Indonesia, Liputan12.com — Perjalanan sejarah Indonesia tidak dapat dilepaskan dari sosok Jenderal Besar TNI (Purn) HM Soeharto, Presiden Kedua Republik Indonesia yang memimpin pemerintahan selama lebih dari tiga dekade.
Namanya menjadi bagian penting dalam perjalanan bangsa, sekaligus meninggalkan warisan sejarah yang hingga kini masih menjadi bahan kajian, perdebatan, dan refleksi berbagai kalangan.
Dua tanggal menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah tersebut, yakni 21 Mei 1998, ketika Soeharto menyatakan berhenti dari jabatan Presiden Republik Indonesia, dan 27 Januari 2008, ketika Soeharto wafat setelah menjalani perawatan akibat kondisi kesehatannya.
21 Mei 1998, Titik Balik Reformasi
Tanggal 21 Mei 1998 menjadi salah satu titik balik paling penting dalam sejarah politik Indonesia. Setelah berlangsungnya gelombang demonstrasi dan tuntutan reformasi, Soeharto menyatakan berhenti sebagai Presiden Republik Indonesia.
Dalam pidatonya, Soeharto menyampaikan keputusan tersebut dengan menekankan pentingnya reformasi berlangsung secara tertib, damai dan konstitusional demi menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.
«“Saya memutuskan untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden Republik Indonesia.”»
Pernyataan tersebut menandai berakhirnya era Orde Baru dan membuka babak baru perjalanan Indonesia yang kemudian dikenal sebagai era Reformasi.
Peristiwa itu meninggalkan kesan yang berbeda-beda di tengah masyarakat. Sebagian masyarakat mengenang Soeharto atas pembangunan dan stabilitas yang berlangsung selama pemerintahannya. Di sisi lain, kelompok masyarakat sipil dan para korban berbagai peristiwa pada masa Orde Baru mengingat adanya persoalan demokrasi, kebebasan sipil dan dugaan pelanggaran HAM.
Komnas HAM mencatat bahwa masa transisi menuju Reformasi 1998 berkaitan dengan sejumlah peristiwa yang diduga sebagai pelanggaran HAM berat, termasuk Tragedi Trisakti, Semanggi, Kerusuhan Mei 1998 dan penculikan aktivis pro-demokrasi.
Karena itu, 21 Mei 1998 tidak hanya dipandang sebagai tanggal berakhirnya sebuah pemerintahan, tetapi juga sebagai momentum perubahan besar dalam kehidupan politik dan demokrasi Indonesia.
27 Januari 2008, Indonesia Berduka
Hampir satu dekade setelah meninggalkan kursi kepresidenan, HM Soeharto wafat pada 27 Januari 2008.
Kepergiannya kembali menghadirkan suasana duka sekaligus refleksi mengenai perjalanan panjang seorang tokoh yang pernah memegang posisi tertinggi dalam pemerintahan Indonesia.
Pada saat itu, berbagai kalangan memberikan penghormatan kepada Soeharto sebagai mantan Presiden Republik Indonesia dan mengenang pengabdiannya kepada negara. Di tengah suasana duka tersebut, kembali muncul berbagai pandangan mengenai perjalanan politik, pembangunan, serta kontroversi yang menyertai masa pemerintahannya.
Wafatnya Soeharto juga menunjukkan bagaimana seorang tokoh sejarah dapat meninggalkan kenangan yang berbeda-beda bagi masyarakat. Bagi sebagian orang, ia dikenang sebagai pemimpin yang membawa pembangunan dan stabilitas. Bagi sebagian lainnya, masa pemerintahannya juga dikenang melalui berbagai persoalan demokrasi, kebebasan sipil dan dugaan pelanggaran HAM.
Warisan Sejarah yang Beragam
Membicarakan HM Soeharto berarti membicarakan salah satu bagian penting dari sejarah Indonesia modern.
Selama pemerintahannya, pembangunan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, program pertanian dan berbagai kebijakan pembangunan menjadi bagian dari narasi yang sering dikaitkan dengan era Orde Baru.
Namun, pada saat yang sama, sejarah juga mencatat kritik terhadap sentralisasi kekuasaan, pembatasan ruang demokrasi, persoalan korupsi serta berbagai kasus dugaan pelanggaran HAM.
Komnas HAM sendiri telah mendokumentasikan dan mengkaji berbagai persoalan pelanggaran HAM berat masa lalu. Lembaga tersebut juga mencatat bahwa penyelesaian sejumlah kasus masa lalu masih menjadi persoalan yang belum sepenuhnya tuntas.
Dengan demikian, warisan Soeharto tidak sederhana untuk ditempatkan hanya dalam satu sudut pandang. Sejarahnya memiliki berbagai sisi yang perlu dilihat berdasarkan fakta, konteks zaman, serta pengalaman masyarakat yang berbeda-beda.
Sejarah untuk Dipelajari, Bukan Sekadar Diperdebatkan
Perjalanan HM Soeharto menjadi bagian dari sejarah panjang Indonesia yang penting untuk dipelajari secara kritis dan proporsional.
Mengingat sejarah bukan berarti harus mengabaikan kritik. Sebaliknya, mengkritik masa lalu juga tidak berarti seluruh catatan pembangunan dan pengabdian pada masa tersebut harus dihapus dari ingatan bangsa.
Generasi hari ini memiliki kesempatan untuk melihat perjalanan tersebut secara lebih utuh: memahami capaian pembangunan, mencermati persoalan demokrasi dan HAM, serta mengambil pelajaran agar kehidupan berbangsa dan bernegara ke depan semakin baik.
Pada akhirnya, sejarah bukan hanya tentang siapa yang pernah berkuasa, tetapi juga tentang bagaimana sebuah bangsa belajar dari masa lalu untuk menentukan masa depannya.
Bagaimana menurut Anda, Sobat Liputan12?
Apa yang paling Anda ingat dari perjalanan sejarah Indonesia pada masa pemerintahan HM Soeharto hingga lahirnya era Reformasi?
Silakan sampaikan pandangan Anda secara bijak, santun, dan berdasarkan fakta di kolom komentar.
Penulis/Editor: Agus Mandie
