- -->

Notification

×

Iklan

Iklan

Kisah Mengharukan Alifah, Bocah Tunanetra 8 Tahun Penghafal 30 Juz Al-Qur’an, Diberangkatkan Umrah Gratis

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 8/29/2026 04:36:00 PM WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-29T09:36:20Z
Keterbatasan penglihatan tidak menghalangi Alifah (8), bocah tunanetra asal Blitar, untuk menghafal 30 juz Al-Qur'an. Ketekunan luar biasa itu mengantarkannya mendapat hadiah istimewa: diberangkatkan umrah gratis oleh Kapolres Blitar, hingga mengalami momen haru yang tak terlupakan di Madinah.


Liputan12.com

Sabtu, 29 Agustus 2026


Blitar/madinah – Kisah Alifah, bocah perempuan berusia delapan tahun asal Blitar yang merupakan penyandang tunanetra sekaligus penghafal 30 juz Al-Qur’an, menyentuh perhatian banyak pihak.


Di tengah keterbatasan penglihatannya, Alifah mampu menghafalkan seluruh Al-Qur’an. Ketekunan dan kecintaannya terhadap Al-Qur’an tersebut kemudian mendapat perhatian dari Kapolres Blitar yang tergerak untuk membantu mewujudkan salah satu impian terbesar Alifah, yakni berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah umrah.


Keberangkatan itu menjadi pengalaman yang sangat berarti bagi Alifah. Namun, perjalanan ke Tanah Suci tersebut juga menyisakan sebuah cerita yang kemudian menjadi perhatian dan mengundang haru.




Tak Bisa Melihat, Alifah Justru Menghafal 30 Juz Al-Qur’an


Sejak usia dini, Alifah menunjukkan ketekunan luar biasa dalam mempelajari dan menghafalkan Al-Qur’an.


Keterbatasan penglihatan tidak menyurutkan semangatnya. Dengan ketekunan, bimbingan keluarga serta dukungan para pendidik, ia mampu menyelesaikan hafalan Al-Qur’an hingga 30 juz.


Kemampuan tersebut menjadi pencapaian luar biasa bagi seorang anak yang masih berusia delapan tahun.


Kisah Alifah sekaligus memperlihatkan bahwa keterbatasan fisik bukan alasan untuk berhenti belajar dan berkarya. Justru dengan dukungan lingkungan dan kesempatan yang diberikan, anak berkebutuhan khusus juga dapat menunjukkan prestasi yang membanggakan.




Kapolres Blitar Wujudkan Impian Alifah ke Tanah Suci


Kisah Alifah kemudian sampai kepada Kapolres Blitar. Tergerak oleh perjuangan dan semangat bocah tersebut, Kapolres Blitar membantu mewujudkan impiannya untuk menunaikan ibadah umrah.


Alifah akhirnya berkesempatan menginjakkan kaki di Tanah Suci bersama rombongan.


Bagi keluarga, perjalanan tersebut bukan sekadar perjalanan ibadah. Umrah itu menjadi pengalaman berharga sekaligus hadiah atas ketekunan Alifah dalam menghafalkan Al-Qur’an.


Pengakuan Alifah Saat Berada di Madinah


Momen yang paling menarik perhatian terjadi ketika Alifah berada di Madinah dan menjalani rangkaian ziarah di sekitar Masjid Nabawi.


Dalam penuturannya, Alifah mengaku mengalami sebuah pengalaman yang menurutnya sangat berkesan.



Dengan kepolosannya, ia mengatakan:


«“Setelah aku masuk ke dalam, aku melihat seorang pria ganteng mengenakan baju putih. Beliau menyambutku dengan salam yang sangat lembut. Setelah itu beliau perlahan menghilang, dan aku kembali menjadi tidak bisa melihat seperti sediakala.”»


Pengakuan tersebut menjadi cerita yang sangat emosional bagi orang-orang yang mendengarnya.


Namun, pengalaman yang disampaikan Alifah tersebut merupakan kesaksian pribadi yang dirasakan dan diceritakan oleh Alifah, sehingga tidak dapat dipastikan secara jurnalistik sebagai peristiwa gaib atau sebagai perjumpaan secara langsung dengan Rasulullah ﷺ.


Bagi keluarga dan orang-orang yang mendampinginya, pengalaman tersebut tetap menjadi bagian yang sangat berkesan dalam perjalanan spiritual Alifah di Tanah Suci.


Bukan Soal Keterbatasan, tetapi Ketekunan


Kisah Alifah memberikan pesan kuat bahwa keterbatasan fisik tidak semestinya menjadi penghalang bagi seorang anak untuk meraih prestasi.


Di usianya yang masih sangat muda, Alifah telah menunjukkan bahwa ketekunan, dukungan keluarga, pendidikan dan lingkungan yang memberikan kesempatan dapat membuka jalan bagi anak berkebutuhan khusus untuk berkembang dan berprestasi.


Kisah ini juga menjadi pengingat bahwa anak-anak penyandang disabilitas membutuhkan ruang, perhatian dan kesempatan yang sama untuk menunjukkan kemampuan mereka.


Kebaikan yang dilakukan Kapolres Blitar dengan membantu keberangkatan Alifah ke Tanah Suci juga menjadi bentuk kepedulian sosial yang patut diapresiasi.


Perjalanan Alifah akhirnya bukan hanya tentang umrah, tetapi juga tentang perjuangan seorang anak kecil menghadapi keterbatasan, kecintaan terhadap Al-Qur’an, serta dukungan orang-orang di sekelilingnya.


Semoga kisah Alifah menjadi inspirasi bagi banyak keluarga untuk terus mendampingi anak-anak mereka, termasuk anak berkebutuhan khusus, agar tidak pernah berhenti belajar, menghafal, berkarya dan mengejar cita-cita.



Penulis/Editor: Agus Mandie – LIPUTAN12.COM

×
Berita Terbaru Update