- -->

Notification

×

Iklan

Iklan

Sedekah Bumi di Desa Dibe, Camat Kalitengah Ajak Warga Mensyukuri Nikmat Tuhan

Rabu, 09 September 2026 | 9/09/2026 09:54:00 PM WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-09T14:54:57Z
Ratusan warga memadati kawasan Makam Mbok Ayu Roro Bojo, Desa Dibe, Kecamatan Kalitengah, Rabu (9/9/2026) malam. Mereka mengikuti Gebyar Sholawat dan Pengajian Umum dalam rangka tradisi tahunan Sedekah Bumi yang digelar sebagai wujud rasa syukur atas limpahan hasil bumi.


Lamongan, Liputan12.com – Tradisi Sedekah Bumi kembali digelar masyarakat Desa Dibe, Kecamatan Kalitengah, Kabupaten Lamongan, Rabu (9/9/2026). Kegiatan yang berlangsung di kawasan Makam Mbok Ayu Roro Bojo tersebut menjadi momentum bagi warga untuk mengungkapkan rasa syukur sekaligus mempererat kebersamaan.


Camat Kalitengah, KH. Khoirul Muksini, S.Pd., M.M., hadir langsung dalam kegiatan tersebut bersama jajaran pemerintahan. Di hadapan masyarakat, ia menyampaikan rasa syukur karena masih diberikan kesempatan untuk bersilaturahmi dan mengikuti tradisi budaya yang hingga kini tetap dijaga masyarakat Desa Dibe.


“Alhamdulillah, saya bersama jajaran pemerintah mengucapkan rasa syukur karena pada kesempatan ini masih bisa bersilaturahmi sekaligus menghadiri tasyakuran Sedekah Bumi. Ini merupakan bentuk rasa syukur atas limpahan nikmat yang Allah SWT berikan,” ujarnya.




Menurut Khoirul, rasa syukur merupakan bagian penting dalam kehidupan bermasyarakat. Ia mengajak warga untuk senantiasa mensyukuri berbagai nikmat, termasuk kekayaan alam dan hasil bumi yang diberikan Tuhan.


“Kita diberikan kekayaan alam yang luar biasa seperti ini. Dengan rasa syukur, insyaallah nikmat akan terus ditambah dan membawa keberkahan,” imbuhnya.


Ia juga menilai Sedekah Bumi tidak sekadar menjadi tradisi tahunan, tetapi memiliki nilai sosial yang kuat. Melalui kegiatan tersebut, masyarakat dapat berbagi makanan dan hasil bumi serta mempererat hubungan antarsesama.


Hal itu terlihat dari tingginya partisipasi warga dalam kegiatan tersebut. Puluhan ekor kambing disembelih sebagai bagian dari rangkaian Sedekah Bumi. Hewan tersebut merupakan hasil swadaya masyarakat, termasuk warga yang berasal dari luar Desa Dibe dan memiliki nazar di Makam Mbok Ayu Roro Bojo.


Sementara itu, Kepala Desa Dibe, Endi Ali, menyampaikan terima kasih atas kehadiran jajaran pemerintah dalam kegiatan Sedekah Bumi tersebut.


Ia mengatakan, tradisi yang dilaksanakan setiap tahun itu merupakan wujud rasa syukur masyarakat atas hasil panen dan berbagai anugerah yang diterima selama setahun. Selain itu, kegiatan tersebut juga menjadi sarana memperkuat kepedulian sosial dan semangat gotong royong.


“Sedekah Bumi merupakan momen yang selalu ditunggu masyarakat Desa Dibe. Kami semua berpartisipasi mempersiapkan kegiatan, mulai dari pengajian, doa bersama di Makam Mbok Ayu Roro Bojo hingga tradisi udik-udikan. Ini adalah cara kami bersyukur sekaligus berbagi dengan sesama,” kata Endi.


Endi menjelaskan, sejumlah kambing dan sapi yang disembelih dalam kegiatan tersebut berasal dari masyarakat Desa Dibe maupun warga dari luar daerah yang memiliki nazar di pesarean Mbok Ayu Roro Bojo.


Daging hewan tersebut kemudian dimasak bersama-sama di halaman makam untuk selanjutnya dibagikan dan dinikmati masyarakat.


Kisah Mbok Ayu Roro Bojo dan Asal-usul Desa Dibe


Tradisi Sedekah Bumi di Desa Dibe juga tidak terlepas dari cerita yang berkembang secara turun-temurun mengenai asal-usul desa tersebut.


Menurut cerita masyarakat setempat, dahulu wilayah tersebut didatangi seorang putri cantik dari Kerajaan Kediri yang dikenal dengan nama Mbok Ayu Roro Bojo. Setelah meninggal dunia, tokoh tersebut juga dikenal masyarakat dengan nama Mbah Karimah.


Makamnya berada di tengah-tengah Desa Dibe dan hingga kini menjadi salah satu tempat yang dianggap memiliki nilai sejarah bagi masyarakat setempat.


Para pengawal dan pengikut Mbok Ayu Roro Bojo disebut menjadi bagian dari cikal bakal berkembangnya masyarakat Desa Dibe. Karena itu, setiap tahun warga menggelar Sedekah Bumi di kawasan pesarean tersebut sebagai bagian dari tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.


“Tradisi Sedekah Bumi bukan hanya soal berbagi hasil panen, tetapi juga tentang kebersamaan dan gotong royong. Masyarakat Desa Dibe bersatu tanpa memandang perbedaan dan saling membantu dalam merayakan acara ini,” papar Endi.


Selain menjadi bentuk rasa syukur dan kepedulian sosial, Sedekah Bumi juga dinilai sebagai sarana untuk menjaga warisan budaya agar tidak tergerus perkembangan zaman.


Generasi muda dilibatkan dalam rangkaian kegiatan sehingga mereka dapat mengenal sejarah, tradisi, serta nilai-nilai kebersamaan yang diwariskan para pendahulu.


“Warga Desa Dibe tidak hanya berbagi hasil panen, tetapi juga berbagi tawa, senyum, dan kebahagiaan. Tradisi Sedekah Bumi menjadi contoh nyata bagaimana nilai kebersamaan, kepedulian dan rasa syukur tetap hidup di tengah masyarakat,” pungkasnya.


Ia berharap tradisi tersebut terus dilestarikan dan menjadi inspirasi bagi masyarakat lainnya untuk menjaga kearifan lokal serta semangat berbagi dan gotong royong.



(Ther)

×
Berita Terbaru Update