- -->

Notification

×

Iklan

Iklan

Sosialisasi PESTANA dan Simulasi Gempa Bumi di Ponpes At-Taroqqi Sampang, Bangun Kesiapsiagaan Sejak Dini

Jumat, 14 Agustus 2026 | 8/14/2026 09:58:00 AM WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-14T03:00:55Z
Ratusan Santri At-Taroqqi Sampang Dilatih Siaga Gempa Lewat Sosialisasi PESTANA

Sampang, Liputan12.com Bencana tidak pernah mengenal waktu dan tidak selalu memberikan tanda sebelum datang. Karena itu, pengetahuan serta kesiapsiagaan menghadapi bencana perlu dibangun sejak dini, termasuk di lingkungan pondok pesantren.

Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan sosialisasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana (PESTANA) yang dirangkai dengan simulasi gempa bumi di Pondok Pesantren At-Taroqqi, Kabupaten Sampang, Jumat (14/8/2026).

Kegiatan tersebut bukan sekadar agenda sosialisasi, tetapi menjadi bagian dari upaya membangun budaya sadar risiko sekaligus meningkatkan kemampuan santri, pengasuh, pengurus, dan seluruh warga pesantren dalam menghadapi kondisi darurat.

Kegiatan menghadirkan Ahmad Basori, selaku Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan, serta Aang Djunaidi, ST., MT. sebagai narasumber pendamping. Turut hadir Ustaz Fausi Qodir selaku perwakilan alumni, Ach. Fatoni, M.Pd., selaku Wakil Sekretaris DPP Ikatan Alumni At-Taroqi (IMTAQ), serta ratusan santri yang mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan antusias.




Keselamatan Jiwa Menjadi Prioritas

Dalam pemaparannya, Ahmad Basori menegaskan bahwa keselamatan jiwa harus menjadi prioritas utama dalam menghadapi setiap potensi bencana.

Menurutnya, mitigasi bencana bukan hanya menjadi tanggung jawab BPBD, tetapi merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat, termasuk komunitas pesantren.

“Mitigasi bencana bukan hanya tanggung jawab BPBD. Santri, pengasuh, pengurus, dan seluruh warga pesantren wajib memiliki pengetahuan dasar: mengenali risiko, mencegah dampak, dan mampu menyelamatkan diri saat bencana terjadi,” tegasnya.


Ia mengingatkan, pengetahuan tentang kebencanaan harus dimiliki sebelum bencana terjadi. Jangan sampai seseorang baru mencari tahu jalur evakuasi maupun titik kumpul ketika kondisi darurat sudah berlangsung.

Para santri juga didorong untuk mampu mengenali potensi ancaman di lingkungan sekitar, memahami jalur evakuasi, mengetahui titik kumpul, serta mampu mengambil keputusan secara cepat, tepat, dan tenang ketika menghadapi situasi darurat.

“Pengetahuan harus dibangun sebelum bencana datang, bukan ketika bahaya sudah berada di depan mata,” pesannya.


Santri Didorong Menjadi Agen Ketangguhan Bencana

Sementara itu, Aang Djunaidi, ST., MT., menilai edukasi mitigasi bencana di lingkungan pesantren memiliki nilai strategis. Pesantren tidak hanya menjadi tempat pendidikan agama, tetapi juga merupakan komunitas besar yang memiliki jaringan sosial luas di tengah masyarakat.

Menurutnya, pengetahuan yang diperoleh para santri berpotensi diteruskan kepada keluarga dan masyarakat ketika mereka kembali ke daerah masing-masing.

“Dengan jaringan alumni yang luas hingga ke mancanegara, ilmu yang didapat santri di pesantren ini berpotensi disebarkan berlipat ganda ke keluarga dan masyarakat di kampung halaman masing-masing. Santri jangan hanya menjadi objek saat bencana — mereka harus dipersiapkan menjadi bagian dari solusi,” ujarnya.

Dengan bekal pengetahuan dan keterampilan kebencanaan, para santri diharapkan mampu menjadi agen ketangguhan yang dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat di lingkungannya masing-masing.


Simulasi Gempa Uji Kesiapan Santri

Setelah mendapatkan materi, kegiatan dilanjutkan dengan simulasi gempa bumi yang diikuti para peserta.

Simulasi tersebut menjadi bagian penting untuk menguji sejauh mana peserta mampu menerapkan pengetahuan yang telah diberikan. Ketenangan, kedisiplinan, keteraturan, serta pemahaman terhadap jalur evakuasi menjadi hal yang ditekankan selama latihan berlangsung.

Melalui simulasi, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teori, tetapi juga pengalaman menghadapi situasi yang menyerupai kondisi darurat.

Harapannya, respons terhadap bencana tidak berhenti sebagai pengetahuan sesaat, melainkan menjadi kebiasaan yang melekat dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan PESTANA di Ponpes At-Taroqqi diharapkan dapat menjadi contoh bagi pondok pesantren lainnya di Kabupaten Sampang untuk mulai membangun sistem kesiapsiagaan bencana secara mandiri.

Sebab, ketika bencana terjadi, masyarakat yang berada di lokasi merupakan pihak pertama yang harus mampu menyelamatkan diri dan membantu lingkungan sekitar sebelum bantuan dari luar tiba.

Semakin banyak masyarakat yang memahami risiko dan memiliki kesiapan, semakin besar pula peluang untuk mengurangi dampak bencana serta melindungi keselamatan jiwa.


Saladin
Penulis/Editor: Agus Mandie

×
Berita Terbaru Update