Blitar, Liputan12.com – Koperasi Merah Putih, yang digagas pemerintah sebagai solusi untuk memperkuat ekonomi rakyat dan menjadi pusat pemasaran produk UMKM, kini menuai kecaman dan kekecewaan mendalam dari warga Kelurahan Bendo, Kota Blitar. Realitas di lapangan yang sangat kontras dengan janji awal terungkap lewat video yang viral di media sosial, memperlihatkan kondisi koperasi yang jauh dari ekspektasi publik.
Dari rekaman yang menyebar luas tersebut, terlihat sejumlah temuan yang mengecewakan dan membuat warga merasa tertipu:
- Rak penyimpanan hampir sepenuhnya kosong: Sebagian besar rak hanya diisi dengan beberapa barang secara seadanya, bahkan terkesan sengaja ditempatkan agar tidak terlihat benar-benar kosong saat ada kunjungan atau pemantauan. Bahkan area depan kasir yang seharusnya menjadi titik fokus penampilan produk, hanya tersisa satu hingga dua jenis barang saja tanpa variasi yang memadai.
- Promosi tidak sesuai dengan kenyataan: Sebelumnya pemerintah dan pengelola mengumumkan adanya promo khusus untuk gas LPG elpiji 3 kg dengan harga bersubsidi sebesar Rp16.000 per tabung. Namun saat dicek langsung oleh warga, tidak ada satu pun tabung gas di lokasi, bahkan tidak ada tanda-tanda bahwa stok pernah tersedia. Promosi digencarkan melalui berbagai saluran, namun tidak diimbangi dengan ketersediaan barang.
- Harga tidak bersaing dan malah lebih mahal: Sebagai koperasi yang seharusnya memberikan keuntungan bagi anggota dan warga dengan harga mirip grosir atau lebih terjangkau, kenyataannya harga barang yang ada di Koperasi Merah Putih Kelurahan Bendo dinilai lebih mahal dibandingkan toko kelontong biasa atau pasar tradisional di sekitar lokasi. Beberapa barang bahkan memiliki selisih harga hingga puluhan ribu rupiah.
- Sistem layanan masih sangat terbatas: Meskipun era digital telah berkembang pesat, pembayaran di koperasi ini hanya bisa dilakukan secara tunai. Belum ada dukungan untuk sistem pembayaran non-tunai seperti transfer bank, e-wallet, atau kartu debit/kredit yang dianggap lebih praktis, aman, dan efisien bagi pelanggan.
Secara konsep awal, Koperasi Merah Putih direncanakan sebagai wadah yang akan menjadi pusat pemasaran hasil produksi UMKM lokal serta penyedia kebutuhan pokok masyarakat dengan harga yang terjangkau dan berkualitas terjamin. Namun kenyataan di lokasi ini menunjukkan kondisi yang sangat berbeda – stok barang minim, variasi produk sangat terbatas, dan harga yang jauh dari harapan warga.
Pembuat video yang memilih untuk tidak menyebutkan identitasnya menutup rekamannya dengan sindiran tajam yang menyentil pengelola dan pihak terkait: “Barangnya saja belum ada dengan baik, jadi bagaimana bisa kita harapkan koperasi ini bisa berjalan dengan baik ke depannya? Silakan kalian nilai sendiri sejauh mana program ini bermanfaat bagi masyarakat.”
Kondisi ini menjadi sorotan publik karena pemerintah telah menetapkan target ambisius untuk membentuk hingga 80.000 unit Koperasi Merah Putih di seluruh desa dan kelurahan di Indonesia. Kasus yang terjadi di Kelurahan Bendo Blitar ini langsung memicu pertanyaan serius dari masyarakat: apakah kondisi serupa juga terjadi di daerah lain yang telah membangun koperasi serupa? Ataukah ini hanya kasus tunggal yang perlu menjadi perhatian khusus?
Warga Kelurahan Bendo beserta sejumlah elemen masyarakat lainnya menuntut agar pemerintah melakukan evaluasi serius dan mendalam terhadap pelaksanaan program Koperasi Merah Putih. Mereka berharap program ini tidak hanya menjadi proyek seremonial atau cuma-cuma semata, tetapi benar-benar berjalan sesuai dengan tujuan awal yang telah diumumkan – yaitu untuk menyejahterakan ekonomi rakyat dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas.
@gusmandie





