- -->

Notification

×

Iklan

Iklan

Anak-Anak Wilayah 3T Tulang Bawang Menanti Realisasi Program MBG

Minggu, 27 September 2026 | 9/27/2026 09:38:00 PM WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-27T14:38:53Z
Hingga akhir September 2026, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) belum juga terealisasi di Desa Nibung, Kecamatan Dente Teladas, Kabupaten Tulang Bawang, Lampung. Anak-anak sekolah dasar di wilayah 3T itu masih berangkat sekolah dengan perut kosong, berharap janji pemerataan program pemerintah pusat segera menjangkau pelosok.


Tulang Bawang — Liputan12.com | KabarNegri.id — Harapan terhadap pemerataan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus disuarakan dari wilayah pelosok Kabupaten Tulang Bawang, Lampung.


Di Desa Nibung, Kecamatan Dente Teladas, kondisi geografis dan keterbatasan infrastruktur masih menjadi tantangan dalam kehidupan masyarakat. Jalan tanah merah yang berubah menjadi lumpur saat hujan, jaringan internet yang tidak stabil, serta jarak tempuh yang cukup jauh menuju pusat kecamatan menjadi bagian dari keseharian warga.


Di tengah kondisi tersebut, anak-anak sekolah dasar tetap berupaya mengikuti kegiatan belajar. Sebagian siswa bahkan harus berjalan kaki melewati akses jalan yang sulit untuk sampai ke sekolah dengan bekal yang terbatas.


Program MBG yang menjadi salah satu program pemerintah pusat pun diharapkan dapat segera menjangkau sekolah-sekolah di wilayah tersebut. Namun berdasarkan keterangan pemerintah desa hingga Sabtu (27/9/2026), program tersebut belum terealisasi di sekolah-sekolah Desa Nibung.


Kepala Desa Nibung, Bakhori Muslim, S.Pd., mengatakan kondisi sebagian anak di wilayahnya membutuhkan perhatian, khususnya terkait pemenuhan makanan sebelum mengikuti kegiatan belajar.


"Kondisi anak-anak kami di sini sangat memprihatinkan, Pak. Banyak orang tua yang berangkat ke kebun sejak subuh, jadi anak berangkat sekolah hanya minum air putih. Konsentrasi belajar jelas terganggu," ujar Bakhori saat ditemui di kantor desa, Sabtu.


Menurutnya, kondisi akses jalan juga dapat memengaruhi aktivitas masyarakat, terutama ketika musim hujan. Kesulitan mobilitas dan keterbatasan pasokan bahan pangan menjadi persoalan yang dirasakan warga.


Bakhori berharap pemerintah daerah maupun pemerintah pusat memberikan perhatian terhadap wilayah yang memiliki tantangan akses seperti Desa Nibung.


"Kami tidak minta yang mewah. Kami hanya ingin anak-anak kami bisa merasakan apa yang dirasakan anak-anak di kota, bisa makan bergizi di sekolah. Itu akan sangat membantu tumbuh kembang mereka dan meringankan beban orang tua," katanya.


Ia menegaskan pemerintah desa siap mendukung apabila program MBG nantinya direalisasikan di wilayah tersebut.


"Kami di desa siap mendukung, menyiapkan dapur, relawan, dan tempat jika program ini datang," ujarnya.


Harapan tersebut juga datang dari kalangan pelajar. Sepdian, siswa kelas 5 SD Negeri 1 Nibung, mengaku ingin merasakan program makan bersama di sekolah seperti yang selama ini ia lihat melalui pemberitaan.


"Pingin kayak di TV itu, makan sama-sama di sekolah. Jadi ndak lapar lagi pas pelajaran," ucapnya.


Sementara itu, Zahyak, pemilik salah satu dapur MBG di Tulang Bawang yang hingga kini belum beroperasi, menyatakan kesiapan untuk mendukung penyaluran program tersebut apabila mendapat penugasan.


"Kami memiliki komitmen dan kesiapan untuk mendukung penyaluran MBG hingga ke wilayah yang selama ini belum terjangkau. Dapur kami memang belum aktif beroperasi, tetapi kami siap apabila diberikan kesempatan dan penugasan untuk melayani anak-anak di Desa Nibung dan sekitarnya," ungkapnya.


Zahyak mengatakan tantangan geografis dan akses jalan memang menjadi persoalan tersendiri dalam distribusi makanan. Namun, menurut dia, kondisi tersebut perlu dicarikan solusi agar pemerataan program tetap dapat dilakukan.


"Kami memahami tantangan distribusi di wilayah tersebut tidak mudah, namun bagi kami, jarak dan kondisi jalan bukan alasan untuk membiarkan anak-anak kehilangan kesempatan mendapatkan makanan bergizi," pungkasnya.


Warga Desa Nibung berharap pelaksanaan MBG dapat dilakukan secara merata, termasuk menjangkau sekolah-sekolah di wilayah yang memiliki keterbatasan akses.


Bagi masyarakat di pelosok, realisasi program tersebut bukan sekadar persoalan distribusi makanan, tetapi juga menyangkut harapan agar anak-anak mereka memperoleh kesempatan yang sama untuk belajar dalam kondisi yang lebih baik.



Redaksi 


×
Berita Terbaru Update