkan masyarakat yang mau melihat dan mendengar secara kritis. Kita membutuhkan guru yang mau mendengarkan muridnya dan murid yang mau mendengarkan gurunya. Kita membutuhkan sesama manusia yang mampu mendengar keluhan sebelum memberikan penilaian.


Pada akhirnya, belajar melihat dan mendengar adalah belajar menjadi manusia.


Melihat bukan hanya dengan mata, tetapi juga dengan hati nurani.


Mendengar bukan hanya dengan telinga, tetapi juga dengan kebijaksanaan.


Jika kita mampu melakukan keduanya, mungkin banyak persoalan yang selama ini tampak sulit dapat kita pahami dengan lebih jernih. Perbedaan tidak selalu harus berakhir menjadi pertentangan. Perbedaan dapat menjadi kesempatan untuk saling belajar.


Mari belajar melihat dengan lebih teliti, mendengar dengan lebih bijaksana, memahami dengan lebih tulus, dan bertindak dengan penuh tanggung jawab.


Sebab, terkadang manusia bukan kekurangan informasi untuk memahami sebuah persoalan. Kita hanya perlu belajar melihat lebih dalam dan mendengar lebih sungguh-sungguh.



Reporter : Yohanes 

×
Berita Terbaru Update