- -->

Notification

×

Iklan

Iklan

Kenaikan Harga BBM Melanda Asia Tenggara: Indonesia Tetap Stabil, Negara Lain Alami Lonjakan Signifikan

Senin, 30 Maret 2026 | 3/30/2026 11:14:00 AM WIB | 0 Views Last Updated 2026-03-30T04:14:21Z
Kenaikan harga BBM melanda Asia Tenggara, tapi Indonesia tetap stabil dengan 0% kenaikan. Sementara itu, negara lain seperti Filipina (bensin +54,2%, diesel +81,6%), Kamboja (bensin +52,8%, diesel +78,7%), dan Laos (bensin +32,9%, diesel +72,4%) alami lonjakan signifikan. Perbedaan ini dipengaruhi kebijakan subsidi energi dan kondisi ekonomi domestik.

JAKARTA, Liputan12.com – Fenomena kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang melanda kawasan Asia Tenggara dalam beberapa waktu terakhir menjadi sorotan publik, dengan data perbandingan menunjukkan disparitas yang cukup signifikan antara negara-negara di kawasan, baik untuk jenis bensin maupun solar (diesel). Kondisi ini tercatat hingga tanggal 29 Maret 2026, dengan situasi yang menunjukkan perbedaan yang mencolok dalam penyesuaian harga antarnegara.

Indonesia berhasil menempatkan diri sebagai satu-satunya negara di kawasan Asia Tenggara yang tidak mengalami kenaikan harga BBM sama sekali, dengan persentase kenaikan 0% baik untuk jenis bensin maupun diesel. Stabilitas harga ini menjadikan Indonesia dalam posisi yang relatif aman dibandingkan dengan negara tetangga yang sebagian besar mengalami lonjakan harga yang cukup signifikan akibat tekanan pasar energi global.

Sementara itu, Thailand mencatat kenaikan harga yang tergolong moderat dibandingkan negara lain di kawasan, dengan kenaikan harga bensin sebesar 8,7% dan diesel 9,1%. Meskipun tergolong lebih rendah, kenaikan ini tetap memberikan dampak terhadap biaya hidup dan aktivitas ekonomi masyarakat Thailand.

Negara kota Singapura mengalami kenaikan yang cukup signifikan, dengan kenaikan harga bensin mencapai 20,5% dan diesel melonjak hingga 44,0%. Lonjakan harga yang cukup tinggi ini menunjukkan adanya tekanan pasar energi global yang sangat kuat terhadap negara yang memiliki konsumsi energi tinggi dan ketergantungan impor yang besar.

Malaysia juga tidak luput dari lonjakan harga yang cukup tinggi, dengan kenaikan harga bensin mencapai 28,7% dan diesel melonjak hingga 57,9%. Kondisi ini diperkirakan dipengaruhi oleh kombinasi faktor kebijakan energi domestik serta dampak langsung dari fluktuasi harga minyak dunia yang terus bergerak naik.

Di Vietnam, kenaikan harga BBM juga menunjukkan angka yang cukup tinggi, dengan kenaikan bensin tercatat sebesar 31,8% dan diesel 45,9%. Angka ini menempatkan Vietnam dalam kategori negara dengan kenaikan menengah ke atas di kawasan Asia Tenggara, yang berdampak pada berbagai sektor ekonomi terutama transportasi dan industri.

Negara tetangga Laos mengalami kenaikan yang lebih tajam, yakni 32,9% untuk harga bensin dan bahkan mencapai 72,4% untuk diesel. Kondisi yang lebih ekstrem terjadi di Kamboja, yang mencatat kenaikan harga hingga 52,8% untuk bensin dan melonjak hingga 78,7% untuk diesel, menjadikannya salah satu negara dengan kenaikan harga BBM tertinggi di kawasan.

Filipina dan Myanmar juga mengalami lonjakan harga yang signifikan. Filipina mencatat kenaikan harga bensin sebesar 54,2% dan diesel bahkan mencapai angka fantastis 81,6%, sementara Myanmar mengalami kenaikan 55,4% untuk bensin dan 76,9% untuk diesel. Kenaikan harga yang sangat tinggi ini diperkirakan akan memberikan tekanan berat terhadap perekonomian domestik kedua negara tersebut.

Perbedaan signifikan dalam tingkat kenaikan harga BBM di antara negara-negara Asia Tenggara dipengaruhi oleh berbagai faktor kompleks, seperti kebijakan subsidi energi yang diterapkan masing-masing negara, kondisi ekonomi domestik, struktur pasar energi lokal, hingga tingkat ketergantungan terhadap impor minyak mentah dan produk olahannya. Stabilitas harga BBM di Indonesia menjadi perhatian tersendiri di tengah tekanan global yang masih berlangsung, yang menunjukkan bahwa kebijakan energi yang diterapkan pemerintah telah mampu menjaga kestabilan harga untuk menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi nasional.


Penulis : Redaksi 

×
Berita Terbaru Update