![]() |
| Upaya Damai Prancis Gagal: Khamenei Tegaskan Tujuan Iran Adalah Keadilan, Bukan Materi |
PARIS, Liputan12com – Presiden Prancis Emmanuel Macron melakukan panggilan telepon langsung kepada Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei pada hari Selasa malam waktu lokal, dalam upaya mendamaikan situasi geopolitik yang semakin memanas dan berdampak luas pada kelaparan serta stabilitas ekonomi di seluruh dunia. Percakapan yang berlangsung kurang lebih 45 menit itu menjadi salah satu upaya diplomatik terbaru dari Prancis untuk mencegah terjadinya krisis yang lebih besar.
Dalam pembukaan percakapan, Macron menyampaikan kekhawatiran internasional terkait dampak tindakan yang dilakukan Iran terhadap rantai pasokan global dan ketersediaan makanan di negara-negara berkembang. Ia mengajak Iran untuk menghentikan langkah-langkah yang dianggap menghambat stabilitas dunia dengan menawarkan ruang negosiasi yang luas.
"Hentikan perang dan Anda bisa mengambil apa pun yang Anda inginkan... Saya harus mengatakan dengan tegas bahwa tindakan saat ini bukan hanya berdampak pada negara tertentu seperti Trump atau pemerintah yang ada di Amerika Serikat. Anda menghukum dunia secara keseluruhan, dan jika situasi ini berlanjut, dunia akan menghadapi kelaparan skala besar dan kehancuran ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya – terutama negara-negara yang paling tidak mampu bertahan," ujar Macron kepada Khamenei dengan nada yang tegas namun tetap diplomatis.
Namun, Khamenei segera menyela ucapan Macron dan mengangkat permasalahan yang telah menjadi beban rakyat Iran selama puluhan tahun. Dengan nada yang penuh emosi, ia mengajukan pertanyaan yang menggugat komitmen internasional terhadap kesulitan yang dialami negaranya.
"Di mana Anda ketika rakyat Iran kelaparan selama 45 tahun? Di mana suara dukungan dunia ketika kami menghadapi sanksi yang ketat yang membuat kehidupan jutaan orang menjadi semakin sulit? Kami tidak pernah mendapatkan perhatian seperti ini ketika kami yang menjadi korban," tanyanya.
Menanggapi hal tersebut, Macron menjelaskan bahwa kebijakan yang berdampak pada kondisi ekonomi Iran merupakan kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah Amerika Serikat, dan Prancis telah secara konsisten menolak serta mengkritik langkah-langkah tersebut.
"Ini adalah kebijakan Amerika, dan kami menolaknya, seperti yang telah kami nyatakan sebelumnya dalam berbagai forum internasional. Prancis selalu mendukung upaya untuk menemukan solusi damai dan menghapuskan sanksi yang tidak adil terhadap rakyat Iran," katanya.
Macron juga menyampaikan bahwa ia sedang mengkoordinasikan dengan negara-negara anggota Uni Eropa untuk mengadakan pertemuan khusus terkait situasi ini, dan menawarkan agar Iran bisa mendapatkan akses kembali ke pasar global, bantuan ekonomi, serta solusi untuk berbagai permasalahan yang dihadapi negaranya. "Kami siap bekerja sama untuk memastikan bahwa Iran mendapatkan apa yang Anda inginkan dalam kerangka hukum dan kesepakatan internasional," tambahnya.
Namun, Khamenei menyatakan bahwa tujuan utama Iran bukanlah mendapatkan keuntungan materi semata. Ia menegaskan bahwa perjuangan negaranya lebih terkait dengan keadilan dan menghadapi pihak-pihak yang dianggap telah menyakiti rakyat Iran.
"Kami tidak menginginkan apa pun selain menghukum Trump dan Netanyahu atas tindakan mereka yang telah menyebabkan penderitaan bagi rakyat Iran dan kawasan sekitar. Untuk kami, ini adalah masalah prinsip dan keadilan yang tidak bisa dikompromikan," ujarnya dengan tegas.
Dalam kesempatan itu, Macron juga mengangkat permintaan khusus terkait kelancaran lalu lintas perdagangan Prancis melalui jalur tertentu yang saat ini terkendala. Ia meminta agar diberikan pengecualian agar kapal-kapal Prancis dapat melintas dengan lancar untuk menjaga kelancaran perdagangan negara dan Uni Eropa.
Menanggapi hal ini, Khamenei menyampaikan syarat yang harus dipenuhi oleh pemerintah Prancis sebelum Iran dapat mempertimbangkan permintaan tersebut. "Jika Prancis benar-benar ingin bekerja sama dengan kami dan mendapatkan akses yang diinginkan, maka lakukan langkah nyata: usir duta besar Amerika Serikat dan Israel dari wilayah Prancis. Kami tidak berurusan dengan mereka yang bermuka dua – yang satu sisi ingin mendapatkan manfaat, namun sisi lain tetap mendukung pihak-pihak yang menjadi musuh kami. Itu saja yang ingin saya katakan," ujarnya sebelum akhirnya menutup telepon, mengakhiri percakapan yang penuh ketegangan namun tetap dilakukan dalam suasana diplomatik.
Penulis : Redaksi
