- -->

Notification

×

Iklan

Iklan

SAMPANG MADURA RASAKAN DINGIN MENUSUK TULANG, SEPERTI HAWA PEGUNUNGAN

Kamis, 11 Juni 2026 | 6/11/2026 03:44:00 AM WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-10T20:44:04Z

Sampang, Liputan12.com  – Suasana malam di wilayah Sampang, Madura yang sejak lama dikenal sebagai Pulau Garam kini terasa jauh berbeda dari biasanya. Hawa dingin yang menyelimuti kawasan ini terasa begitu menusuk hingga ke tulang, bahkan banyak warga menyebutkan bahwa sensasinya hampir sama dengan cuaca di daerah pegunungan seperti Malang atau daerah dataran tinggi lainnya. Kondisi ini membuat suasana di Jalan Raya Kedungdung dan beberapa kawasan sekitarnya tampak lebih sepi dari biasanya, karena sebagian besar warga lebih memilih berteduh di dalam rumah bersama keluarga sambil menggunakan selimut atau pakaian hangat. (Rabu, 10 Juni 2026)

Bedri, salah satu warga Dusun Laeran, Desa Daleman, Kecamatan Kedungdung, mengungkapkan keanehan situasi malam yang sangat berbeda dari hari-hari biasa. "Malam ini benar-benar tidak seperti biasanya. Biasanya Jalan Raya Kedungdung ini masih ramai sekali dilalui pengendara sepeda motor, bahkan seringkali ada pedagang kaki lima yang berjualan hingga pukul 00.00 sampai 01.00 dini hari. Namun malam ini, bahkan pukul 20.30 WIB saja kondisinya sudah terlihat sangat sepi, hanya beberapa kendaraan yang lewat dengan jarak yang cukup jauh," ujarnya saat ditemui di depan rumahnya.

Untuk menjawab kekhawatiran masyarakat terkait kondisi cuaca yang tidak biasa ini, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Juanda menegaskan bahwa kondisi dingin yang dirasakan bukanlah cuaca ekstrem yang berbahaya. Melainkan merupakan fenomena alam musiman yang sudah dikenal lama oleh masyarakat setempat dengan sebutan "Bediding". Fenomena ini muncul seiring dengan masuknya musim kemarau di wilayah Jawa dan Madura, di mana langit malam cenderung sangat cerah tanpa adanya awan sedikit pun. Tanpa adanya selimut awan yang biasanya menahan panas di permukaan bumi, panas yang telah tersimpan di dalam tanah langsung terlepas ke arah angkasa, sehingga suhu udara turun secara drastis mulai dari malam hingga menjelang dini hari.

Tak hanya itu, dinginnya yang terasa semakin menusuk juga diperparah oleh tiupan Angin Gending – angin kencang dan kering yang berasal dari arah benua Australia. Perpaduan antara suhu udara yang rendah dengan hembusan angin yang cukup kencang inilah yang membuat hawa terasa jauh lebih menggigit dan menyengat dibandingkan dengan malam-malam biasa di musim kemarau.

Meskipun secara ilmiah fenomena ini bersifat alami dan tidak membahayakan secara langsung, pihak terkait tetap mengimbau seluruh warga untuk tetap menjaga kesehatan dan kenyamanan diri. Suhu udara yang rendah dalam waktu lama dapat menurunkan daya tahan tubuh, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan mereka yang memiliki masalah kesehatan pernapasan maupun jantung. Disarankan untuk selalu memakai pakaian tebal, jaket hangat, atau selimut jika terpaksa harus beraktivitas di luar rumah pada malam hingga dini hari. Selain itu, saat siang hari kondisi cuaca berubah drastis menjadi sangat terik dan kering, sehingga warga juga diingatkan untuk selalu memperbanyak konsumsi air putih guna mencegah dehidrasi dan menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh.


@gus mandie

×
Berita Terbaru Update