Sampang, Liputan12.com - Kehadiran seorang oknum yang mengaku sebagai wartawan di Kampung Bungpalongan dan Dusun Kanderuh, Desa Banjarbillah, Kecamatan Tambelangan, Kabupaten Sampang, telah menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat. Oknum tersebut dinilai melakukan tindakan yang mengganggu kenyamanan dan bahkan berpotensi mengarah pada intimidasi.
Menurut laporan yang diterima dari perwakilan organisasi masyarakat (Ormas) setempat yang enggan disebutkan namanya, oknum tersebut secara berulang kali memotret dan merekam video kegiatan swadaya masyarakat berupa pengecoran jalan di Kampung Bungpalongan. Warga merasa tidak nyaman karena oknum tersebut terkesan mencurigai bahwa proyek tersebut didanai oleh dana desa, padahal sudah dijelaskan bahwa proyek tersebut sepenuhnya merupakan hasil swadaya masyarakat.
"Warga sudah berkali-kali menjelaskan bahwa proyek ini adalah hasil gotong royong, bukan dari dana desa. Tapi, oknum ini tetap saja datang dan mengambil gambar, seolah-olah kami melakukan sesuatu yang ilegal," ujar salah seorang warga dengan nada kesal.
Kejadian ini bermula ketika oknum tersebut mendatangi kediaman salah satu Ustadz berinisial Kh, seorang tokoh masyarakat yang dihormati di Bungpalongan, untuk menanyakan perihal proyek pengecoran jalan tersebut. Ustadz Kh sedang tidak berada di rumah saat itu. Oknum tersebut kemudian menghubungi Ustadz Kh melalui telepon seluler milik istri Ustadz Kh. Dalam percakapan melalui telepon tersebut, Ustadz Kh sendiri yang menegaskan bahwa proyek pengecoran jalan itu adalah murni inisiatif warga dan didanai secara swadaya.
Namun, penjelasan dari Ustadz Kh tampaknya tidak memuaskan oknum yang mengaku wartawan tersebut. Ia tetap berkeliaran di sekitar lokasi pengecoran, terus melakukan pemotretan dan perekaman video, bahkan terkadang melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang bernada provokatif. Hal ini membuat warga semakin geram dan merasa terintimidasi.
"Kami merasa seperti diawasi dan dicurigai. Padahal, kami hanya ingin membangun jalan yang lebih baik untuk kepentingan bersama," keluh warga lainnya.
Merasa tidak tahan dengan ulah oknum yang mengaku wartawan tersebut, warga akhirnya bersepakat untuk menegurnya secara langsung. Setelah dikonfrontasi, oknum tersebut mengakui bahwa dirinya adalah seorang wartawan, namun tidak dapat menunjukkan identitas atau surat tugas yang sah. Ia kemudian berjanji untuk tidak lagi mengganggu kegiatan masyarakat setempat.
Menanggapi kejadian ini, organisasi masyarakat (Ormas) setempat langsung bergerak cepat untuk melindungi masyarakat dari potensi intimidasi. Mereka berjanji akan terus mengawal kasus ini dan memastikan keamanan serta kenyamanan warga Bungpalongan.
"Kami tidak akan membiarkan siapapun mengganggu ketenangan dan kenyamanan masyarakat Bungpalongan. Kami akan berkoordinasi dengan aparat kepolisian untuk menindak tegas oknum-oknum yang melakukan tindakan meresahkan dan merugikan masyarakat," tegas perwakilan Ormas tersebut.
Ormas tersebut juga mengimbau kepada masyarakat untuk tetap tenang dan waspada. Jika ada pihak-pihak yang mengaku sebagai wartawan dan melakukan tindakan yang mencurigakan, warga diminta untuk segera melaporkan kepada pihak berwajib atau kepada perwakilan Ormas setempat.
(Duro)
