Sampang, Liputan12.com - Tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Kabupaten Sampang menunjukkan penurunan tipis pada tahun 2025 dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Data menunjukkan bahwa TPT di Sampang turun dari 2,5 persen pada tahun 2024 menjadi 2,44 persen pada tahun 2025, atau berkurang sebesar 0,06 persen.
Kepala Bidang Pelatihan dan Hubungan Industrial Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Sampang, Ervien Budi Jatmiko, menjelaskan bahwa penurunan angka pengangguran ini merupakan hasil dari kombinasi berbagai program pemerintah pusat dan intervensi yang dilakukan oleh pemerintah daerah. Namun, ia juga menyoroti bahwa struktur ketenagakerjaan di Sampang masih didominasi oleh sektor pertanian.
"Serapan tenaga kerja terbesar tetap di sektor pertanian, sekitar 292 ribu orang. Kemudian sektor jasa sekitar 188 ribu orang dan industri 72 ribu orang," ujar Ervien Budi Jatmiko pada Senin (23/2/2026).
Ervien menjelaskan bahwa total angkatan kerja di Kabupaten Sampang saat ini mencapai sekitar 603 ribu orang, yang merupakan penduduk usia produktif yang baik bekerja maupun aktif mencari pekerjaan. Kondisi ini menunjukkan bahwa potensi sumber daya manusia di Sampang cukup besar, namun masih perlu dioptimalkan agar dapat terserap di berbagai sektor ekonomi yang lebih produktif.
Dalam kesempatan tersebut, Ervien juga menyinggung mengenai dampak program Makan Bergizi Gratis (MBG) terhadap penyerapan tenaga kerja di Sampang. Meskipun Disnaker Sampang tidak terlibat langsung dalam pelaksanaan program MBG, ia menyebutkan bahwa satu dapur MBG rata-rata dapat menyerap 40 hingga 50 pekerja, termasuk tenaga dapur dan manajemen. Dengan target operasional mencapai sekitar 110 dapur, program MBG diproyeksikan dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam menciptakan lapangan kerja baru di Sampang.
Namun, di sisi lain, Ervien juga mengungkapkan adanya tantangan terkait dengan keterbatasan anggaran yang dialokasikan untuk program peningkatan kompetensi tenaga kerja. Pada tahun 2026, Disnaker Sampang hanya menerima alokasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) sebesar Rp900 juta. Anggaran tersebut dialokasikan untuk 11 kegiatan pelatihan dengan total 176 peserta. Jumlah ini mengalami penurunan yang signifikan dibandingkan dengan tahun 2025, di mana Disnaker Sampang dapat melaksanakan 24 kegiatan pelatihan dengan sekitar 620 peserta.
"Penurunan jumlah pelatihan sejalan dengan berkurangnya alokasi DBHCHT. Untuk APBD murni memang tidak tersedia anggaran pelatihan," tegas Ervien.
Adapun jenis pelatihan yang dibuka oleh Disnaker Sampang meliputi menjahit, servis motor, pengelasan, komputer, dan sejumlah kejuruan lain. Setiap pelatihan berlangsung selama 30 hari, pendaftaran dilakukan secara daring, dan tidak dipungut biaya. Hal ini dilakukan agar masyarakat dari berbagai kalangan dapat mengikuti pelatihan dan meningkatkan keterampilan yang dimilikinya.
Dengan kondisi struktur ketenagakerjaan yang masih didominasi oleh sektor pertanian dan keterbatasan anggaran pelatihan, Disnaker Sampang menghadapi tantangan yang cukup besar dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan mengurangi angka pengangguran di Kabupaten Sampang. Diperlukan strategi dan inovasi yang lebih efektif dan berkelanjutan agar dapat memberikan dampak positif jangka panjang. Pemerintah daerah perlu melakukan inovasi dalam pengembangan program pelatihan yang tidak hanya bergantung pada dana dari pusat, tetapi juga berkolaborasi dengan pihak swasta, swadaya masyarakat, dan lembaga pendidikan setempat.
Selain itu, peningkatan kapasitas dan kualitas pelatih serta pengembangan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan pasar tenaga kerja saat ini juga sangat diperlukan. Dengan memperluas peluang pelatihan di sektor industri yang sedang berkembang dan mampu mendongkrak ekonomi daerah, diharapkan tingkat pengangguran dapat semakin menurun dan potensi sumber daya manusia di Kabupaten Sampang bisa lebih optimal terserap.
Disnaker dan seluruh stakeholder terkait diharapkan juga terus meningkatkan sosialisasi dan promosi program pelatihan agar lebih banyak masyarakat yang mengetahui dan berminat mengikuti. Penyediaan fasilitas dan akses online yang memudahkan pendaftaran, serta pelaksanaan pelatihan secara inovatif seperti blended learning, menjadi langkah strategis dalam mengatasi keterbatasan dana dan memperluas jangkauan pelatihan.
Dengan sinergi yang baik antar seluruh pihak, diharapkan pembangunan sumber daya manusia yang berbasis kompetensi, inovatif, dan adaptif terhadap kebutuhan ekonomi nasional dan global bisa terlaksana di Kabupaten Sampang. Sehingga, Godaan pengangguran bisa ditekan dan kesejahteraan masyarakat bisa meningkat secara berkesinambungan.
