- -->

Notification

×

Iklan

Iklan

Jejak Walisongo dalam Harmoni Orchestra, Sholawat Dikemas Modern Sentuh Generasi Muda

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 10/03/2026 08:24:00 AM WIB | 0 Views Last Updated 2026-10-03T01:24:30Z
Jejak dakwah Walisongo kini hadir dalam kemasan berbeda. Melalui Konser Sholawat Orchestra “Jejak Walisongo (Sholli Wa Sallimda)”, lantunan sholawat yang sarat makna spiritual berpadu dengan megahnya aransemen simfoni, menyentuh emosi penonton sekaligus mengenalkan kembali sejarah Islam Nusantara kepada generasi muda.


Surabaya, Liputan12.com — Syair sholawat yang sarat makna spiritual berpadu dengan denting instrumen orkestra dalam sebuah pertunjukan yang menghadirkan warna berbeda bagi perkembangan musik religi Nusantara. Konser Sholawat Orchestra “Jejak Walisongo (Sholli Wa Sallimda)” menjadi salah satu bentuk kreativitas dalam mengemas tradisi keagamaan melalui bahasa musik yang lebih modern.


Pertunjukan tersebut tidak hanya menyuguhkan lantunan sholawat, tetapi juga membawa penonton menyusuri kembali narasi sejarah penyebaran Islam di Tanah Jawa melalui kisah Walisongo.


Konsep Sholawat Orchestra menjadi pembeda utama pertunjukan ini. Jika sholawat selama ini banyak dikenal melalui iringan hadrah dan instrumen tradisional, “Jejak Walisongo” menghadirkan pendekatan simfonis dengan memadukan vokal religi dan aransemen musik orkestra.


Harmonisasi tersebut menghasilkan nuansa musikal yang megah sekaligus tetap mempertahankan karakter syair sholawat. Musik tidak ditempatkan sekadar sebagai pengiring, tetapi menjadi bagian penting dalam membangun suasana spiritual dan emosional sepanjang pertunjukan.


Salah satu karya yang dibawakan adalah “Sholli Wa Sallim Daiman”, sebuah lantunan pujian dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW. Dengan sentuhan aransemen orkestra, syair tersebut mendapatkan warna musikal yang lebih luas dan menghadirkan pengalaman berbeda bagi penikmat musik religi.


Sementara itu, karya “Jejak Walisongo” membawa pesan sejarah melalui penyebutan sembilan wali yang dikenal memiliki peran penting dalam perjalanan penyebaran Islam di Tanah Jawa, mulai dari Sunan Gresik hingga Sunan Gunung Jati.


Ketika Musik Menjadi Jembatan Sejarah


Perpaduan antara sholawat dan narasi Walisongo membuat pertunjukan ini memiliki dimensi lebih luas. Musik menjadi media untuk memperkenalkan kembali sejarah dan kebudayaan Islam Nusantara, khususnya kepada generasi muda yang hidup di tengah derasnya perkembangan teknologi dan budaya digital.


Kehadiran karya semacam ini juga menunjukkan bahwa tradisi tidak selalu harus disajikan dalam bentuk yang sama. Nilai-nilai keagamaan dan kebudayaan dapat dikemas melalui pendekatan kreatif sehingga tetap memiliki ruang untuk dinikmati masyarakat lintas generasi.


Fenomena “Jejak Walisongo” juga berkembang di ruang digital. Berbagai potongan penampilan dan lantunan religi dengan tema Walisongo beredar di platform seperti YouTube dan TikTok, sehingga memperluas jangkauan musik religi kepada masyarakat di luar ruang-ruang majelis atau kegiatan keagamaan.


Bagi generasi muda, kemasan semacam ini dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal sholawat sekaligus memahami kembali narasi sejarah Islam di Nusantara.


Merawat Tradisi di Tengah Perubahan Zaman


Konser Sholawat Orchestra “Jejak Walisongo” memperlihatkan bagaimana seni musik dapat menjadi ruang pertemuan antara tradisi dan modernitas. Lantunan sholawat tetap membawa pesan religius, sementara orkestrasi memberikan sentuhan musikal yang lebih kontemporer.


Di tengah perubahan selera dan pola konsumsi hiburan masyarakat, kreativitas menjadi salah satu cara agar warisan budaya dan tradisi keagamaan tetap memiliki ruang dalam kehidupan generasi masa kini.


Lebih dari sekadar pertunjukan musik, “Jejak Walisongo” menghadirkan kembali pesan bahwa sejarah, agama, seni, dan budaya dapat berjalan beriringan. Tradisi tidak harus kehilangan jati diri ketika dikemas secara modern, selama nilai-nilai yang menjadi fondasinya tetap dijaga.


Dengan pendekatan tersebut, sholawat tidak hanya hadir sebagai lantunan pujian, tetapi juga sebagai bagian dari perjalanan budaya Nusantara yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.



Penulis: Saladin

×
Berita Terbaru Update