Pamekasan, Liputan12.com – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Universitas Trunojoyo Madura (UTM) di Desa Padelegan, Kabupaten Pamekasan, terus berupaya mendorong penguatan ekonomi masyarakat melalui program pendampingan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Langkah tersebut diwujudkan melalui pemanfaatan teknologi digital, mulai dari penyediaan sistem pembayaran menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS), pembuatan label kemasan produk, hingga penyusunan video profil usaha sebagai sarana promosi.
Program yang dilaksanakan pada Sabtu, 17 Oktober 2026, ini menyasar sejumlah pelaku usaha lokal, termasuk Toko Sinar Barokah, usaha Teri Crispy Bibo, dan UD. Citra Aulia. Pendampingan tersebut dirancang untuk membantu pelaku usaha beradaptasi dengan perkembangan pola transaksi dan pemasaran yang semakin mengandalkan teknologi digital.
Desa Padelegan memiliki potensi ekonomi masyarakat yang beragam. Selain aktivitas perdagangan melalui toko kelontong, desa ini juga memiliki usaha pengolahan hasil perikanan, salah satunya produk teri crispy yang menjadi salah satu produk unggulan setempat. Potensi tersebut dinilai dapat terus dikembangkan apabila didukung oleh pengelolaan usaha yang lebih tertata, identitas produk yang kuat, serta strategi pemasaran yang mampu menjangkau konsumen lebih luas.
Namun, dalam menjalankan usahanya, sebagian pelaku UMKM masih menghadapi tantangan, mulai dari keterbatasan pilihan pembayaran nontunai, kemasan produk yang belum memiliki identitas visual optimal, hingga minimnya media promosi digital. Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan mahasiswa KKNT UTM dalam merancang program kerja yang tidak hanya berorientasi pada pengenalan teknologi, tetapi juga memberikan pendampingan secara langsung sesuai kebutuhan pelaku usaha.
Dorong Transaksi Nontunai melalui QRIS
Salah satu kegiatan utama dalam program tersebut adalah penyerahan kode QRIS kepada pelaku UMKM. Mahasiswa mendatangi lokasi usaha masing-masing untuk menyerahkan kode pembayaran sekaligus memberikan penjelasan mengenai cara penggunaannya.
Melalui sistem QRIS, pelanggan dapat melakukan pembayaran dengan memindai kode menggunakan aplikasi pembayaran digital atau mobile banking yang mendukung QRIS. Kehadiran fasilitas ini diharapkan memberikan alternatif transaksi yang lebih praktis bagi konsumen sekaligus membantu pelaku usaha mengikuti perkembangan sistem pembayaran modern.
Dalam pendampingan tersebut, mahasiswa juga menjelaskan tahapan transaksi, mulai dari proses pemindaian kode oleh pelanggan hingga pemeriksaan status pembayaran dan pengelolaan dana yang diterima. Pemahaman ini penting agar pemilik usaha tidak sekadar memiliki kode QRIS, tetapi juga mengetahui cara menggunakannya secara tepat dalam kegiatan perdagangan sehari-hari.
Penggunaan pembayaran digital berpotensi membantu mengurangi ketergantungan pada uang tunai, meminimalkan persoalan uang kembalian, serta mempermudah penelusuran transaksi. Meski demikian, pencatatan keuangan tetap diperlukan agar pemilik usaha dapat memantau pemasukan dan pengeluaran secara lebih teratur.
Bagi UMKM di tingkat desa, digitalisasi transaksi menjadi salah satu langkah awal untuk membangun kebiasaan usaha yang lebih adaptif. Dengan tersedianya pilihan pembayaran nontunai, pelaku usaha diharapkan dapat memberikan kemudahan kepada konsumen dengan preferensi pembayaran yang berbeda-beda.
Perkuat Identitas Produk melalui Label Kemasan
Tidak berhenti pada sistem pembayaran, mahasiswa KKNT UTM juga memberikan perhatian terhadap tampilan produk. Dalam kegiatan pendampingan ini, pembuatan label kemasan menjadi bagian penting untuk memperkuat identitas usaha, khususnya bagi produk olahan ikan teri crispy.
Kemasan bukan hanya berfungsi melindungi produk, melainkan juga menjadi media komunikasi antara produsen dan konsumen. Label yang dirancang secara menarik dan informatif dapat membantu konsumen mengenali nama produk, membedakannya dari produk sejenis, serta mengingat identitas usaha yang memproduksinya.
Bagi pelaku usaha skala kecil, pembenahan tampilan kemasan merupakan langkah strategis untuk meningkatkan daya tarik produk. Identitas visual yang konsisten juga berpotensi memperkuat citra usaha ketika produk dipasarkan melalui media sosial, platform perdagangan daring, maupun jaringan penjualan konvensional.
Melalui pendampingan ini, mahasiswa berupaya membantu pelaku usaha memahami bahwa kualitas produk perlu diimbangi dengan penyajian dan identitas yang baik. Dengan demikian, produk lokal tidak hanya dikenal karena cita rasanya, tetapi juga memiliki tampilan yang lebih siap bersaing di pasar.
Pengembangan kemasan tetap perlu disertai perhatian terhadap informasi produk yang sesuai, keamanan pangan, serta ketentuan pelabelan yang berlaku. Hal tersebut menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan konsumen secara berkelanjutan.
Video Profil Usaha sebagai Sarana Promosi Digital
Aspek lain yang menjadi perhatian mahasiswa adalah promosi usaha melalui video profil. Media audiovisual ini disiapkan untuk memperkenalkan identitas usaha, proses produksi, serta keunggulan produk kepada calon konsumen.
Kehadiran video profil diharapkan dapat membantu pelaku UMKM memperluas jangkauan promosi, terutama melalui platform media sosial seperti Instagram, Facebook, dan TikTok. Melalui tayangan visual, masyarakat dapat memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai produk dan aktivitas usaha yang dijalankan warga Desa Padelegan.
Bagi usaha teri crispy, dokumentasi proses produksi dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan karakter produk sekaligus mengangkat potensi pengolahan hasil perikanan lokal. Konten tersebut juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan promosi yang dapat dibagikan kembali oleh pemilik usaha kepada calon pelanggan.
Di tengah persaingan pemasaran digital, keberadaan konten promosi yang menarik dan konsisten dapat membantu usaha kecil membangun pengenalan merek. Meski demikian, efektivitas promosi tetap memerlukan pengelolaan berkelanjutan, mulai dari pembaruan konten hingga komunikasi yang responsif dengan calon pembeli.
Dengan menggabungkan pembayaran digital, pembenahan label kemasan, dan video profil, program KKNT UTM berupaya menghadirkan pendekatan pendampingan yang mencakup beberapa aspek penting dalam pengembangan UMKM, bukan hanya memperkenalkan satu jenis teknologi.
Pelaku UMKM Sambut Baik Pendampingan
Pelaksanaan program tersebut mendapat sambutan positif dari para pelaku usaha yang dikunjungi mahasiswa. Keterbukaan pemilik usaha dalam menerima pendampingan menjadi bagian penting dalam proses pengenalan dan pemanfaatan sarana digital yang disediakan.
Melalui interaksi langsung di lokasi usaha, mahasiswa dapat menjelaskan manfaat program sekaligus memberikan pemahaman praktis mengenai penggunaannya. Pendekatan ini diharapkan membuat pelaku UMKM lebih mudah mengenali fungsi teknologi yang diperkenalkan dan mengintegrasikannya ke dalam aktivitas usaha sehari-hari.
Program tersebut juga memperlihatkan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam mendorong pengembangan ekonomi lokal. Mahasiswa tidak hanya menerapkan pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah, tetapi juga berupaya menghadirkan solusi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat di lapangan.
Kendati demikian, keberhasilan digitalisasi UMKM tidak cukup diukur dari tersedianya kode QRIS, label produk, maupun video promosi. Pemanfaatan yang konsisten, peningkatan keterampilan pengelolaan usaha, kualitas produk, dan kemampuan menjaga kepercayaan pelanggan tetap menjadi faktor penting dalam keberlanjutan usaha.
Harapan bagi Penguatan Ekonomi Desa
Melalui program pendampingan ini, mahasiswa KKNT UTM berharap pelaku UMKM Desa Padelegan semakin siap menghadapi perubahan pola transaksi dan pemasaran. Pemanfaatan teknologi digital diharapkan menjadi pintu masuk bagi pengembangan usaha yang lebih terorganisasi, memiliki identitas produk yang jelas, dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
Program tersebut sekaligus menjadi bentuk pengabdian mahasiswa kepada masyarakat, dengan menempatkan potensi ekonomi desa sebagai salah satu fokus kegiatan. Usaha lokal seperti teri crispy memiliki peluang untuk terus berkembang apabila didukung inovasi, promosi yang tepat, dan pengelolaan usaha yang berkesinambungan.
Ke depan, keberlanjutan program memerlukan keterlibatan aktif para pelaku usaha serta dukungan berbagai pihak, termasuk pemerintah desa dan pemangku kepentingan terkait. Pendampingan lanjutan dalam pengelolaan keuangan, pemasaran digital, pengembangan kemasan, dan peningkatan kualitas produk dapat membantu memperkuat dampak program.
Digitalisasi bukan sekadar mengikuti tren teknologi, melainkan upaya membangun kesiapan usaha dalam menghadapi perubahan kebutuhan konsumen. Dengan langkah yang terarah dan berkelanjutan, UMKM Desa Padelegan diharapkan mampu mengoptimalkan potensi lokal sekaligus memperkuat kontribusinya terhadap perekonomian masyarakat.
Laporan : Alfan Baetoni
Editor : Frankky

