- -->

Notification

×

Iklan

Iklan

Dari Kanvas ke Ruang Pulih Ketika Lukisan Anak Korban Bencana Aceh Tamiang Bicara

Rabu, 30 September 2026 | 9/30/2026 04:45:00 PM WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-30T09:45:28Z
Di antara warna, kuas, dan kanvas di Sin Space Gallery, SCBD Jakarta, Selasa (29/9/2026), anak-anak korban bencana Aceh Tamiang menemukan cara lain untuk bercerita: ketika kata-kata tak mampu mengungkapkan trauma, tangan-tangan kecil itu menuangkannya melalui lukisan.


Aceh Tamiang, Liputan12.com — Ada luka yang tidak terlihat oleh mata. Ia tidak meninggalkan retakan di dinding, tidak membuat jalan terputus, dan tidak selalu tercatat dalam daftar kerusakan akibat bencana.


Namun, luka itu bisa tinggal lama di dalam ingatan anak-anak.


Di antara warna, kuas, dan kanvas, anak-anak korban bencana Aceh Tamiang menemukan cara lain untuk bercerita.


Mereka mungkin belum mampu mengungkapkan seluruh ketakutan dengan kata-kata, tetapi tangan-tangan kecil itu menuangkannya melalui lukisan.


Kisah tersebut kemudian dibawa jauh dari daerah terdampak bencana.


Sebanyak 20 karya lukisan anak-anak SD dan SMP korban bencana dari Kabupaten Aceh Tamiang dan Kota Pariaman dipamerkan dalam kegiatan “Ekraf Peduli” yang digelar Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) di Sin Space Gallery, kawasan SCBD, Jakarta, Selasa (29/9/2026).


Dari 20 lukisan yang dipamerkan, 10 karya merupakan hasil goresan anak-anak Aceh Tamiang.


Pameran itu bukan sekadar memajang karya seni. Di balik setiap kanvas terdapat proses pendampingan terhadap sekitar 200 anak di wilayah terdampak bencana.


Melukis menjadi bagian dari upaya pemulihan psikologis sekaligus membuka ruang bagi anak untuk kembali mengenali dirinya setelah mengalami peristiwa traumatis.


Di tengah deretan lukisan, tersimpan pesan sederhana. Yakni, pemulihan bencana tidak selalu dimulai dari membangun kembali rumah, jalan atau fasilitas umum.


Terkadang, pemulihan harus dimulai dari membangun kembali keberanian seorang anak untuk bermimpi.


Ketika bencana meninggalkan luka yang tak terlihat, Bupati Aceh Tamiang, Irjen Pol. (Purn.) Drs. Armia Fahmi, MH, yang menghadiri pameran tersebut memberikan apresiasi terhadap program terapi seni bagi anak-anak korban bencana.


Menurut Armia, bencana alam tidak hanya menghancurkan bangunan dan fasilitas fisik. Dampaknya juga dapat meninggalkan trauma psikologis, terutama bagi anak-anak.


Karena itu, aktivitas melukis dinilai dapat menjadi ruang positif bagi anak untuk menyalurkan emosi sekaligus mengalihkan perhatian dari pengalaman traumatis.


“Bencana alam itu membuat trauma semua orang. Dengan adanya kegiatan ini, saya sangat setuju dan mengapresiasi tinggi,” ujar Armia.


Ia bahkan mengusulkan agar kegiatan melukis atau terapi seni dapat dimasukkan dalam program pemulihan pascabencana secara nasional.


Bagi Armia, pemulihan tidak cukup hanya dengan membangun kembali apa yang roboh. Anak-anak juga harus dipulihkan secara mental agar memiliki keberanian dan kesiapan untuk kembali menjalani aktivitas, termasuk kembali belajar di sekolah.


“Pendampingan jiwa sangat krusial agar anak-anak memiliki keberanian dan kesiapan mental untuk kembali belajar di sekolah,” katanya.


Sepuluh Janvas dari Aceh Tamiang


Pameran tersebut merupakan bagian dari program Pemulihan dan Rekonstruksi Pascabencana (PRRP) Sumatera.


Dua puluh karya yang dibawa ke Jakarta merupakan karya pilihan hasil proses pembinaan dan pendampingan psikologis.


Sepuluh di antaranya berasal dari anak-anak Aceh Tamiang.


Bagi daerah yang masih menghadapi pekerjaan panjang setelah bencana, kehadiran karya-karya tersebut menjadi semacam pengingat bahwa anak-anak bukan sekadar korban yang harus menerima bantuan.


Mereka juga memiliki kemampuan untuk menciptakan, berekspresi dan bangkit.


Di atas kanvas, pengalaman yang mungkin sulit mereka ceritakan dapat menemukan bentuknya sendiri.


Ada warna. Ada garis. Ada imajinasi. Dan ada keberanian untuk kembali berkarya. Lukisan menjadi bentuk apresiasi.


Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menjelaskan bahwa karya-karya tersebut tidak berhenti sebagai pajangan dalam ruang pamer.


Dua puluh karya yang dipamerkan juga dilelang secara terbuka. Hasil penjualan seluruh lukisan, menurut keterangan Kemenekraf, disalurkan kembali secara utuh kepada anak-anak pembuat karya.


Dengan demikian, kegiatan tersebut tidak hanya membawa pesan pemulihan psikologis, tetapi juga memperkenalkan nilai ekonomi dari kreativitas anak.


Seni yang awalnya menjadi media terapi kemudian berubah menjadi bentuk apresiasi.


Anak-anak tidak hanya didorong untuk pulih, tetapi juga diperlihatkan bahwa karya dan kreativitas mereka memiliki nilai serta layak dihargai.


Dari Trauma Menuju Percaya Diri


Dukungan terhadap pendekatan tersebut juga datang dari pemerintah pusat.


Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar, turut mendorong agar terapi ekspresi seni dapat menjadi bagian dari standar minimum pelayanan pemulihan psikologis di wilayah bencana.


Muhaimin bahkan membeli empat lukisan hasil lelang untuk dipajang di kantor Kemenko Pemberdayaan Masyarakat.


Langkah tersebut menjadi bentuk apresiasi terhadap karya sekaligus simbol penghargaan terhadap daya juang anak-anak korban bencana.


Sementara itu, Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Veronica Tan, menyoroti pentingnya ruang ekspresi bagi anak-anak.


Menurutnya, ruang semacam itu dapat membantu membangun kembali rasa percaya diri anak setelah melewati situasi sulit.


Ia juga mengusulkan agar pameran serupa diperluas ke ruang-ruang publik, termasuk pusat perbelanjaan, sehingga karya anak-anak korban bencana dapat dikenal dan diapresiasi masyarakat secara lebih luas.


Bencana berakhir, tetapi pemulihan membutuhkan waktu.


Bencana mungkin memiliki tanggal kejadian yang jelas. Namun, pemulihan tidak selalu memiliki batas waktu yang sama.


Rumah bisa dibangun kembali. Jalan dapat diperbaiki. Fasilitas umum dapat direhabilitasi. Tetapi rasa takut seorang anak membutuhkan proses yang berbeda.


Karena itu, pameran “Ekraf Peduli” memperlihatkan sisi lain dari pemulihan pascabencana. Yakni, pemulihan manusia.


Kolaborasi Kemenekraf, Kementerian PPPA, Kemenko Pemberdayaan Masyarakat, Pemkab Aceh Tamiang dan Pemkot Pariaman menunjukkan bahwa penanganan pascabencana dapat menyentuh lebih dari sekadar pembangunan fisik.


Ada pendidikan yang harus dipulihkan. Ada kepercayaan diri yang harus dibangun. Ada kreativitas yang perlu diberi ruang. Dan ada luka psikologis yang tidak boleh diabaikan.


Di Jakarta, puluhan kanvas itu akhirnya berbicara. Bukan dengan suara. Melainkan melalui warna.


Dari tangan anak-anak korban bencana, lukisan-lukisan itu membawa pesan sederhana bahwa pulih bukan berarti melupakan apa yang terjadi, tetapi menemukan keberanian untuk kembali melangkah setelahnya. 




Reporter : Sutrisno, Kaperwil Aceh, Liputan12.com

×
Berita Terbaru Update