![]() |
| Prof. Dr.-Ing. Wardiman Djojonegoro sendiri yang mengaku sudah tidak makan nasi sejak tahun 2000, memilih makan sayur, tahu, dan tempe. |
Jakarta, Liputan12.com – Sosok Prof. Dr.-Ing. Wardiman Djojonegoro kembali menjadi perhatian. Di usia yang telah menginjak 92 tahun, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) era Presiden Soeharto itu masih dikenal sebagai figur yang aktif dan memiliki perhatian besar terhadap dunia pendidikan Indonesia.
Salah satu hal yang menarik dari gaya hidup Wardiman adalah kebiasaannya yang disebut telah meninggalkan konsumsi nasi sejak tahun 2000. Artinya, jika kebiasaan tersebut terus dijalankan hingga 2026, sudah sekitar 26 tahun ia tidak menjadikan nasi sebagai bagian dari menu hariannya.
Kisah mengenai pola makan Wardiman kembali beredar di media sosial dan sejumlah kanal informasi. Dalam keterangan yang dikutip dari materi yang beredar, Wardiman disebut memilih sumber makanan lain, termasuk sayuran serta tahu dan tempe.
Namun, kebiasaan tidak mengonsumsi nasi tersebut tidak serta-merta dapat disebut sebagai penyebab tunggal kondisi fisiknya di usia lanjut. Kebugaran seseorang dipengaruhi banyak faktor, mulai dari pola makan secara keseluruhan, aktivitas fisik, kondisi kesehatan, hingga faktor genetik dan gaya hidup.
Teknokrat Kelahiran Pamekasan
Wardiman Djojonegoro lahir di Pamekasan, Madura, pada 22 Juni 1934. Ia menempuh pendidikan di SMA Negeri 1 Surabaya sebelum melanjutkan pendidikan teknik dan kemudian memperdalam ilmu di Eropa.
Dalam perjalanan pendidikannya, Wardiman pernah belajar di Technische Universiteit Delft, Belanda, kemudian melanjutkan kiprahnya di Jerman. Ia juga pernah tinggal bersama B.J. Habibie ketika berada di Jerman.
Sekembalinya ke Indonesia, karier Wardiman berkembang di berbagai bidang pemerintahan dan teknologi. Ia pernah bekerja di Bank Pembangunan Indonesia, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, serta lingkungan Kementerian Riset dan Teknologi.
Pada periode 1966–1979, Wardiman berkarier di lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Setelah itu, ia dipercaya mengemban sejumlah tugas di bidang riset dan teknologi. Ia juga pernah menjadi Rektor Institut Teknologi Indonesia (ITI).
Menjadi Mendikbud di Era Soeharto
Puncak karier pemerintahan Wardiman terjadi ketika ia dipercaya menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada 1993 hingga 1998 dalam Kabinet Pembangunan VI di bawah Presiden Soeharto.
Namanya kemudian sangat lekat dengan gagasan “Link and Match” dalam dunia pendidikan.
Konsep tersebut menekankan pentingnya keterkaitan antara dunia pendidikan dan kebutuhan dunia kerja. Pendidikan, khususnya pendidikan kejuruan, didorong agar tidak hanya memberikan pengetahuan teoritis, tetapi juga membekali peserta didik dengan keterampilan dan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan lapangan kerja.
Gagasan tersebut kemudian menjadi salah satu warisan kebijakan yang paling dikenal dari masa Wardiman sebagai Mendikbud. Sejumlah kajian dan pemberitaan pendidikan juga masih membahas relevansi konsep tersebut hingga sekarang.
Tetap Peduli Pendidikan di Usia Senja
Usai meninggalkan kursi menteri pada 1998, Wardiman tidak sepenuhnya meninggalkan aktivitas publik. Ia tercatat menjabat sebagai Ketua Umum Yayasan Puteri Indonesia sejak 1998.
Aktivitasnya di lingkungan Yayasan Puteri Indonesia membuat sosoknya masih terlihat dalam berbagai kegiatan, termasuk yang berkaitan dengan ajang Puteri Indonesia. Pada penyelenggaraan Puteri Indonesia 2026, Wardiman juga masih disebut sebagai Ketua Umum Yayasan Puteri Indonesia.
Di usia yang sudah sangat lanjut, keberadaan Wardiman di ruang publik menjadi gambaran perjalanan panjang seorang teknokrat yang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk pemerintahan, teknologi dan pendidikan.
Kisah mengenai kebiasaannya tidak mengonsumsi nasi selama puluhan tahun pun menjadi sisi menarik dari perjalanan hidupnya. Terlepas dari pilihan menu tersebut, perjalanan Wardiman menunjukkan bahwa menjaga pola hidup secara konsisten merupakan bagian penting dari upaya mempertahankan kualitas hidup di usia lanjut.
Sosok kelahiran Pamekasan itu kini bukan hanya dikenang karena pernah menjadi Mendikbud dan memperkenalkan konsep Link and Match, tetapi juga karena hingga usia senja masih menunjukkan kepedulian terhadap pendidikan dan pemberdayaan generasi muda Indonesia.
Narasumber : Wikipedia - FKU
Penulis : Sonhaji

