Langsa, Liputan12.com — Aroma masakan dan kesibukan di dapur Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Gampung Paya Bujok Seulemak, Kecamatan Langsa Baro, Kota Langsa, bukan sekadar menjadi bagian dari aktivitas penyediaan makanan bagi masyarakat.
Di balik aktivitas dapur tersebut, ada cerita lain yang ikut tumbuh. Yakni terbukanya kesempatan kerja bagi warga setempat.
Bagi sebagian masyarakat, kehadiran dapur MBG menjadi lebih dari sekadar tempat menyiapkan makanan bergizi. Ia menjadi pintu masuk bagi warga untuk memperoleh penghasilan dan menopang kebutuhan keluarga.
Sejumlah warga mengapresiasi keberadaan dapur MBG tersebut karena program itu dinilai memberikan dampak langsung terhadap kehidupan ekonomi masyarakat di lingkungan sekitar.
Warga yang sebelumnya harus mencari pekerjaan ke tempat lain, kini memiliki kesempatan untuk bekerja tidak jauh dari tempat tinggal mereka.
Penghasilan yang diperoleh pun diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi di tingkat gampong.
“Kami sangat bersyukur dengan adanya dapur MBG di lingkungan kami. Banyak warga yang kini memiliki pekerjaan tetap, sehingga ekonomi keluarga lebih terjamin,” ujar Sayed (56), warga Gampung Paya Bujok Seulemak, Selasa (6/10/2026).
Bukan Sekadar Dapur
Program MBG selama ini dikenal terutama sebagai upaya menyediakan makanan bergizi.
Namun, di tingkat masyarakat, keberadaan dapur pelaksana juga dapat menghadirkan efek ekonomi yang lebih luas.
Ketika sebuah dapur beroperasi, dibutuhkan tenaga untuk berbagai pekerjaan. Mulai dari menyiapkan bahan makanan, memasak, mengemas hingga mendukung proses distribusi.
Rangkaian aktivitas tersebut menciptakan kebutuhan tenaga kerja yang kemudian membuka peluang bagi masyarakat sekitar. Dari sinilah manfaat program MBG mulai terasa dalam kehidupan sehari-hari warga.
Pekerjaan yang tersedia bukan hanya soal mendapatkan upah. Bagi keluarga, penghasilan tersebut berarti kemampuan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, membiayai pendidikan anak, membeli kebutuhan pokok, dan menjaga keberlangsungan kehidupan keluarga.
Dampak ekonomi itu bahkan berpotensi menjalar lebih jauh.
Keberadaan dapur MBG juga dapat menjadi peluang bagi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di lingkungan sekitar.
Aktivitas pekerja yang berlangsung setiap hari menciptakan potensi pasar baru bagi pedagang dan pelaku usaha lokal.
Makanan ringan, minuman maupun berbagai produk kebutuhan sehari-hari yang dijajakan masyarakat berpeluang dibeli oleh para pekerja maupun orang-orang yang beraktivitas di sekitar dapur.
Dengan demikian, satu dapur MBG tidak hanya menghidupkan aktivitas di dalam dapur, tetapi berpotensi ikut menggerakkan usaha-usaha kecil di sekitarnya.
Harapan dari Paya Bujok Seulemak
Bagi warga Paya Bujok Seulemak, manfaat seperti itu menjadi alasan mengapa keberadaan dapur MBG mendapat sambutan positif.
Mereka berharap program tersebut tidak berhenti pada satu lokasi saja.
Semakin banyak dapur MBG yang hadir dan dikelola dengan baik, semakin besar pula peluang masyarakat untuk mendapatkan pekerjaan dan membuka usaha.
“Semoga semakin banyak dapur MBG baru yang tumbuh di gampong-gampong lain. Dengan begitu, lebih banyak warga bisa bekerja, dan UMKM yang menjajakan produk di sekitar dapur MBG pun semakin besar peluangnya untuk berkembang,” tambah Sayed.
Harapan itu menggambarkan wajah lain dari program MBG.
Di satu sisi, program tersebut membawa misi pemenuhan kebutuhan gizi.
Di sisi lain, ketika aktivitasnya melibatkan masyarakat lokal, muncul pula peluang ekonomi yang dapat dirasakan langsung oleh warga.
Dari sebuah dapur sederhana, lapangan pekerjaan tercipta. Dari aktivitas para pekerja, perputaran uang berlangsung.
Dan dari perputaran itu, pelaku UMKM memperoleh peluang untuk menawarkan produknya.
Rantai kecil tersebut dapat menjadi bagian dari penggerak ekonomi masyarakat di tingkat gampong.
Karena itu, bagi warga Paya Bujok Seulemak, dapur MBG bukan hanya tentang makanan yang tersaji di atas meja.
Ia juga tentang pekerjaan, penghasilan, harapan, dan peluang untuk memperbaiki kehidupan keluarga.
Jika keberadaan dapur-dapur MBG di berbagai wilayah mampu terus melibatkan masyarakat setempat dan memberi ruang bagi pelaku usaha lokal, maka program ini berpotensi memiliki manfaat yang lebih luas bukan hanya untuk kesehatan, tetapi juga bagi denyut perekonomian masyarakat. **
Reporter : Sutrisno, Kaperwil Aceh, Liputan12.com
