Sampang, Liputan12.com — Suasana khidmat, penuh semangat kebangsaan, dan sarat makna mewarnai upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di halaman Pondok Pesantren Miftahul Thullab, Gedangan, Desa Daleman, Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang, Madura, (17 Agustus 2026).
Upacara tersebut menghadirkan pemandangan yang menarik perhatian. Para santri tampil rapi dan kompak dengan mengenakan sarung. Mereka berdiri tegak dalam barisan, mengikuti seluruh rangkaian upacara dengan penuh disiplin dan semangat nasionalisme.
Bagi para santri, sarung bukan sekadar pakaian sehari-hari. Sarung telah menjadi bagian dari identitas dan tradisi pesantren yang mencerminkan kesederhanaan, kesopanan, serta keteguhan dalam memegang nilai-nilai agama dan budaya.
Di momentum kemerdekaan ini, para santri menunjukkan bahwa kesederhanaan tidak menjadi penghalang untuk tampil percaya diri dan berkontribusi bagi bangsa. Justru dari kesederhanaan tersebut terpancar semangat untuk terus belajar, berjuang, dan mengabdi.
Tetap Solid, Pantang Mundur Diterpa Segala Badai
Semangat para santri semakin terasa melalui sebuah ungkapan yang menggambarkan keteguhan mereka dalam menjalani kehidupan sebagai santri.
«“Tetap solid dan bersemangat. Sekalipun diterpa ombak tsunami, angin tornado, dan badai apa pun, kami tetap maju, pantang mundur. Tak gengsi, tak malu, dan saya bangga menjadi santri sarungan.”»
Ungkapan tersebut menjadi gambaran bahwa menjadi santri bukan sesuatu yang harus disembunyikan atau direndahkan. Sebaliknya, status sebagai santri merupakan kebanggaan sekaligus tanggung jawab untuk terus menjaga akhlak, menuntut ilmu, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Ibarat karang yang tetap berdiri kokoh meski diterjang ombak besar, para santri Pondok Pesantren Miftahul Thullab Gedangan bertekad untuk tetap teguh menghadapi berbagai tantangan zaman.
Badai kehidupan boleh datang silih berganti, namun semangat untuk menuntut ilmu, menjaga agama, serta mencintai tanah air tidak boleh surut.
Bangga Menjadi Santri Sarungan
Kalimat “tak gengsi, tak malu menjadi santri sarungan” bukan sekadar ungkapan kebanggaan. Di balik kesederhanaan sarung yang dikenakan, terdapat nilai-nilai luhur tentang kesopanan, kehormatan, dan kesederhanaan.
Sarung menjadi salah satu simbol kuat kehidupan pesantren. Penampilan yang sederhana tidak mengurangi martabat seseorang. Kemuliaan sejati justru tercermin dari akhlak, ilmu, sikap, dan manfaat yang diberikan kepada sesama.
Dalam peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, semangat tersebut menjadi pengingat bahwa mengisi kemerdekaan tidak harus selalu dilakukan dengan hal-hal besar. Belajar dengan sungguh-sungguh, menjaga akhlak, menghormati guru dan orang tua, serta memberikan manfaat bagi masyarakat juga merupakan bagian dari perjuangan.
Para santri pun diharapkan terus menjadi generasi penerus yang mampu memadukan ilmu agama dengan wawasan kebangsaan, sehingga kelak dapat mengambil peran dalam membangun Indonesia yang lebih maju, beradab, dan bermartabat.
Ditutup Doa Bersama Penuh Keharuan
Rangkaian upacara kemudian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin langsung oleh Al-Mukarrom KH. Abdul Wahhab selaku pengurus Pondok Pesantren Gedangan.
Dengan penuh kekhusyukan, doa dipanjatkan kepada Allah SWT agar bangsa Indonesia senantiasa berada dalam lindungan dan keberkahan-Nya.
Doa juga ditujukan bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia agar senantiasa aman, damai, sejahtera, dan menjadi tempat yang nyaman bagi seluruh rakyat.
Selain itu, doa dipanjatkan untuk para ulama, leluhur bangsa, serta para pahlawan kemerdekaan yang telah mendahului. Jasa dan perjuangan mereka diharapkan senantiasa mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT.
Tidak lupa, seluruh santri Pondok Pesantren Gedangan turut didoakan agar kelak menjadi generasi yang saleh, berakhlak mulia, amanah, berilmu, serta mampu memberikan manfaat bagi agama, nusa, dan bangsa.
Semangat para santri sarungan di HUT ke-81 Kemerdekaan RI menjadi pesan sederhana namun kuat: tidak perlu gengsi dengan kesederhanaan, tidak perlu malu menjadi santri, dan tidak boleh mundur menghadapi tantangan.
Dengan ilmu, akhlak, persatuan, dan kecintaan kepada tanah air, para santri diharapkan terus melangkah maju menjadi bagian penting dari masa depan Indonesia.
Merdeka! Merdeka! Merdeka!
Penulis/Editor: Agus Mandie










