Sampang, Liputan12.com — Ujian berat terus mendera para petani kacang ijo di Desa Daleman, Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang, Madura. Dalam kurun waktu kurang dari lima bulan, para petani harus menghadapi dua musibah yang sama-sama mengancam hasil pertanian, yakni banjir dan kekeringan, (Kamis 13 Agustus 2026).
Musibah pertama terjadi beberapa bulan lalu ketika tanaman kacang ijo yang sedang dalam masa pertumbuhan terendam banjir akibat tingginya curah hujan. Air menggenangi lahan pertanian dalam waktu cukup lama hingga tanaman membusuk dan mati.
Kondisi tersebut membuat petani kehilangan modal, tenaga, waktu, serta harapan untuk mendapatkan hasil panen. Belum sepenuhnya pulih dari kerugian akibat banjir, para petani kembali menghadapi persoalan pada musim tanam berikutnya.
Kali ini, bukan kelebihan air yang menjadi ancaman, melainkan kekeringan.
Dari Banjir Beralih ke Kekeringan
Kemarau yang datang lebih awal membuat sejumlah lahan pertanian di Desa Daleman kesulitan mendapatkan pasokan air. Hujan yang tak kunjung turun menyebabkan tanah mengering dan sumber air untuk pengairan semakin terbatas.
Tanaman kacang ijo yang baru tumbuh pun perlahan layu akibat kekurangan air. Jika kondisi tersebut terus berlangsung, petani kembali terancam mengalami gagal panen.
Dua kondisi ekstrem tersebut menjadi pukulan berat bagi petani. Saat hujan berlebihan, tanaman terendam. Ketika kemarau datang, air justru sulit didapat.
“Pertama hujan melanda, lalu kemarau membakar. Antara air yang berlebih dan air yang tak ada sama sekali, kami tetap rugi dua kali lipat. Ingin bangkit, namun tanah pun tak memberi jalan,” tutur seorang petani.
Petani Butuh Solusi, Bukan Sekadar Bantuan Sesaat
Para petani kacang ijo Desa Daleman berharap pemerintah memberikan perhatian serius terhadap kondisi yang mereka alami. Mereka membutuhkan solusi jangka panjang agar sektor pertanian tidak terus bergantung pada kondisi cuaca yang semakin sulit diprediksi.
Sejumlah kebutuhan yang diharapkan antara lain pembangunan atau perbaikan sistem pengairan, ketersediaan sumber air, bantuan bibit yang lebih tahan terhadap kondisi iklim ekstrem, serta pendampingan bagi petani dalam menentukan pola dan waktu tanam.
Bagi petani, persoalan tersebut bukan hanya menyangkut gagal panen, tetapi juga keberlangsungan ekonomi keluarga yang bergantung pada hasil pertanian.
Di tengah ancaman perubahan cuaca yang semakin sulit diprediksi, petani Desa Daleman kini kembali menanti perhatian pemerintah. Mereka berharap tidak lagi terjebak dalam siklus bencana—ketika hujan datang membawa banjir dan ketika kemarau tiba membawa kekeringan.
Sebab bagi mereka, yang sedang ditanam bukan sekadar kacang ijo, tetapi juga harapan untuk mempertahankan kehidupan dan memenuhi kebutuhan keluarga.
Penulis/Editor: Agus Mandie




