-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Harmoni Budaya dan Spiritualitas: Tradisi Nyadran di Desa Meteseh Jadi Perekat Solidaritas dan Penghormatan Leluhur Sambut Ramadan

Jumat, 23 Januari 2026 | 1/23/2026 09:04:00 AM WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-23T02:09:57Z

Kendal, Liputan12.com - Di tengah geliat modernisasi, masyarakat Dusun Rowosari, Desa Meteseh, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal, tetap teguh melestarikan tradisi Nyadran yang kaya akan makna. Kegiatan sakral ini bukan hanya sekadar ritual tahunan, melainkan juga menjadi momentum penting untuk merajut kembali tali silaturahmi, menumbuhkan semangat gotong royong, serta menghormati jasa para leluhur yang telah mewariskan nilai-nilai luhur bagi kehidupan mereka.

Pada Jumat (23/1/2026), Makam Rowosari menjadi pusat perhatian warga yang berbondong-bondong datang untuk mengikuti rangkaian acara Nyadran. Suasana khidmat dan penuh kebersamaan terasa begitu kental, seolah menyatukan seluruh elemen masyarakat dalam satu tujuan mulia.

Acara Nyadran ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting desa, antara lain Kepala Dusun Rowosari Kasno, Ketua RW 05 Surwanto, Modin Rowosari Ustadz Suparyono, serta K.H Ahmad Kholil Al Hafidz, seorang tokoh agama yang kharismatik yang memimpin jalannya doa. Tak ketinggalan, perwakilan warga dari 32 RT se-Rowosari juga turut berpartisipasi aktif dalam kegiatan ini, menunjukkan tingginya antusiasme dan kesadaran masyarakat akan pentingnya melestarikan warisan budaya.

Kepala Dusun Rowosari, Kasno, menjelaskan bahwa tradisi Nyadran, yang juga dikenal dengan sebutan Ruwahan, memiliki akar sejarah yang panjang dan kaya. Tradisi ini dilaksanakan pada bulan Ruwah atau Sya'ban dalam kalender Hijriyah, sebagai bentuk persiapan spiritual dan penyucian diri menjelang datangnya bulan suci Ramadan.

"Tradisi Nyadran ini merupakan perpaduan harmonis antara budaya Jawa yang kaya akan nilai-nilai kearifan lokal dan ajaran Islam yang penuh dengan nilai-nilai spiritual. Tradisi ini telah diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi, menjadi identitas dan kebanggaan bagi masyarakat Desa Meteseh," ungkap Kasno dengan penuh semangat.

Lebih lanjut, Kasno menjelaskan bahwa tradisi Nyadran bukan hanya sekadar ziarah ke makam leluhur. Ada nilai-nilai sosial budaya yang sangat penting yang terkandung di dalamnya, seperti gotong royong, pengorbanan ekonomi, menjalin silaturahmi, dan saling berbagi antar sesama warga Desa Meteseh.

"Melalui tradisi Nyadran, kami belajar untuk saling membantu, saling peduli, dan saling berbagi dengan sesama. Kami juga belajar untuk menghargai jasa para leluhur yang telah berjuang untuk membangun desa ini," imbuh Kasno.

Modin Rowosari, Ustadz Suparyono, menambahkan bahwa rangkaian tradisi Nyadran meliputi berbagai kegiatan yang memiliki makna mendalam. Dimulai dengan besik atau pembersihan makam leluhur, sebagai bentuk penghormatan dan upaya menjaga kebersihan lingkungan. Kemudian dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama, sebagai bentuk permohonan ampunan dan keberkahan dari Allah SWT. Puncaknya adalah kenduri dan tasyakuran dengan makan bersama, sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur atas segala nikmat yang telah diberikan.

Ketua RT 014 RW 05 Rowosari, Joko Susanto, yang juga merupakan paralegal Desa Meteseh, menyampaikan bahwa Nyadran atau nyekar menjadi sarana yang efektif untuk menjaga nilai-nilai sosial budaya yang luhur, mempererat tali persaudaraan, serta memperkokoh semangat gotong royong di tengah masyarakat.

"Tradisi Nyadran ini bukan hanya sekadar ritual, tetapi juga menjadi ajang untuk mempererat tali silaturahmi antarwarga. Kami bisa saling bertemu, saling bertukar kabar, dan saling memberikan dukungan," ujar Joko Susanto.

Selain itu, Joko Susanto juga menjelaskan bahwa tradisi Nyadran ini rutin dilaksanakan menjelang datangnya bulan suci Ramadan sebagai bentuk persiapan diri untuk menyambut bulan yang penuh berkah ini.

"Kami berharap dengan melaksanakan tradisi Nyadran ini, kami dapat membersihkan hati dan pikiran kami, sehingga kami dapat menjalankan ibadah puasa dengan khusyuk dan penuh keikhlasan," pungkas Joko Susanto.

Tradisi Nyadran di Desa Meteseh merupakan bukti nyata bahwa harmoni antara budaya dan spiritualitas dapat menjadi perekat yang kuat untuk menjaga solidaritas dan menghormati jasa para leluhur. 

Tradisi ini diharapkan dapat terus dilestarikan oleh generasi muda Desa Meteseh sebagai bagian dari identitas dan kebanggaan mereka.

Lebih jauh, Nyadran di Desa Meteseh bukan hanya sekadar menjadi agenda rutin tahunan, tetapi juga menjadi daya tarik wisata budaya yang potensial. Banyak wisatawan lokal maupun mancanegara yang tertarik untuk menyaksikan langsung tradisi yang unik dan sarat makna ini. Hal ini tentu dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian desa, khususnya bagi para pelaku UMKM yang menjajakan berbagai macam makanan dan kerajinan khas Desa Meteseh.

"Kami berharap pemerintah daerah dapat memberikan dukungan yang lebih besar terhadap pelestarian tradisi Nyadran ini. Kami juga berharap tradisi ini dapat dipromosikan secara lebih luas, sehingga dapat menjadi daya tarik wisata yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Meteseh," ujar Kasno.

Selain itu, tradisi Nyadran juga menjadi momentum penting untuk memperkuat kerukunan dan toleransi antarumat beragama di Desa Meteseh. Meskipun mayoritas masyarakat Desa Meteseh beragama Islam, namun tradisi Nyadran juga diikuti oleh warga yang beragama lain. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi Nyadran dapat menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai perbedaan dan menciptakan harmoni dalam kehidupan bermasyarakat.

"Kami bangga bahwa tradisi Nyadran ini dapat menjadi sarana untuk mempererat persatuan dan kesatuan bangsa. Kami berharap tradisi ini dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam membangun kerukunan antarumat beragama," ujar Ustadz Suparyono.

Dengan semangat gotong royong dan kebersamaan, masyarakat Desa Meteseh terus berupaya untuk melestarikan tradisi Nyadran sebagai warisan budaya yang tak ternilai harganya. Mereka meyakini bahwa dengan menjaga tradisi Nyadran, mereka dapat menjaga identitas diri, mempererat tali persaudaraan, serta meningkatkan kesejahteraan lahir dan batin.

Tradisi Nyadran di Desa Meteseh bukan hanya sekadar cerita masa lalu, tetapi juga merupakan cerminan semangat masa kini dan harapan masa depan. Semangat untuk melestarikan warisan budaya, menjunjung tinggi nilai-nilai luhur, serta membangun masyarakat yang harmonis dan sejahtera.


(Zen)

×
Berita Terbaru Update