Palabuhanratu, Lioutan12.com - Hari Santri Nasional yang diperingati setiap 22 Oktober bukan sekadar seremoni. Lebih dari itu, peringatan tersebut menjadi mata rantai sejarah yang melahirkan Hari Pahlawan 10 November. Hal itu ditegaskan tokoh agama Palabuhanratu, H. Ade Ridwan Tabroni, M.Pd.
Menurut Sekretaris MUI Kecamatan Palabuhanratu tersebut, tanpa adanya Resolusi Jihad yang diserukan KH. Hasyim Asy'ari, tidak akan ada pertempuran heroik di Surabaya yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan.
"Resolusi Jihad membakar semangat para santri, laskar Hizbullah dan Sabilillah, serta masyarakat luas. Gelora semangat inilah yang menjadi pendorong utama pecahnya pertempuran 10 November 1945. Jadi jelas, santri adalah pejuang sejati bangsa," ujar Ade, Rabu (21/10/2026).
Ia menjelaskan, Resolusi Jihad lahir dalam situasi genting pasca Proklamasi 17 Agustus 1945. Saat itu tentara Sekutu yang diboncengi NICA (Belanda) kembali datang untuk menguasai Indonesia.
Pada 21-22 Oktober 1945, KH. Hasyim Asy'ari memimpin pertemuan para kiai se-Jawa dan Madura di Surabaya. Hasilnya adalah fatwa bahwa membela tanah air dari penjajah hukumnya fardu 'ain atau wajib bagi setiap Muslim.
Fatwa inilah yang kemudian diperingati sebagai Hari Santri Nasional, yang resmi ditetapkan melalui Keppres Nomor 22 Tahun 2015 oleh Presiden Joko Widodo. Gagasannya sendiri awalnya digulirkan tahun 2014 oleh santri Pondok Pesantren Babussalam Malang dan diperjuangkan PBNU di bawah KH. Said Aqil Siradj.
H. Ade Ridwan berharap, semangat Resolusi Jihad itu harus hidup di dada santri masa kini.
"Hari Santri harus menjadi momentum bangkitnya santri. Santri harus bisa mengambil peranan penting dalam pembangunan bangsa dan negara, serta menjadi contoh suri tauladan bagi generasi muda lainnya," tegasnya.
Ia juga mengapresiasi kepedulian pemerintah terhadap dunia pesantren, mulai dari dibukanya jalur tahfidz untuk masuk TNI-Polri hingga adanya Direktorat Pesantren khusus di Kementerian Agama.
"Itu bukti kepedulian pemerintah karena terbukti perjuangan Indonesia muncul dari pesantren. Kita patut berterima kasih kepada Mbah KH. Hasyim Asy'ari dan Mbah KH. Said Aqil Siradj yang dengan jasa beliau akhirnya lahir Hari Santri Nasional," pungkasnya.
Sementara itu, puncak peringatan Hari Santri Nasional di Kabupaten Sukabumi akan digelar Kamis, 22 Oktober 2026 dengan apel terpusat di Lapangan Korpri, Kecamatan Cisaat. Untuk Kecamatan Palabuhanratu sendiri, puncak acara akan digelar pada Sabtu, 24 Oktober 2026.
(Penulis: Ajid Alvaro)

