- -->

Notification

×

Iklan

Iklan

Bencana Tak Kenal Waktu, BPBD Sampang Bentuk Santri Jadi Garda Terdepan Lewat PESTANA

Jumat, 14 Agustus 2026 | 8/14/2026 08:15:00 AM WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-14T01:15:51Z
Pondok Pesantren At-Taroqi Karongan, Desa Tanggumong, menjadi lokasi pertama pelaksanaan Pesantren Tangguh Bencana (PESTANA) di Kabupaten Sampang sekaligus yang pertama di wilayah Korwil Madura,

Sampang, Liputan12.com – Bencana tidak pernah mengirimkan undangan sebelum datang. Ia bisa terjadi kapan saja, termasuk ketika aktivitas di lingkungan pesantren sedang padat, saat santri belajar, beribadah, beristirahat, maupun ketika lingkungan sekitar dalam kondisi lengah.

Kesadaran terhadap ancaman tersebut mendorong Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sampang mengambil langkah strategis dengan membawa edukasi kebencanaan langsung ke lingkungan pesantren.

Pada Kamis (13/8/2026), Pondok Pesantren (PP) At-Taroqi, Karongan, Desa Tanggumong, Kecamatan Sampang, menjadi lokasi pelaksanaan Pesantren Tangguh Bencana (PESTANA).



Kegiatan tersebut menjadi pelaksanaan PESTANA pertama di Kabupaten Sampang setelah diterbitkannya Surat Edaran Gubernur Jawa Timur Nomor 41505 Tahun 2025. Bahkan, PESTANA di PP At-Taroqi tercatat sebagai kegiatan pertama yang digelar di wilayah Korwil Madura.

Program ini bukan sekadar sosialisasi seremonial. Lebih dari itu, PESTANA menjadi pintu masuk untuk membangun budaya sadar risiko sekaligus meningkatkan kemampuan kesiapsiagaan masyarakat pesantren yang setiap harinya dihuni ratusan santri.

Kegiatan tersebut mendapat sambutan hangat dari keluarga besar PP At-Taroqi. Turut hadir Ustaz Fausi Qodir selaku perwakilan alumni, Ach. Fatoni, M.Pd., Wakil Sekretaris DPP Ikatan Alumni At-Taroqi (IMTAQ), serta ratusan santri yang antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.


Mendorong Kesiapsiagaan Mandiri di Pesantren

Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Sampang, Ahmed Baso, menegaskan bahwa kesiapsiagaan menghadapi bencana tidak boleh hanya bergantung kepada institusi pemerintah.

Menurutnya, pesantren memiliki karakteristik khusus karena dihuni banyak orang dalam satu kawasan dengan aktivitas yang berlangsung padat sepanjang hari. Karena itu, seluruh warga pesantren harus memiliki pengetahuan dasar untuk menghadapi potensi bencana.

“Mitigasi bencana bukan hanya tanggung jawab BPBD. Santri, pengasuh, pengurus, dan seluruh warga pesantren harus memiliki pengetahuan dasar tentang bagaimana mengenali risiko, mencegah dampak, dan menyelamatkan diri ketika bencana terjadi,” ujar Ahmed.

Ia menambahkan, para santri didorong untuk mampu mengenali berbagai potensi ancaman di lingkungan sekitar, memahami jalur evakuasi, mengetahui titik kumpul, serta mengambil tindakan yang tepat ketika situasi darurat terjadi.

“Jangan sampai ketika bencana datang kita baru bertanya harus lari ke mana. Pengetahuan itu harus dibangun sebelum bencana terjadi,” tegasnya.

Ahmed berharap dari lingkungan pesantren dapat lahir kader-kader tangguh yang mampu menghadapi situasi darurat tanpa kepanikan sekaligus menjadi penyambung informasi kebencanaan kepada masyarakat.


Santri Didorong Menjadi Agen Perubahan

Narasumber kegiatan, Aang Djunaidi, ST., MT., menilai langkah BPBD membawa pendidikan mitigasi secara langsung ke lingkungan pesantren merupakan hal yang sangat penting.

Menurutnya, pesantren bukan hanya lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga komunitas besar yang memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap risiko bencana.

Dengan jumlah santri yang besar serta jaringan alumni yang luas hingga ke mancanegara, menurut Aang, edukasi kebencanaan yang diberikan di pesantren berpotensi diteruskan kepada keluarga dan masyarakat di lingkungan masing-masing.

“Santri jangan hanya menjadi objek ketika terjadi bencana. Mereka harus dipersiapkan menjadi bagian dari solusi,” kata Aang.

Ia menegaskan bahwa pengetahuan dan keterampilan dasar kebencanaan dapat menjadikan santri sebagai bagian penting dalam membangun ketangguhan masyarakat.

“Dengan pengetahuan dan keterampilan yang tepat, santri bisa menjadi garda terdepan dalam membangun masyarakat yang tangguh bencana,” pungkasnya.


Simulasi Gempa Bumi Jadi Penutup

Program PESTANA di PP At-Taroqi diharapkan menjadi pemantik bagi pesantren-pesantren lain di Kabupaten Sampang untuk mulai membangun sistem kesiapsiagaan secara mandiri.

Pasalnya, ketika bencana terjadi, masyarakat yang berada di lokasi merupakan pihak pertama yang menghadapi situasi darurat sebelum bantuan dari pemerintah maupun lembaga terkait tiba.

Karena itu, kemampuan mengenali ancaman, melindungi diri, membantu sesama, serta melakukan evakuasi secara tepat menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi risiko korban.

Rangkaian kegiatan PESTANA kemudian diakhiri dengan simulasi bencana gempa bumi. Seluruh peserta mempraktikkan secara langsung cara merespons situasi darurat, mulai dari mengenali tanda bahaya, mengambil posisi perlindungan diri ketika guncangan terjadi, hingga melakukan evakuasi secara tertib menuju titik kumpul yang telah ditentukan.

Melalui PESTANA, BPBD Sampang tidak hanya mengajarkan bagaimana menghadapi bencana, tetapi juga mendorong lahirnya generasi santri yang memiliki kesadaran risiko, keterampilan kesiapsiagaan, dan kepedulian untuk ikut melindungi masyarakat di sekitarnya.



Saladin

×
Berita Terbaru Update