- -->

Notification

×

Iklan

Iklan

Ketua DPRD Sampang: Masyarakat Madura Harus Jadi Subjek, Bukan Objek Investasi Tiongkok

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 8/15/2026 04:45:00 PM WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-15T09:45:12Z
Pernyataan Ketua DPRD Sampang ini cukup tegas dan jadi catatan penting untuk investasi Tiongkok di Madura.

Sampang, Liputan12.com — Masuknya investasi industri dari Tiongkok ke Kawasan Industri Wiraraja Madura di Kabupaten Bangkalan mendapat sambutan positif dari pimpinan DPRD Kabupaten Sampang. Namun, dukungan tersebut disertai catatan tegas: kehadiran industri harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Madura, terutama dalam hal penyerapan tenaga kerja lokal.

Ketua DPRD Kabupaten Sampang, H. Rudi Kurniawan, menilai rencana relokasi sejumlah pabrik dari Tiongkok ke Madura merupakan peluang besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di Pulau Garam. Menurutnya, investasi tersebut harus menjadi momentum untuk mengubah posisi masyarakat Madura dari sekadar penerima dampak menjadi pelaku utama pembangunan ekonomi.

“Kami menyambut baik rencana relokasi industri dari Tiongkok ke Madura. Ini peluang besar. Tapi catatan penting kami, Madura jangan hanya dijadikan lokasi pabrik. Masyarakat harus menjadi subjek, bukan objek. Mereka harus dilibatkan dalam setiap tahapan, mulai dari pembangunan sampai operasional,” ujar Rudi, Jumat (14/8/2026).

Politisi Partai NasDem tersebut menyoroti persoalan yang kerap muncul dalam investasi di daerah, yakni masuknya industri tidak selalu diikuti dengan optimalisasi tenaga kerja lokal. Ia meminta agar persoalan tersebut tidak kembali terjadi dalam pengembangan kawasan industri di Madura.

“Ke depan itu tidak boleh terjadi lagi. Kami minta ada komitmen tegas dari investor dan pemerintah bahwa mayoritas tenaga kerja yang diserap adalah putra-putri Madura,” tegasnya.


SDM Lokal Harus Dipersiapkan

Rudi menilai komitmen penyerapan tenaga kerja lokal harus dibarengi dengan kesiapan sumber daya manusia. Pemerintah, lembaga pendidikan, dan dunia industri perlu duduk bersama untuk memetakan kebutuhan tenaga kerja serta menyiapkan kompetensi masyarakat sejak jauh hari.

“SMK, politeknik, balai latihan kerja harus segera disinergikan. Jangan sampai saat pabrik sudah jalan, anak-anak Madura belum siap. Kita harus bergerak dari sekarang. Latih, sertifikasi, dan siapkan mereka,” katanya.

Menurutnya, pendidikan vokasi harus diarahkan pada kebutuhan industri yang akan berkembang di kawasan tersebut. Dengan demikian, masyarakat lokal tidak hanya mendapatkan pekerjaan pada sektor informal, tetapi juga memiliki kesempatan menduduki posisi teknis dan profesional sesuai kompetensinya.


UMKM Jangan Hanya Jadi Penonton

Selain tenaga kerja, Rudi menekankan pentingnya keterlibatan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Menurutnya, investasi berskala besar seharusnya mampu menciptakan efek berganda bagi perekonomian masyarakat sekitar.

“Warung, konveksi, jasa angkut, sampai supplier bahan baku lokal harus diberi ruang. Jangan sampai UMKM kita hanya jadi penonton. Mereka harus naik kelas jadi mitra industri,” jelasnya.

Ia berharap pemerintah dan pengelola kawasan industri dapat membuat skema kemitraan yang memungkinkan UMKM Madura masuk dalam rantai pasok industri. Dengan begitu, manfaat investasi tidak hanya dirasakan oleh perusahaan dan pekerja, tetapi juga oleh pelaku usaha lokal.


Infrastruktur Jadi Kunci

Rudi juga mengingatkan bahwa keberhasilan investasi tidak hanya ditentukan oleh masuknya modal, tetapi juga kesiapan infrastruktur pendukung. Akses jalan, pelabuhan, pasokan listrik, air bersih, serta infrastruktur logistik dinilai menjadi faktor penting dalam menunjang aktivitas kawasan industri.

“Tanpa infrastruktur yang memadai, investasi sebesar apa pun akan terhambat. Ini menjadi PR bersama Pemprov Jatim dan pemerintah kabupaten di Madura untuk mempercepat pembenahan,” ungkapnya.

Sebagai Ketua DPRD Sampang, Rudi memastikan pihaknya akan ikut mengawal perkembangan investasi tersebut agar berjalan secara transparan, terukur, dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat.

Ia menegaskan bahwa kehadiran industri di Madura tidak boleh hanya menghasilkan kawasan pabrik baru, tetapi harus mampu menciptakan perubahan sosial dan ekonomi yang nyata.

“Tujuan akhirnya satu: mengurangi pengangguran, meningkatkan kesejahteraan, dan membuat Madura punya daya saing ekonomi baru di Jawa Timur,” pungkasnya.


Relokasi Industri Tiongkok

Rencana masuknya sejumlah industri dari Tiongkok ke Kawasan Industri Wiraraja Madura menyusul penandatanganan nota kesepahaman antara PT Wiraraja Madura International dengan Guangzhou Zhanjiang Industrial Transfer Cooperation Park Management Committee, serta kerja sama dengan Guangdong ASEAN Industrial Park International Cooperation Alliance.

Dalam kerja sama tersebut, sejumlah klaster industri dari Tiongkok direncanakan dikembangkan di Kawasan Industri Wiraraja Madura. Beberapa di antaranya meliputi industri cokelat, matras, tekstil, benang, serta berbagai sektor manufaktur padat karya lainnya.

Kawasan tersebut ditargetkan berkembang menjadi salah satu pusat manufaktur, logistik, dan energi ramah lingkungan. Dengan skala investasi dan pengembangan industri yang direncanakan, kawasan ini diharapkan mampu membuka ribuan lapangan kerja baru sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di Madura.

Bagi DPRD Sampang, peluang tersebut harus dikawal sejak awal agar masyarakat Madura tidak sekadar menjadi penonton di tanah sendiri. Investasi harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan UMKM, pembangunan infrastruktur, serta terbukanya kesempatan kerja yang luas bagi putra-putri Madura.


Editor : Redaksi 

×
Berita Terbaru Update