Bangkalan, Liputan12.com — Duka mendalam menyelimuti masyarakat Bangkalan atas wafatnya salah satu ulama yang selama ini menjadi rujukan ilmu dan dakwah, Kiai Imam Makhsus. Beliau berpulang pada Selasa (25/8/2026), meninggalkan kenangan mendalam bagi keluarga, para santri, serta masyarakat yang selama ini mendapatkan ilmu dan nasihat dari beliau.
Kisah perjalanan keluarga besar Kiai Makhsus Makhsus juga menyimpan cerita penuh hikmah. Salah satunya berawal dari Pondok Pesantren Sebaneh, salah satu lembaga pendidikan Islam yang telah lama menjadi bagian penting dari sejarah keilmuan Islam di Bangkalan.
Di pesantren tersebut, Kiai Makhsus Ridwan mengabdikan hidupnya untuk mengajarkan ilmu agama dan membimbing umat. Bahkan, akhir hayat beliau dikenang sebagai sebuah perjalanan menuju husnul khotimah.
Dalam sebuah kesempatan, ketika suasana malam diisi Mahallul Qiyam, doa pun dilantunkan:
«رَبِّ فَاجْعَلْ مَجْتَمَعَنَا غَايَتَهُ حُسْنَ الْخَتَامِ»
"Ya Allah, jadikanlah puncak dari pertemuan ini dan seluruh hidup kami adalah wafat dalam keadaan husnul khotimah."
Tidak lama setelah mengucapkan doa tersebut, beliau perlahan jatuh dan kemudian menghadap Sang Khalik. Kepergiannya di tengah suasana ibadah menjadi kenangan yang terus melekat di hati keluarga, santri, dan masyarakat.
Dua Putra, Dua Ulama Penerus Cahaya
Puluhan tahun kemudian, jejak keilmuan dan dakwah Kiai Makhsus Ridwan diteruskan oleh kedua putranya. Kiai Imam Makhsus dan Kiai Kholid Makhsus tumbuh menjadi ulama yang dikenal luas dan dicintai masyarakat Bangkalan.
Kiai Imam Makhsus, sebagai putra sulung, dikenal sebagai sosok yang menjadi rujukan dalam persoalan keagamaan serta aktif menyampaikan ceramah dan dakwah di berbagai tempat.
Sementara Kiai Kholid Makhsus, sang adik, terus melanjutkan perjuangan dakwah keluarga dan mendampingi masyarakat melalui pengajaran serta kegiatan keagamaan.
Keduanya menjadi bagian dari mata rantai keilmuan yang diwariskan dari generasi sebelumnya.
Berpulang di Bulan Maulid
Kabar wafatnya Kiai Imam Makhsus semakin terasa mendalam bagi keluarga dan masyarakat. Dua hari sebelum beliau wafat, masih sempat ada yang menjenguk beliau ketika menjalani perawatan di RS Siloam Surabaya.
Namun, takdir Allah berkata lain. Pada Selasa (25/8/2026), Kiai Imam Makhsus mengembuskan napas terakhir.
Kepergiannya juga bertepatan dengan bulan Rabiul Awal, bulan yang sangat dimuliakan umat Islam karena menjadi bulan kelahiran Nabi Muhammad ﷺ.
Bagi keluarga dan para pencinta beliau, kepergian tersebut bukan sekadar kehilangan seorang ulama, tetapi juga kehilangan sosok guru, pembimbing, sekaligus tempat bertanya dalam berbagai persoalan kehidupan dan keagamaan.
Bangkalan kini berduka. Salah satu penjaga ilmu dan dakwah telah dipanggil menghadap Allah SWT.
Namun, bagi seorang hamba yang sepanjang hidupnya mengabdikan diri untuk ilmu, ibadah, dan dakwah, kematian bukanlah akhir dari perjalanan. Ia adalah pintu menuju kehidupan yang kekal dan perjumpaan dengan Sang Pencipta.
Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa dan kesalahan almarhum Kiai Imam Makhsus, melapangkan serta menerangi alam kuburnya, menerima seluruh amal ibadah dan perjuangan dakwahnya, serta menempatkan beliau bersama para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh.
Lahul Fatihah.
Oleh: Agus Mandie — Liputan12.com

