- -->

Notification

×

Iklan

Iklan

Muara Buntu, Petani dan Nelayan Sungai Kapas Terpaksa Angkut Hasil Panen Lewat Desa Tetangga

Senin, 28 September 2026 | 9/28/2026 02:23:00 PM WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-28T07:23:03Z
Pendangkalan muara sungai di Dusun 2 Sungai Kapas, Desa Labuhan Pering, Kecamatan Sadu, membuat aktivitas ekonomi warga lumpuh. Nelayan dan petani kelapa serta pinang terpaksa memutar memutar jauh lewat desa tetangga untuk mengangkut hasil panen karena alur utama tertutup endapan lumpur yang mengeras.


Tanjung Jabung Timur, Liputan12.com – Akses ekonomi warga di RT 08 Parit 8, Dusun 2 Sungai Kapas, Desa Labuhan Pering, Kecamatan Sadu, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, terganggu akibat kondisi muara sungai yang mengalami pendangkalan dan tertutup endapan lumpur.


Persoalan tersebut menjadi keluhan warga, terutama nelayan dan petani yang selama ini memanfaatkan alur sungai sebagai jalur utama untuk keluar-masuk membawa hasil tangkapan maupun hasil perkebunan.


Warga menyebut kondisi muara seperti ini kerap terjadi ketika memasuki musim kemarau. Minimnya aliran air dari sungai yang dapat mendorong endapan ke arah laut membuat lumpur yang terbawa gelombang dan air pasang semakin lama semakin menumpuk di kawasan muara.





Endapan yang terus bertambah bahkan disebut mengeras sehingga membuat alur sungai semakin sulit dilalui.


Kondisi tersebut bukan hanya menyulitkan aktivitas nelayan, tetapi juga berdampak terhadap petani kelapa dan pinang. Ketika hasil panen hendak dibawa keluar, sebagian warga terpaksa menggunakan jalur alternatif menuju desa tetangga, termasuk Desa Sungai Cemara yang muaranya masih dapat dilalui.


Situasi itu membuat proses pengangkutan hasil panen menjadi lebih panjang dan berpotensi menambah biaya yang harus dikeluarkan petani. Warga juga mengkhawatirkan kondisi tersebut dapat memengaruhi nilai jual hasil perkebunan mereka.


Sudah Berupaya Secara Swadaya


Persoalan pendangkalan muara sebenarnya telah coba diatasi masyarakat secara mandiri. Warga bahkan bergotong royong mengumpulkan biaya untuk membeli alat penyedot lumpur.


Namun, upaya tersebut belum mampu menyelesaikan persoalan secara menyeluruh.


Lumpur yang telah disedot dan dikeluarkan dari alur muara kembali terbawa oleh air pasang serta gelombang laut. Sementara itu, minimnya dorongan aliran air dari sungai membuat material lumpur kembali mengendap di kawasan muara.


Kondisi tersebut menyebabkan persoalan pendangkalan terus berulang.


Warga berharap persoalan tersebut tidak hanya ditangani secara sementara, tetapi mendapat kajian dan penanganan teknis dari pemerintah maupun instansi terkait. Peninjauan langsung ke lokasi dinilai penting untuk mengetahui penyebab pendangkalan sekaligus menentukan solusi yang sesuai dengan kondisi muara.


Warga Minta Perhatian Pemerintah


Masyarakat Dusun 2 Sungai Kapas berharap pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Timur bersama instansi terkait dapat memberikan perhatian terhadap kondisi tersebut.


Selain menyangkut akses transportasi air, keberadaan muara juga berkaitan erat dengan aktivitas ekonomi warga yang sebagian menggantungkan penghasilan dari sektor perikanan dan perkebunan.


Warga berharap ada langkah nyata untuk mengatasi pendangkalan muara sehingga jalur transportasi air dapat kembali berfungsi secara optimal.


Mereka juga berharap persoalan tersebut dapat menjadi perhatian dalam program pembangunan maupun penanganan infrastruktur wilayah pesisir, sehingga masyarakat tidak terus menghadapi persoalan yang sama setiap memasuki musim kemarau.



(Syam)

×
Berita Terbaru Update